Catatan Perjalanan Eropa (1)

Oleh : Sarifah Latowa 

Paris selalu hadir dalam imajinasi banyak orang. Menara Eiffel. Sungai Seine. Museum Louvre. Kafe-kafe kecil di sudut jalan.

Namun, perjalanan ini mengajarkan satu hal. Paris ternyata tidak hanya sekadar tujuan. Ada cerita yang sudah dimulai jauh sebelum pesawat mendarat di kota itu.

Selasa, 22 Juli 2026, pukul 17.00. Saya meninggalkan Bandara Juanda, Surabaya, menggunakan pesawat Garuda Indonesia menuju Jakarta. Langkah pertama itu terasa biasa saja. Tetapi saya tahu, ribuan kilometer di depan, sebuah pengalaman baru sedang menunggu.

Jakarta hanya menjadi tempat singgah. Karena penerbangan menuju Paris baru berangkat keesokan paginya, saya menghabiskan malam di sebuah hotel kapsul di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Ruangannya sederhana. Sunyi. Cukup untuk beristirahat sebelum menghadapi perjalanan yang jauh lebih panjang.

Keesokan harinya, Kamis, 23 Juli 2026, pukul 09.00, perjalanan kembali dimulai. Pesawat Qatar Airways membawa saya menuju Doha, Qatar. Dari sana, penerbangan dilanjutkan ke Paris. Hampir 16 jam berada di udara.

Perjalanan sejauh itu ternyata tidak hanya memindahkan tubuh dari satu benua ke benua lain. Ia juga mempertemukan saya dengan banyak cerita.

Di ruang tunggu bandara, di lorong pesawat, hingga antrean pemeriksaan imigrasi, saya bertemu orang-orang dari berbagai negara. Bahasa mereka berbeda. Cara berpakaian berbeda. Budaya mereka pun berbeda.

Ada yang bepergian bersama keluarga, ada yang membawa tas ransel seorang diri, ada pula yang tampak begitu akrab dengan perjalanan lintas negara.

Kami mungkin tidak saling mengenal. Namun, untuk beberapa saat, kami berada di perjalanan yang sama.

Perjalanan ini juga menjadi pengalaman pertama saya bepergian seorang diri ke luar negeri.

Sebelum berangkat, banyak pertanyaan muncul di kepala. Bagaimana jika tersesat? Bagaimana jika salah membaca petunjuk? Bagaimana jika kemampuan bahasa Inggris saya tidak cukup?

Semua pertanyaan itu perlahan hilang ketika perjalanan benar-benar dimulai.

Teknologi membuat semuanya jauh lebih mudah. Tiket tersimpan di telepon genggam. Peta digital menunjukkan arah. Aplikasi penerjemah membantu memahami bahasa yang asing. Selama paspor, visa, uang saku dan dokumen perjalanan telah dipersiapkan dengan baik, sisanya adalah keberanian untuk terus melangkah.

Saya semakin yakin bahwa bepergian ke luar negeri sendirian tidak sesulit yang sering dibayangkan.

“Sering kali yang membuat kita ragu bukan medan yang akan ditempuh, melainkan bayangan yang kita ciptakan sendiri sebelum berangkat.”

Akhirnya, pesawat mendarat di Paris pukul 21.10 waktu setempat.

Saya menatap keluar jendela. Jam menunjukkan malam. Namun langit masih terang. Matahari belum benar-benar tenggelam. Cahayanya mengingatkan saya pada suasana pukul empat sore di Indonesia.

Orang-orang masih berjalan santai. Kendaraan lalu-lalang seperti hari belum ingin berakhir.

Pemandangan sederhana itu menjadi sapaan pertama dari Paris.

Saya sadar, perjalanan ini tidak hanya tentang berpindah tempat. Ini tentang membuka diri terhadap pengalaman baru, tentang belajar percaya pada kemampuan sendiri, dan tentang menyadari bahwa dunia ternyata tidak sejauh yang selama ini saya bayangkan.

Paris hanyalah awal. Masih ada cerita tentang kereta bawah tanah yang membingungkan, keramahan orang-orang yang saya temui, hingga sudut-sudut kota yang menyimpan kisahnya sendiri.

Bersambung…

Catatan perjalanan berikutnya akan mengajak pembaca menelusuri hari pertama di Paris. Tentang langkah-langkah pertama keluar dari bandara, mencari transportasi menuju hotel, hingga kesan awal menjelajahi kota yang selama ini hanya saya lihat lewat buku dan layar kaca. Nantikan kisah selanjutnya!