MADURA,Suarakata.id  — “Semua aktivitas sehari-hari melalui jembatan bambu tersebut.” Pak Marmo mengatakannya dengan sederhana. Namun bagi warga Desa Palo’lo’an, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, jembatan itu punya arti lebih dari sekadar penghubung.

Anak-anak melewatinya untuk berangkat sekolah. Petani menggunakannya menuju ladang dan sawah. Hasil pertanian juga dibawa melintasi jembatan tersebut.

Hampir semua aktivitas warga bergantung pada jalur itu. Persoalannya, jembatan yang selama ini digunakan terbuat dari kayu dan bambu. Ketika kondisinya rusak, warga harus mencari jalan lain. Perjalanan menjadi lebih jauh dan waktu tempuh bertambah.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya soal jembatan, tetapi bagi warga Palo’lo’an, itu menyangkut aktivitas sehari-hari.

Kini, kondisi tersebut perlahan berubah. Jembatan Kadhempol akan dibangun menjadi jembatan beton melalui program Bakti TNI AD untuk Rakyat Tahun 2026.

“Semoga setelah selesainya pembangunan jembatan beton ini membuat perjalanan efektif, lancar dan lebih aman,” kata Pak Marmo belum lama ini.

Harapan itu mulai diwujudkan. Babinsa Koramil 0827/16 Gapura, Koptu Lucky Vecky Tania, bersama warga turun membersihkan lokasi pembangunan.

Pembersihan menjadi tahap awal sebelum pekerjaan penggalian dan pembangunan pondasi dimulai.

Warga pun ikut terlibat. Mereka membersihkan lokasi, menyiapkan area pembangunan, dan bekerja bersama prajurit TNI.

Tidak ada jarak yang terlihat antara prajurit dan masyarakat. Di lokasi itu, kebutuhan warga menjadi pekerjaan bersama.

Dari jembatan itulah cerita Bakti TNI AD di Madura dimulai. Bukan semata tentang beton, kayu atau bangunan. Melainkan tentang akses yang selama ini dibutuhkan warga.

Dari Jembatan ke Air Bersih

Beranjak ke Pulau Raas, persoalan yang dihadapi masyarakat berbeda. Bukan jembatan, melainkan air bersih.

Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, air menjadi kebutuhan yang tidak selalu mudah diperoleh. Kondisi geografis membuat sebagian wilayah menghadapi kekeringan dan keterbatasan sumber air.

Karena itu, pengeboran sumur menjadi salah satu sasaran Bakti TNI AD Tahun 2026. Pengeboran dimulai pada 22 Juli 2026 di Desa Poteran, Kecamatan/Kepulauan Raas.

Harapannya tidak muluk. Warga membutuhkan sumber air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Komandan Kodim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada, mengatakan kebutuhan air bersih menjadi salah satu perhatian dalam menentukan sasaran program.

“Program Bakti TNI 2026 berupa sumur bor di Pulau Raas ini menjadi bukti bahwa pemerataan pembangunan tidak hanya difokuskan di daratan Madura,” ujarnya.

Jika sumber air ditemukan dan dapat dimanfaatkan, sambungnya, manfaatnya akan langsung dirasakan warga. Terutama perempuan dan anak-anak yang selama ini ikut membantu mencari air.

Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari air dapat digunakan untuk kegiatan lain. Anak-anak bisa belajar. Orang tua bisa bekerja. Keluarga memiliki lebih banyak waktu untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Air bersih akhirnya tidak sekadar persoalan kebutuhan dasar. Ada waktu dan tenaga warga yang ikut dipertaruhkan di dalamnya.

Rumah yang Kembali Membuat Tenang

Di Sampang, Bakti TNI AD hadir melalui sebuah rumah. Rumah itu milik Maryam, warga Dusun Kapasan, Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan.

Sebelum diperbaiki, atap rumah Maryam bocor. Sejumlah bagian bangunan juga sudah tidak layak. Kini, prajurit TNI bersama masyarakat memperbaikinya.

Bagi Maryam, rumah yang lebih layak tidak hanya sekadar perubahan fisik. Ada rasa aman yang kembali.

“Kini ada ruang yang lebih layak untuk berkumpul bersama keluarga,” ujarnya dengan mata berbinar.

Program renovasi rumah tidak layak huni di Madura menargetkan 400 rumah beserta fasilitas MCK. Angka itu memang terlihat besar.

Namun jika melihat satu per satu rumah yang diperbaiki, angka tersebut berubah menjadi cerita tentang keluarga. Tentang tempat tinggal yang sebelumnya kurang layak. Tentang rasa khawatir ketika hujan turun. Dan tentang keinginan sederhana untuk memiliki rumah yang aman bagi keluarga.

Sekolah untuk Menjaga Cita-cita

Di Desa Tlomar, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, yang diperbaiki bukan rumah maupun jembatan. Yang disentuh adalah ruang belajar anak-anak.

SDN Tlomar 2 direhabilitasi personel Kodim 0829/Bangkalan bersama masyarakat.

Pekerjaan dimulai dari plafon. Lantai dirapikan dan keramik dibenahi. Prajurit dan warga bekerja bersama. Sesekali terdengar percakapan dan canda di sela pekerjaan.

Bagi orang dewasa, pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi anak-anak sekolah, ruang kelas yang lebih aman dan nyaman akan menjadi tempat mereka menghabiskan sebagian waktunya.

“Anak-anak tentu lebih senang belajar di ruang kelas yang bersih dan aman. Kami berterima kasih karena sekolah mendapat perhatian melalui program Bakti TNI AD ini,” ujar seorang guru SDN Tlomar 2.

