MADURA,Suarakata.id – Di balik wajah tegas Mayjen TNI Farid Makruf, tersimpan cerita tentang seorang ayah yang menjadi penunjuk jalan hidupnya. Dari kebiasaan membaca koran hingga doa yang mengiringi perjalanan kariernya, sosok sang ayah meninggalkan jejak yang tak akan pernah hilang.

Ada sesuatu yang berubah dari wajah Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., setiap kali pembicaraan menyentuh sosok ayahnya. Wajah yang biasanya tegas, dengan sorot mata seorang prajurit yang terbiasa menghadapi berbagai situasi, perlahan melunak.

Ia tidak sedang berbicara tentang operasi militer, perjalanan karier, atau pencapaian yang pernah diraihnya. Kali ini, yang ia ceritakan adalah seorang lelaki sederhana yang menjadi bagian paling penting dalam perjalanan hidupnya.

Sesekali, senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang seolah mengantarkan ingatannya kembali ke masa ketika sang ayah masih sehat, ketika rumah sederhana di Petrah, Tanah Merah, Bangkalan, menjadi tempatnya pulang setiap akhir pekan.

Namun, di balik senyum itu, tersimpan kesedihan yang sulit disembunyikan. Ada jeda dalam tutur katanya. Ada tatapan yang seolah menerawang jauh, seperti sedang memanggil kembali kenangan yang kini hanya bisa dijumpai dalam ingatan.

Ayahnya telah berpulang pada Kamis, 29 Oktober 2026. Farid sendiri mengantarkan sang ayah hingga ke liang lahat. Sebuah perpisahan yang tidak mudah bagi seorang anak, terlebih bagi sosok yang selama ini berusaha menjaga waktu untuk selalu berada di dekat kedua orang tuanya.

Bagi Farid, ayah bukan sekadar orang tua yang membesarkannya. Ia adalah sosok yang ikut menentukan arah perjalanan hidupnya hingga bisa menjadi seorang jenderal.

Ketika menyebut kebiasaan ayahnya membaca koran, ekspresi Farid menyimpan kekaguman. Dari kebiasaan sederhana itulah, sebuah informasi penerimaan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ditemukan. Sang ayah kemudian memintanya mendaftar.

“Bapak saya itu orang yang sangat suka membaca. Suatu ketika, beliau membaca informasi penerimaan ABRI di koran. Dari situlah saya diminta untuk mendaftar,” kenangnya.

Dari sebuah informasi di halaman koran, jalan hidup Farid mulai menemukan arah. Ia mengikuti pendidikan militer, menjalani berbagai penugasan, hingga akhirnya mencapai pangkat perwira tinggi.

Ada peran seorang ayah yang mungkin saat itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya begitu besar bagi masa depan anaknya.

“Bapak punya andil besar dalam perjalanan hidup saya. Dari beliau, saya mendapatkan dorongan untuk masuk ABRI hingga akhirnya bisa seperti sekarang,” tuturnya.

Kalimat itu memperlihatkan bagaimana Farid menempatkan ayahnya dalam perjalanan hidup. Ia tidak melihat keberhasilan sebagai hasil kerja kerasnya sendiri. Ada dorongan, pengorbanan, dan doa orang tua yang selalu menyertai langkahnya.

Mayjen TNI Dr. Farid Makruf M.A. saat menemani sang ayah dan memutar lagu-lagu kesayangan ayahnya.

Warisan Ilmu dan Nilai Kehidupan

Ayah Farid bernama R. H. Moch. Munir. Ia merupakan suami dari Hj. Siti Aminah. Di mata keluarga, sosoknya tidak hanya dikenal sebagai kepala keluarga, tetapi juga pribadi yang memiliki banyak kemampuan dan kegemaran.

Di kampungnya, R. H. Moch. Munir dikenal sebagai pemain sepak bola andalan. Ia juga piawai bermain bola voli dan bulu tangkis. Tak hanya olahraga, ia memiliki bakat di bidang seni suara. Ia bahkan menjadi penyanyi dalam kelompok qasidah.

Namun, ada hal yang jauh lebih penting yang diwariskannya kepada anak-anak. Bukan kemampuan olahraga ataupun kegemarannya, melainkan prinsip hidup tentang ketaatan kepada ajaran agama dan pentingnya istiqamah dalam menjalankannya.

Prinsip itu selalu ditanamkan dalam keluarga. Sang ayah ingin anak-anaknya tumbuh dengan pegangan agama yang kuat dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman dalam kehidupan.

Dalam mendidik anak-anaknya, R. H. Moch. Munir juga memiliki prinsip yang tegas. Ia tidak menjanjikan harta benda sebagai warisan. Sebaliknya, ia ingin memberikan sesuatu yang menurutnya jauh lebih berharga, yakni ilmu pengetahuan.

“Saya tidak akan mewariskan harta kepada kalian, tetapi saya akan mewariskan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Karena itu, lanjutkanlah sekolah setinggi-tingginya.”

Pesan itu menjadi salah satu nasihat yang terus melekat dalam keluarga. Bagi sang ayah, pendidikan merupakan bekal penting untuk menjalani kehidupan. Anak-anaknya harus memiliki ilmu, menempuh pendidikan setinggi mungkin, dan tidak berhenti belajar.

Kini, pesan tersebut terasa semakin bermakna. Farid telah melewati perjalanan panjang dalam pendidikan dan pengabdian militer. Gelar akademik yang diraihnya hingga jenjang doktoral menjadi bagian dari perjalanan yang tidak bisa dilepaskan dari prinsip pendidikan yang dahulu ditanamkan sang ayah.

Warisan R. H. Moch. Munir ternyata bukan tentang apa yang ditinggalkan dalam bentuk materi. Ia mewariskan nilai, ilmu, keteguhan, dan keyakinan bahwa pendidikan akan membuka jalan bagi masa depan anak-anaknya.

