MADURA, Suarakata.id — Angin baru berembus dari kantor Bea Cukai Madura. Sejak Novian Dermawan menjabat sebagai kepala, wajah institusi ini berubah. Tak lagi kaku dan berjarak. Kini, terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada masyarakat.
Di tengah sistem birokrasi yang seringkali dianggap lambat dan eksklusif, Novian justru hadir membawa semangat keterbukaan. Ia rajin turun langsung ke lapangan. Menyapa pelaku usaha. Berdialog dengan media. Berdiskusi dengan petani dan aparat desa.
“Saya tidak ingin hanya duduk di balik meja,” ujarnya dalam sebuah forum di Sumenep, Jumat (19/7/2025). Kalimat itu bukan retorika. Ia benar-benar bergerak.
Hari itu, Novian hadir dalam diskusi bertema “Memperkuat Sinergi Pemerintah, Bea Cukai, dan Pers dalam Mendorong Legalitas Usaha Rokok Lokal”. Acara ini digagas oleh Forum Pimpinan Asosiasi Media (Forpam) dan mendapat sambutan hangat dari para pelaku usaha rokok lokal.
Ini bukan forum biasa. Diskusi berlangsung hidup. Penuh gagasan. Ada semangat untuk memperbaiki, bukan menghukum.
Novian menyampaikan satu pesan penting: “Negara tidak hadir untuk menutup usaha rakyat. Tapi untuk membimbing, agar mereka bisa tumbuh secara legal dan sehat.”
Madura memang bukan kawasan biasa. Tembakaunya dikenal unggul. Jawa Timur, tempat Madura berada, menyumbang cukai rokok tertinggi secara nasional. Tapi potensi itu bisa runtuh jika pendekatannya hanya bersifat koersif dan represif.
Karena itulah, pendekatan Novian jadi penting. Ia tak memilih jalur kekuasaan semata. Ia merangkul. Ia mengajak. Ia membangun sinergi dengan semua pihak: dari Polres hingga Kodim, dari Kejaksaan hingga Lapas.
Kerja sama ini tak hanya soal patroli dan penindakan. Tapi juga soal edukasi. Membangun kesadaran. Menyebarkan informasi. Supaya masyarakat tahu mana yang legal, mana yang melanggar.
“Kami ingin menciptakan sistem yang bukan hanya tegas, tapi juga adil dan solutif,” kata Novian.
Di tengah tantangan pengawasan cukai yang kompleks, ia melihat pentingnya membangun kepercayaan publik. Ia pun mendukung penuh kehadiran paguyuban rokok lokal dan komunitas media.
“Komunikasi adalah kunci. Tanpa komunikasi yang baik, kebijakan pemerintah mudah disalahpahami,” tuturnya.
Salah satu pernyataannya bahkan cukup menggetarkan. “Di Sumenep saya melihat kekompakan yang belum saya temui bahkan ketika bertugas sejauh Papua.” Ucapan itu bukan basa-basi. Tapi penanda bahwa Madura memiliki potensi besar asal diberi ruang untuk tumbuh dengan pendampingan yang tepat.
Komitmen integritas juga jadi pijakan utama Novian. Dalam beberapa kesempatan, ia aktif menandatangani Pakta Integritas bersama jajaran Bea Cukai Jawa Timur. Ia ingin memastikan bahwa reformasi birokrasi bukan hanya slogan. Tapi komitmen nyata. Dijalankan dari atas, hingga ke bawah.
Zona Integritas yang dicanangkannya bukan sekadar formalitas. Tapi jalan panjang menuju institusi yang bersih, profesional, dan dipercaya rakyat.
Dengan gaya kepemimpinan yang terbuka, humanis, dan kolaboratif, Novian Dermawan menunjukkan bahwa Bea Cukai bukan hanya penjaga regulasi. Tapi juga mitra transformasi. Yang peduli. Yang mendengar. Yang hadir dalam bentuk negara yang mengayomi.
Di bawah komandonya, Bea Cukai Madura tidak hanya bertugas mengawasi rokok ilegal. Tapi juga membina ekosistem usaha rakyat agar tumbuh menjadi industri legal yang mandiri, sehat, dan berdaya saing.
Inilah wajah baru Bea Cukai Madura: lebih hangat, lebih dekat, dan lebih berpihak. Sebuah lompatan yang patut dicatat sebagai bagian dari transformasi birokrasi yang bermakna. Bukan sekadar soal regulasi, tapi soal keberpihakan pada masa depan rakyat kecil Madura. (*)


Tinggalkan Balasan