JAKARTA,Suarakata.id  – Ancaman terhadap pertahanan negara tidak lagi terbatas pada kekuatan militer dan konflik bersenjata. Perubahan iklim, ketergantungan teknologi, hingga risiko pandemi turut memengaruhi ketahanan nasional. Tantangan yang semakin beragam itu menuntut Indonesia membangun sistem pertahanan yang terintegrasi dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis.

Persoalan tersebut menjadi pokok pembahasan International Doctoral Talk Series (IDTS) yang diselenggarakan Program Doktoral Ilmu Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford, Inggris, Minggu, 25 Oktober 2026. 

Forum yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting itu mengangkat tema “Arsitektur Sistem Pertahanan Negara Terintegrasi dalam Menghadapi Tekanan Geopolitik, Geoekonomi, dan Ancaman Nonmiliter”.

Kegiatan ini menjadi kolaborasi perdana kedua institusi. Melalui forum tersebut, akademisi dan peneliti membahas bagaimana Indonesia dapat memperkuat pertahanan nasional di tengah perubahan geopolitik dan geoekonomi, sekaligus mengantisipasi ancaman nonmiliter yang berpotensi mengganggu stabilitas negara.

Direktur Pascasarjana Unhan RI, Mayjen TNI Dr. Mitro Prihantoro, S.A.P., M.Sc., yang diwakili Marsma TNI Dr. Samsul Bahari, M.Bus., berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan. 

Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi jejaring akademik yang lebih luas, penelitian bersama, serta publikasi ilmiah di tingkat internasional.

Harapan itu sejalan dengan pandangan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. Agus Mochamad Ramdhan, S.T., M.T., Ph.D. Ia menekankan pentingnya riset strategis untuk mendukung kemandirian pertahanan nasional. 

Penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan negara menghadapi perubahan lingkungan keamanan.

Ketua PPI Oxford, dr. Thareq Barasabha, S.Ked., M.T., juga berharap kerja sama tersebut berlanjut melalui kegiatan akademik dan penelitian berikutnya. Keterlibatan pelajar Indonesia di luar negeri dinilai membuka ruang pertukaran pengetahuan yang dapat memperkaya kajian pertahanan nasional.

Tiga isu strategis

Diskusi menghadirkan enam narasumber, yakni Umar Hasbullah, Andi Fahrurrozi, Anita Puspitasari, Dr. Phil. Lazuardi P., Kris Adi Astra, dan Tina Kusumaningrum. 

Mereka membahas tiga bidang yang memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan negara, yaitu ekosistem inovasi dan transfer teknologi pertahanan, keamanan iklim dan kerentanan strategis, serta ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan medis militer.

Pada bidang teknologi pertahanan, pembahasan menyoroti pentingnya membangun ekosistem inovasi yang mampu menghubungkan riset dengan kebutuhan strategis negara. 

Pengembangan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan pengadaan dari luar negeri. Kapasitas riset, penguasaan teknologi, dan transfer pengetahuan juga diperlukan untuk memperkuat kemandirian nasional.

Persoalan ini berkaitan dengan tekanan geoekonomi. Ketergantungan pada rantai pasok global dapat menjadi kerentanan ketika terjadi konflik, pembatasan perdagangan, atau gangguan distribusi komponen strategis. 

Karena itu, penguatan industri dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pertahanan.

Ancaman lain datang dari perubahan iklim. Dampaknya tidak hanya menyentuh lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan sumber daya, infrastruktur, dan stabilitas wilayah. 

Dalam konteks pertahanan, pemetaan kerentanan serta mitigasi risiko diperlukan agar negara mampu mengantisipasi dampak yang dapat berkembang menjadi persoalan keamanan.

Sementara itu, isu ketahanan kesehatan menempatkan kesiapsiagaan medis sebagai bagian dari sistem pertahanan yang lebih luas. Pandemi dan bencana dapat menguji kemampuan negara dalam mengoordinasikan sumber daya, tenaga kesehatan, serta layanan darurat. 

Situasi semacam ini membutuhkan kerja sama militer dan sipil agar penanganan krisis berjalan efektif.

Ketiga isu tersebut memperlihatkan bahwa pertahanan nasional tidak dapat dibangun secara sektoral. 

Kemandirian teknologi, mitigasi risiko iklim, dan kesiapan menghadapi krisis kesehatan membutuhkan perencanaan yang saling terhubung. Pemerintah, militer, akademisi, industri, dan sektor kesehatan perlu memiliki ruang koordinasi untuk menyelaraskan kebijakan serta kapasitas masing-masing.

Memperkuat kolaborasi

Diskusi dipandu Laksamana Pertama TNI Askari, P.S.C., S.I.Kom., M.Sc., M.A., dengan Diah Ayu Permata Sari sebagai pembawa acara. Para peserta bertukar pandangan mengenai pengembangan teknologi pertahanan, pemanfaatan sumber daya nasional, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

Forum akademik semacam ini menyediakan ruang untuk menguji berbagai pendekatan dalam menjawab tantangan pertahanan. Namun, penguatan arsitektur pertahanan tetap membutuhkan tindak lanjut berupa riset yang berkelanjutan, rekomendasi kebijakan yang terukur, dan kerja sama antarlembaga.

Melalui International Doctoral Talk Series, Unhan RI dan PPI Oxford berharap dapat memperluas jejaring akademik internasional sekaligus mendorong penelitian bersama. Kolaborasi itu diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan pemikiran pertahanan Indonesia.

Di tengah ancaman yang semakin kompleks, kemampuan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan. Kemandirian teknologi, ketahanan terhadap krisis, dan koordinasi antarsektor turut menentukan kesiapan negara menghadapi risiko. 

Tantangannya adalah menerjemahkan pertukaran pengetahuan tersebut menjadi kebijakan dan kapasitas nyata yang memperkuat pertahanan nasional. (*)