MALANG, Suarakata.id – Di sebuah ruang sidang di Universitas Brawijaya, Malang, suasana terasa khidmat. Tanggal 6 April 2026 menjadi momen penting. Bukan hanya bagi dunia akademik, tetapi juga bagi harapan besar ketahanan pangan Indonesia. Di hari itu, Letkol Arm Ketut Wira Purbawan resmi menyandang gelar doktor. Sebuah capaian yang lahir dari kerja keras, disiplin, dan dedikasi panjang.
Disertasinya mengangkat tema yang sangat relevan. Tentang bagaimana petani beradaptasi menghadapi perubahan iklim. Tentang bagaimana peran TNI AD hadir di tengah masyarakat.
Semua dirangkai dalam satu tujuan besar: menjaga ketahanan pangan bangsa. Indonesia adalah negara agraris. Sektor pertanian menjadi tulang punggung kehidupan.
Lebih dari 30 persen tenaga kerja bergantung di dalamnya. Namun, tantangan datang silih berganti. Lahan sawah terus menyusut. Dari 9,3 juta hektare pada 2010, kini tinggal sekitar 7,3 juta hektare (tahun 2024).
Di sisi lain, kebutuhan pangan terus meningkat. Bahkan, defisit beras mencapai 1,7 juta ton pada 2023. Di titik inilah penelitian Ketut Wira menemukan maknanya. Ia melihat persoalan bukan hanya dari satu sisi. Tapi dari banyak sudut pandang. Ia menggabungkan strategi adaptasi petani, pembinaan teritorial TNI AD, dan konsep ketahanan pangan dalam satu kajian utuh.
Hasilnya jelas. Petani tidak tinggal diam. Mereka beradaptasi. Menggunakan varietas tahan iklim. Mengelola air lebih efisien. Memperbaiki irigasi. Bahkan mulai melakukan diversifikasi usaha tani.
Semua langkah itu menjadi bukti bahwa perubahan bisa dihadapi, bukan ditakuti. Namun, penelitian ini tidak berhenti di petani. Di sinilah peran TNI AD menjadi penting. Melalui pembinaan teritorial, TNI hadir sebagai jembatan. Menghubungkan petani dengan teknologi pertanian modern. Mendampingi di lapangan. Menjadi penggerak di tengah keterbatasan.
Ketahanan pangan, dalam pandangan ini, bukan sekadar urusan perut. Ia adalah bagian dari pertahanan negara. Stabilitas pangan berarti stabilitas sosial. Dan stabilitas sosial adalah fondasi kekuatan nasional.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Lamongan. Sebuah wilayah yang menjadi cermin kondisi nyata di lapangan. Dari tingkat rumah tangga petani hingga skala wilayah. Ketahanan pangan diukur secara menyeluruh. Mulai dari ketersediaan, akses, stabilitas, hingga kualitas konsumsi.

Dengan pendekatan multidimensi, hasilnya memberikan gambaran yang tajam. Bahwa kolaborasi adalah kunci. Petani tidak bisa berjalan sendiri. Negara harus hadir. TNI AD menjadi bagian dari solusi nyata.
Tidak hanya berhenti pada disertasi, hasil penelitian ini juga diwujudkan dalam bentuk nyata yang lebih luas. Ketut Wira berhasil menyusun dua buku yang dirancang untuk memudahkan pembaca memahami dan menerapkan hasil penelitiannya secara langsung di lapangan.
Selain itu, gagasan ilmiahnya juga mendapat pengakuan internasional melalui dua publikasi jurnal terindeks Scopus, masing-masing pada peringkat Q2 dan Q3.
Sidang doktoral itu pun berakhir membanggakan. Ketut Wira lulus dengan nilai IPK 3,91. Ia meraih predikat pujian. Lebih istimewa lagi, studi doktoralnya diselesaikan hanya dalam waktu 2 tahun 8 bulan. Sebuah capaian yang tidak mudah.
Ia juga tercatat sebagai lulusan doktor ke-51 dari Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional.
Prestasi ini bukan datang tiba-tiba. Sejak awal karier militernya, Ketut Wira dikenal konsisten berprestasi. Ia berkali-kali meraih peringkat pertama dalam berbagai pendidikan militer. Dari Sesarcab Armed, Suspastafyon, hingga Diklapa II.
Bahkan dalam pendidikan strategis intelijen dan Dikdandim tipe A, ia tetap berada di posisi teratas.
Pengabdiannya pun luas. Ia pernah bertugas di Papua dalam Satgas 2019–2021. Ia juga membawa nama Indonesia ke luar negeri. Bertugas di Brazil dan mengikuti kegiatan di Australia.
Semua pengalaman itu membentuk cara pandangnya yang luas dan tajam. Dalam kariernya, ia pernah menjabat sebagai Danyonarmed 8/Udhata Yudha dan Dandim 0812/Lamongan.
Kini, ia mengemban amanah sebagai Pabandya-2/Binfunglog di lingkungan Slogad TNI AD.
Di balik semua capaian itu, ada rasa syukur yang mendalam. Ia menyampaikan terima kasih kepada para promotor, penguji, civitas akademika, pemerintah daerah Lamongan, serta keluarga dan sahabat. Dukungan mereka menjadi bagian penting dari perjalanan ini.
Kisah Ketut Wira bukan tentang gelar. Ini tentang ketekunan. Tentang pengabdian. Tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi solusi nyata bagi bangsa.
Dan dari ruang sidang itu, lahir sebuah pesan kuat. Bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak hanya sekadar harapan. Ia sedang diperjuangkan. Dengan ilmu. Dengan kerja nyata dan semangat. (Sarifah Latowa)


Tinggalkan Balasan