KUTAI BARAT, Suarakata.id — Awan tipis menggantung di atas Desa Siluq Ngurai ketika rombongan kendaraan hijau tua memasuki kawasan Borneo Integrated Farming Area (BIFA). Hamparan 1.400 hektare yang dikelola Brigif TP 85/BTC itu kembali menjadi titik singgah para pemimpin TNI AD.

Pagi itu, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri Letjen TNI Iwan Setiawan datang bersama Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha. Kedatangan mereka melakukan kunjungan kerja Ia pun ikut menanam padi gogo komoditas yang kian menjadi tumpuan di lahan kering pedalaman.

Kawasan yang sebelumnya hanya disinggahi angin dan sisa jejak perladangan ini, perlahan berubah menjadi ruang besar uji coba pembangunan pangan.

BIFA menggabungkan pertanian, peternakan, dan kehutanan sosial dalam satu sistem. Sebuah konsep yang hendak menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tak selalu harus lahir dari lahan luas bersawah air.

Kegiatan dimulai dengan doa singkat, lalu rombongan berjalan kaki meninjau petak-petak lahan. Di sisi kanan, terhampar ladang padi gogo yang baru diolah. Di sisi lain, kandang-kandang ternak berdiri dalam pola berbaris.

Turut mendampingi, sejumlah pejabat: Danpusdikif Brigjen TNI Zaiful Rakhman, Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul, Asops Kasdam Kolonel Inf Totok Prio Kismanto, serta Danbrigif TP 85/BTC Kolonel Inf Alzaki.

Dari pemerintah daerah hadir Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Barat Dr. Rion, unsur inspektorat, tokoh adat, perwakilan perusahaan, hingga kelompok tani Sukses Bersama.

Formasi ini memberi gambaran jelas bahwa sinergi yang dibentuk bukan sekadar antar-instansi, melainkan jaringan kepentingan yang bertemu pada satu titik: menjaga pangan tetap tersedia.

Bibit Padi dan Pesan Komitmen

Di sebuah petak kecil yang telah disiapkan, Danpussenif menancapkan bibit padi pertamanya. Tanah kering yang ditaburi hujan semalam tampak mudah merekah. Pangdam VI menyusul, lalu para pejabat dan petani ikut meramaikan barisan.

Tak ada upacara berlebihan. Hanya suara tanah yang dipecah dan percakapan pendek yang bersahut. Namun dari kegiatan sederhana itu lahir pesan besar: ketahanan pangan bukan tugas tambahan, tetapi bagian dari strategi mempertahankan stabilitas wilayah.

“TNI AD hadir tidak hanya untuk operasi militer, tetapi juga untuk pekerjaan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” ujar salah seorang pejabat di sela kegiatan.

BIFA 1.400 hektare sedang menjalani fase penting. Kawasan ini menjadi contoh bagaimana lahan tidur dapat digerakkan kembali melalui integrasi berbagai komoditas. Di sini, padi gogo tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan jalur peternakan dan kebun campuran yang dikelola prajurit bersama petani.

Konsep ini memungkinkan peningkatan produktivitas sembari mengurangi risiko gagal tanam. Jika padi tak berhasil, pendapatan bisa bertumpu pada ternak atau komoditas lain. Sistem terintegrasi semacam ini menjadi relevan di tengah tantangan iklim dan keterbatasan aliran air di pedalaman Kalimantan.

Tidak heran bila kawasan ini mulai sering didatangi. Ia menjadi semacam ruang belajar bersama bagi militer, petani, maupun pemerintah daerah.

Berlanjut ke Markas Brigif

Sekitar pukul 10.25 WITA, rangkaian kegiatan usai. Rombongan kemudian bertolak ke Markas Brigif TP 85/BTC. Di sana, Danpussenif memberikan pengarahan kepada prajurit. Nada yang dibawa tidak melulu soal tugas tempur, tetapi juga mengenai bagaimana satuan infanteri dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Kunjungan Danpussenif ke BIFA memberi penegasan: lumbung pangan tidak hanya soal produksi, tetapi soal konsistensi menjaga kerja sama antara militer, pemerintah daerah, petani, dan dunia usaha.

Di Siluq Ngurai, bibit yang ditanam hari itu mungkin hanya menambal sebagian kecil kebutuhan pangan Kalimantan. Namun di balik penanaman itu, ada upaya lebih besar: menyiapkan model pembangunan pangan yang bisa direplikasi di kawasan lain.

Seperti tanah yang merekah ketika bibit ditancap, BIFA 1.400 hektare perlahan membuka kemungkinan baru. Bahwa pembangunan pangan bisa lahir dari pinggir sungai, dari kaki prajurit, dan dari tangan petani yang tak pernah berhenti mencoba. (*).