PENULIS : Awaluddin Al Faj’ri
Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
MALANG, 22 Oktober 2025 — Di tengah derasnya arus modernitas, ketika kampus bukan hanya ruang belajar tetapi arena pembentukan karakter, sebuah penelitian kecil namun bermakna muncul dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB).
Penelitian ini tidak bertujuan menemukan teori baru atau teknologi canggih, melainkan sesuatu yang lebih fundamental: sejauh mana etika dan norma sosial masih hidup di antara para mahasiswa.
Penelitian yang melibatkan 15 mahasiswa ini sederhana, tetapi menyentuh titik paling vital dari kehidupan akademik: bagaimana mahasiswa memahami dan menerapkan etika dalam keseharian. Wawancara dilakukan langsung di lingkungan fakultas, menghadirkan potret jujur tentang dinamika perilaku generasi intelektual muda.
Etika Dipahami, Tapi Belum Sepenuhnya Dihidupkan
Mayoritas mahasiswa mengaku memahami bahwa etika adalah fondasi penting dalam kehidupan kampus. Mereka tahu bahwa menjaga sopan santun, menghormati dosen, serta berkomunikasi dengan bahasa yang baik bukan sekadar formalitas melainkan wujud penghargaan terhadap proses akademik.
Mereka juga menegaskan bahwa etika sosial, seperti menghormati perbedaan budaya, suku, ras, gaya bahasa, hingga toleransi antaragama, adalah nilai yang mereka jaga.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa pemahaman tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan. Beberapa pelanggaran masih muncul: candaan bernuansa SARA yang dianggap “hanya bercanda”, perilaku bullying antarmahasiswa yang disamarkan sebagai kedekatan, hingga sikap kurang menghormati dosen seperti sibuk memainkan ponsel saat materi disampaikan.
Dunia kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuh terasa ternodai oleh perilaku kecil yang berdampak besar.
Norma Sosial: Dipatuhi, Tapi Belum Diresapi
Dalam aspek norma sosial, mayoritas mahasiswa cukup patuh terutama terkait toleransi dan keberagaman. Namun, kasus komentar rasis dan tindakan bullying yang masih ditemukan menunjukkan bahwa norma sosial belum sepenuhnya diresapi sebagai kompas perilaku.
Pelanggaran seperti ini bukan hanya melukai kenyamanan, tetapi turut mengganggu kesehatan mental mahasiswa lain. Kampus, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk berkembang, kini mendapat tantangan baru: bagaimana memastikan setiap individu merasa dihargai dan dilindungi.
Saatnya Penguatan Karakter Dilakukan
Temuan penelitian ini memberikan pesan yang jelas: etika dan norma sosial adalah nafas kehidupan kampus. Tanpa keduanya, kecerdasan intelektual akan kehilangan arah, dan lingkungan akademik kehilangan martabat.
Karena itu, penguatan etika perlu dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Tim peneliti merekomendasikan agar fakultas menyelenggarakan seminar, pelatihan, atau program pembinaan terkait etika dan norma sosial termasuk etika digital, yang kini menjadi tantangan terbesar di era modern.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba instan, mahasiswa butuh lebih dari sekadar kemampuan akademis. Mereka membutuhkan karakter yang teguh, perilaku yang arif, dan kesadaran sosial yang kokoh. Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan hal itu.
Menutup Catatan: Etika Adalah Cermin Martabat
Penelitian ini mungkin sederhana, namun pesannya mendalam: bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang mahasiswa pelajari, tetapi juga oleh bagaimana mereka bersikap.
Etika bukan aturan kaku yang mengekang, tetapi cermin martabat yang memantulkan kualitas seorang intelektual. Dan norma sosial bukan beban, melainkan tali pengikat harmoni di tengah keberagaman.
Kini, saat Fakultas Pertanian UB menatap ke depan, satu hal menjadi jelas: membangun manusia berilmu tidak cukup tanpa membangun manusia beretika. Sebab dari kampus yang bermartabat, lahir generasi yang bermakna. (*)


Tinggalkan Balasan