MALANG, Suarakata.id – Siang itu, Selasa (27/1/2026), di atas panggung sederhana, berdiri seorang remaja perempuan. Tubuhnya tegak. Wajahnya tenang. Matanya tak melihat dunia. Namun suaranya, membuat dunia terdiam. Dialah Syahputri Mainonara. Usia 15 tahun. Penyandang tunanetra. Siswi binaan Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara (YDKM) Pakisaji.

Begitu bait pertama lagu I Will Always Love You mengalun, suasana berubah.
Hening. Khusyuk. Penuh rasa. Suara Syahputri mengalir jujur. Lembut. Kuat. Menusuk relung hati.

Para tamu undangan terpaku. Sebagian menahan napas. Sebagian lain menyeka air mata. Tak sedikit yang merinding.

Hari itu, peringatan HUT ke-8 YDKM Pakisaji menjelma seperti konser profesional. Namun lebih dari itu.
Ia menjadi panggung harapan. Panggung pembuktian.

Syahputri bukanlah sosok biasa. Ia adalah satu dari 205 anak penyandang disabilitas binaan YDKM Pakisaji. Yayasan yang berada di bawah naungan Koramil 0818/07 Pakisaji.

Meski masih belia, prestasi Syahputri sudah melanglang. Tahun 2024, Juara 3 FLS2N tingkat nasional. Tahun 2025, Juara 2 Tilawah tingkat Provinsi Jawa Timur.

Ibunya, Sunarti, menuturkan dengan mata berbinar. Sejak usia 4 tahun, bakat itu telah menyala. Undangan menyanyi berdatangan. Langkah demi langkah ditempuh dengan doa.

“Dia saya sekolahkan musik. Saya ingin dia mandiri. Saya ingin dia bermimpi,” ucap Sunarti lirih.

Syahputri mengidolakan Putri Ariani. Bukan sekadar mengagumi. Ia ingin mengikuti jejak. Membawa nama Indonesia dengan suara dan ketulusan. Tak hanya olah vokal. Soft skill juga diasah.

Di YDKM, Syahputri ditempa secara emosional. Dikuatkan secara mental.
“Di sini anak saya belajar menerima dirinya. Bahwa kekurangan bukan kelemahan, tapi keistimewaan,” tutur sang ibu.

YDKM Pakisaji tidak hanya sekadar yayasan. Ia adalah rumah. Ia adalah pelukan.

Didirikan oleh Koramil 0818/07 Pakisaji, YDKM menjadi ruang aman bagi anak-anak istimewa. Tempat belajar. Tempat tumbuh. Tempat bebas dari perundungan.

Danramil 0818/07 Pakisaji, Kapten ARH Feri Haryanto, menyebut YDKM sebagai bentuk pengabdian nyata. “Kami ingin mereka merasa dilindungi. Merasa dihargai. Merasa mampu,” tegasnya.

Setiap Senin, Rabu, dan Kamis, ratusan anak disabilitas belajar. Mereka dijemput.
Diantar. Satu per satu. Dengan mobil dinas Koramil. “Mobil dinas saya pun kami gunakan. Ini bentuk tanggung jawab,” ujar Heri.

YDKM lahir dari kepedulian. Berawal tahun 2018. Digagas Babinsa Desa Pakisaji, Letda Tri Joko. Semuanya bermula dari tiga anak penyandang kelumpuhan. Anak seorang pemulung. Tanpa akses pendidikan. Tanpa harapan. Tri Joko tak berpaling. Ia memilih bertindak. Merawat. Menguatkan.

Dukungan pun mengalir. Relawan Mengajar datang. Fasilitas bertambah.
Jumlah siswa meningkat hingga ratusan.

Kini, anak-anak YDKM tak hanya belajar membaca dan berhitung. Mereka membatik. Membuat kerajinan.
Menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Bahkan, batik YDKM telah dipasarkan.
Dari tangan istimewa. Untuk masa depan bermartabat.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Kartika Mutiara, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. Ia menyampaikan rasa bangga mendalam kepada Syahputri. “Syahputri adalah simbol harapan. Bukti bahwa dengan pembinaan, kasih sayang, dan dedikasi, anak disabilitas mampu bersinar,” ungkapnya.

Bukan hanya kepada Syahputri. Namun kepada semua pihak.

“Saya juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para relawan, Babinsa, Koramil, orang tua, dan seluruh pihak yang dengan tulus mendampingi anak-anak istimewa ini,” ungkapnya.

Menurutnya, YDKM adalah bukti nyata kolaborasi kemanusiaan, ketulusan dan pengabdian.

“Ini adalah wajah sejati pengabdian TNI. Dari rakyat. Bersama rakyat. Untuk rakyat,” tegasnya.

Syahputri bernyanyi. YDKM mendampingi. Relawan menguatkan. Dan dari Pakisaji, harapan itu terus bersuara. (*)