Di ruangan itu, anak-anak belajar membaca, berhitung, mengenal dunia, dan perlahan menyusun cita-cita.

Tidak semua bantuan berbentuk bangunan. Bakti TNI AD juga menyasar warga yang membutuhkan dukungan untuk kembali beraktivitas. Di antaranya melalui bantuan kursi roda dan kaki palsu.

Bentuk bantuannya memang tidak sebesar pembangunan jembatan atau renovasi rumah. Namun bagi penerimanya, manfaatnya bisa sangat berarti.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan TNI AD. Bantuan ini sangat membantu. Kursi roda ini akan memudahkan saya beraktivitas dan tidak selalu bergantung kepada keluarga,” ujar salah seorang penerima bantuan.

Kursi roda itu bukan sekadar alat bantu. Bagi penerimanya, ada kesempatan untuk bergerak lebih leluasa. Bertemu dengan orang lain. Melakukan aktivitas sehari-hari. Dan, sejauh memungkinkan, kembali menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Yang Dibangun Bukan Hanya Fasilitas

Bakti TNI AD untuk rakyat di Madura berlangsung selama dua bulan, mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026.

Program tersebut menyasar empat kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Sasarannya cukup luas. Sebanyak 33 jembatan dibangun. Ada 52 sumur bor, 400 rumah tidak layak huni yang direnovasi, serta 12 sekolah yang direhabilitasi.

Selain itu, 20 rumah ibadah dibangun atau dipugar dan empat panti asuhan mendapat dukungan.

Program juga mencakup operasi katarak dan bibir sumbing, khitanan massal, donor darah, pemeriksaan kesehatan, bantuan mesin irigasi, penanaman 2.000 pohon trembesi, serta bantuan kaki palsu dan kursi roda.

Tetapi angka-angka tersebut hanya menjadi bagian dari cerita. Satu jembatan berarti akses sekolah dan jalan menuju sawah bagi warga. Satu sumur berarti sumber air bagi keluarga.

Satu rumah yang diperbaiki berarti tempat tinggal yang lebih aman. Satu ruang kelas yang dibenahi berarti tempat anak-anak belajar dengan lebih nyaman.

Dan satu kursi roda bisa berarti kesempatan bagi seseorang untuk kembali bergerak tanpa selalu bergantung kepada orang lain.

Karena itu, keberhasilan program tidak berhenti pada berapa banyak bangunan yang selesai. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pembangunan itu selesai.

Dari Rakyat, Kembali kepada Rakyat

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., menyebut Bakti TNI AD untuk rakyat di Madura sebagai bentuk pengabdian untuk membantu pemerintah mengatasi kesulitan masyarakat.

Di lapangan, pernyataan itu terlihat dalam pekerjaan yang dilakukan bersama. Prajurit turun ke lokasi. Warga ikut bekerja. Babinsa melihat persoalan masyarakat dari dekat. Pemerintah daerah memberikan dukungan.

Semua bertemu pada satu kepentingan: kebutuhan masyarakat. Bupati Bangkalan Lukman Hakim menilai keterlibatan TNI AD membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan pembangunan, terutama di wilayah yang membutuhkan dukungan lebih besar.

Bagi masyarakat, kehadiran prajurit tidak hanya ketika pembangunan dimulai. Mereka ikut berada di tengah warga, mengerjakan apa yang memang dibutuhkan.

Di situlah gotong royong kembali menemukan tempatnya. Setelah prajurit pulang suatu saat, pekerjaan akan selesai. Prajurit akan kembali ke satuannya. Namun jembatan tetap digunakan.

Anak-anak tetap melintasinya menuju sekolah. Petani tetap menggunakannya menuju sawah. Warga tetap membawa hasil pertanian melalui jalur tersebut.

Sumur akan terus digunakan. Rumah yang telah diperbaiki akan kembali menjadi tempat keluarga beristirahat. Ruang kelas akan dipenuhi suara anak-anak.

Kursi roda akan terus membantu pemiliknya bergerak. Pohon-pohon trembesi yang ditanam akan tumbuh perlahan.

Di situlah keberhasilan Bakti TNI AD benar-benar diuji. Bukan ketika pekerjaan selesai atau seremoni berakhir. Tetapi ketika manfaatnya masih dirasakan masyarakat.

Pak Marmo mungkin tidak berbicara panjang tentang pembangunan. Ia hanya bercerita tentang sebuah jembatan. Tentang anak-anak yang harus sekolah. Tentang petani yang harus menuju sawah. Tentang aktivitas warga yang selama ini bergantung pada jalur sederhana itu.

Namun dari cerita sederhana tersebut, terlihat bahwa pembangunan sering kali dimulai dari kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan.

Sebuah jembatan yang lebih aman. Sumber air yang mudah dijangkau. Rumah yang tidak lagi bocor. Ruang kelas yang lebih nyaman. Atau kursi roda yang membuat seseorang kembali bisa bergerak.

Hal-hal itu mungkin terlihat kecil jika hanya dilihat dari angka. Tetapi bagi warga yang menggunakannya setiap hari, manfaatnya jauh lebih besar.

Bakti TNI AD di Madura pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dibangun. Lebih dari itu, tentang apa yang berubah setelahnya.

Tentang akses yang menjadi lebih mudah. Tentang waktu yang tidak lagi banyak terbuang. Tentang rasa aman yang kembali. Tentang anak-anak yang bisa belajar dengan lebih nyaman. Dan tentang gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.

Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari sebuah jembatan sederhana yang akhirnya membuat jalan pulang terasa lebih dekat. (Sarifah Latowa)