Oleh : Niluh Ketut Ayu Anindya Apsari
Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
MALANG,Suarakata.id – Di tengah modernisasi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, sebuah café di Kota Malang menawarkan konsep yang berbeda dan penuh makna. Café Cerita Spectra bukan hanya tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi ruang inklusi sosial bagi penyandang disabilitas.
Kehadiran café ini membawa harapan baru bagi pemberdayaan kelompok marginal di Indonesia. Café Cerita Spectra lahir dari kepedulian seorang kepala sekolah SLB (Sekolah Luar Biasa) yang ingin menciptakan ruang bagi individu disabilitas dan autisme untuk bersosialisasi, berkarya, dan mandiri secara ekonomi.
Café ini tidak hanya mempekerjakan penyandang disabilitas, tetapi juga menyediakan layanan konsultasi dan pelatihan khusus. Kolaborasi dengan berbagai komunitas dan yayasan, seperti Omah Gembira dan Bolu Legenda, semakin memperkuat komitmen café ini dalam memberdayakan kelompok marginal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat, hanya 0,18% penyandang disabilitas usia produktif yang memiliki pekerjaan tetap. Angka ini menjadi tamparan keras bagi kita semua, sekaligus menjadi pemacu semangat bagi Café Cerita Spectra untuk membuka pintu kesempatan bagi mereka yang seringkali terpinggirkan.
“Saya Senang Bisa Bekerja di Sini” Mas Rio, seorang karyawan tunarungu di Café Cerita Spectra, berbagi pengalamannya: “Saya senang dapat bekerja di lingkungan yang memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas.” Walau menghadapi tantangan komunikasi, Rio merasa diterima dan diperlakukan sama seperti karyawan lain. Kisah Rio adalah salah satu contoh harapan yang tumbuh di café ini.
Salah satu tantanganSalah satu tantangan utama dalam menciptakan inklusi adalah komunikasi. Café Cerita Spectra mengatasi hal ini dengan beberapa cara, seperti memberikan pelatihan bahasa isyarat untuk karyawan non-disabilitas, menggunakan visual dan teks dalam sistem pemesanan, serta menciptakan lingkungan yang sabar dan memahami kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Café Cerita Spectra tidak selalu mulus. Tantangan komunikasi, terutama bagi karyawan tunarungu, menjadi salah satu kendala utama. Ketiadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) juga menjadi hambatan dalam rapat atau pelatihan. Selain itu, jangkauan promosi café yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, berikut beberapa solusi dan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan: Menyediakan layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) secara rutin, melatih seluruh karyawan dalam bahasa isyarat, mengembangkan sistem pemesanan yang lebih inklusif dengan fitur teks atau visual, memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk promosi yang lebih efektif.
Café Cerita Spectra adalah contoh nyata bahwa bisnis bisa menjadi agen perubahan sosial. Dengan mengutamakan inklusi, bisnis tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat.
Mari kita dukung Café Cerita Spectra dan bisnis inklusif lainnya. Dengan berbelanja, mendukung, dan menyebarkan informasi, kita bisa bersama-sama menciptakan masyarakat yang lebih adil, setara, dan inklusif.
Café Cerita Spectra membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar tren, tetapi juga investasi sosial yang berkelanjutan. Semoga kisah sukses ini menginspirasi kita untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif bagi semua. (*)


Tinggalkan Balasan