BEKASI, Suarakata.id  — Ketika banjir merendam Perumahan Graha Prima dan wilayah sekitarnya pada 18 Januari 2026, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh tidak memilih menjadi sekadar saksi. Ia bergerak. Dari ruang ibadah yang selama ini menjadi pusat spiritual jamaah, lahir sebuah Dapur Umum Masjid yang berfungsi sebagai Dapur Siaga Bencana, melayani kebutuhan pangan warga terdampak banjir tanpa memandang latar belakang.

Sejak pagi hari, dapur masjid mulai beroperasi. Relawan dari unsur DKM, jamaah, dan warga sekitar bergotong royong menyiapkan makanan untuk korban banjir.

Aktivitas itu berlangsung dalam situasi darurat, namun tertata. Ada alur kerja, pembagian peran, hingga pengelolaan logistik yang rapi menunjukkan bahwa masjid tidak hanya hadir secara moral, tetapi juga mampu menjalankan manajemen krisis secara nyata.

Ketua DKM Masjid Jami’ Al-Munawwaroh, Ust Mohamad Miqdad, menyampaikan bahwa beroperasinya dapur umum ini bukan sekadar respons kemanusiaan spontan, melainkan manifestasi iman yang hidup.

“Bagi kami, iman tidak berhenti di mimbar dan sajadah. Iman harus menjelma menjadi tindakan, terutama ketika krisis ekologis seperti banjir ini datang. Masjid harus hadir sebagai ruang aman, ruang solusi, dan ruang penguatan daya tahan masyarakat,” ujarnya.

Banjir yang melanda Graha Prima kembali mengingatkan publik pada krisis ekologi yang kian nyata: tata ruang yang rapuh, perubahan iklim, dan tekanan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan warga.

Dalam konteks inilah, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh menegaskan posisinya sebagai Masjid Ekologis masjid yang memahami bahwa ibadah kepada Tuhan tidak terpisah dari tanggung jawab merawat kehidupan dan lingkungan.

Melalui dapur siaga bencana ini, agama hadir dalam realitas sehari-hari. Ia tidak datang dalam bentuk wacana abstrak, melainkan dalam pelayanan untuk memastikan warga tidak semakin menderita, dalam koordinasi relawan, dan dalam kepedulian yang terorganisir.

Masjid menjadi simpul solidaritas sosial, tempat iman bertemu dengan kerja kolektif.
Warga terdampak pun merasakan langsung kehadiran itu.

Bagi mereka, masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi penyangga kehidupan di saat krisis. Sebuah institusi keagamaan yang mampu bergerak cepat, adaptif, dan berpihak pada keselamatan manusia.

Apa yang dilakukan Masjid Jami’ Al-Munawwaroh menunjukkan bahwa di tengah krisis ekologi, masjid memiliki peran strategis: sebagai pusat spiritual, pusat kemanusiaan, sekaligus pusat manajemen krisis berbasis komunitas.

Dari dapur masjid, pesan itu menguat bahwa agama, ketika dikelola dengan kesadaran ekologis dan sosial, benar-benar hadir dan bekerja dalam denyut kehidupan sehari-hari.