Ayah yang Menjadi Tempat Orang Bertanya

Kenangan Farid tentang ayahnya tidak berhenti pada peran dalam keluarga. Ia juga mengingat sang ayah sebagai sosok yang memiliki banyak sahabat.

Rumah mereka dahulu kerap didatangi orang-orang yang ingin meminta pertimbangan. Ada yang datang membawa persoalan, ada pula yang sekadar membutuhkan tempat untuk bertukar pikiran.

Sang ayah menjadi tempat mereka mencari nasihat dan solusi. Saat mengenang bagian ini, Farid seperti sedang membuka kembali potongan kehidupan masa lalu. Ia mengingat bagaimana ayahnya membangun hubungan dengan banyak orang, menjadi sosok yang dipercaya dan dihormati di lingkungannya.

“Bapak saya dulu punya banyak sahabat. Banyak orang datang untuk meminta pertimbangan maupun solusi ketika menghadapi masalah,” ujarnya.

Bagi Farid, ayahnya bukan hanya pribadi yang perhatian kepada keluarga. Ia juga seseorang yang senang memberi manfaat bagi orang lain.

Dari sosok itu, Farid belajar bahwa kehormatan tidak selalu datang dari jabatan. Ada nilai yang jauh lebih panjang umurnya, yakni bagaimana seseorang dikenang melalui kebaikan yang pernah diberikan.

Ayahnya mungkin tidak memiliki pangkat di pundak, tetapi ia memiliki tempat di hati banyak orang.

Akhir Pekan yang Selalu Dinantikan

Sebelum sang ayah berpulang, ada satu kebiasaan yang selalu berusaha dipertahankan Farid. Hampir setiap akhir pekan, ia menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya di Petrah, Tanah Merah, Bangkalan, Madura.

Di tengah kesibukan dan tanggung jawab pekerjaan, waktu bersama keluarga tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda begitu saja.

Rumah sederhana itu menjadi tempat Farid kembali menjadi dirinya sendiri.

Sang ayah telah lama mengalami stroke. Kondisi fisiknya membuat sebagian aktivitas harus dibantu orang lain. Namun, keterbatasan itu tidak mengurangi keinginan Farid untuk terus menemani ayahnya.

Suasana rumah terasa hangat setiap kali Farid pulang. Di halaman yang teduh, ia mendorong perlahan kursi roda sang ayah. Sesekali membawa ayahnya keluar kompleks agar bisa menikmati udara pagi Madura.

Ia juga memutar lagu-lagu kesukaan sang ayah. Tidak ada hal istimewa yang harus dilakukan. Cukup duduk bersama, bercanda, menemani, dan memastikan sang ayah tidak merasa sendiri.

Di hadapan ayahnya, Farid tidak membutuhkan identitas sebagai jenderal. Ia cukup menjadi seorang anak yang ingin memastikan orang tuanya bahagia.

Dalam salah satu kesempatan, ia pernah mengungkapkan prinsip yang selalu dipegangnya. “Pintu surga saya ada pada kedua orang tua,” ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ia berusaha mewujudkannya melalui tindakan. Menyempatkan pulang, merawat, menemani, dan memberikan perhatian kepada orang tua selama masih memiliki kesempatan.

Di rumah itu pula, Farid tak hanya memperhatikan ayahnya. Ia juga menemani ibunya yang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Sesekali berdiri di dekatnya, memperhatikan, bahkan menepuk lembut punggung sang ibu.

Pemandangan sederhana tersebut memperlihatkan sisi lain seorang perwira tinggi TNI. Di balik tanggung jawab besar yang diembannya, ada seorang anak yang memahami bahwa orang tua membutuhkan kehadiran, bukan sekadar ucapan.

“Setinggi apa pun jabatan, di depan orang tua, kita tetap seorang anak,” katanya.

Dari Madura, Menapaki Jalan Pengabdian

Perjalanan hidup Farid memang panjang. Ia menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Bangkalan sebelum melanjutkan langkah ke Akademi Militer.

Kariernya kemudian membawanya ke berbagai medan pengabdian, baik di dalam maupun luar negeri.

Pada 2003–2004, ketika masih berpangkat Kapten, Farid bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sierra Leone melalui United Nations Mission in Sierra Leone (UNAMSIL).

Pada 2018, ketika gempa mengguncang Lombok, ia memimpin Kogasgabpad dalam penanganan pascabencana, termasuk pembangunan kembali 47.000 rumah bagi masyarakat terdampak.

Pada 2020–2021, ia menjabat Danrem 132/Tadulako dan memimpin penugasan dalam Operasi Madago Raya.

Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Pangdam V/Brawijaya. Di bidang akademik, Farid meraih gelar Doktor Ilmu Sosial dari Universitas Tadulako pada 2024 dengan IPK 3,99. Pendidikan doktoralnya diselesaikan dalam waktu 1 tahun 11 bulan 5 hari.

Kini, ia mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lemhannas RI. Namun, di antara seluruh perjalanan tersebut, Farid selalu mengingat peran kedua orang tuanya. “Saya berdiri di sini bukan karena keajaiban. Ada kerja keras dan doa orang tua yang mengiringi perjalanan saya,” tuturnya.

Kalimat itu menjadi pengakuan tentang siapa yang berada di balik perjalanan panjangnya. Ayahnya mungkin tidak selalu hadir di setiap medan tugas, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil terus menyertainya.

Perpisahan yang Menyisakan Kenangan

Kini, kebiasaan pulang setiap akhir pekan tinggal menjadi kenangan. Rumah sederhana di Petrah masih menyimpan banyak cerita. Halaman tempat Farid mendorong kursi roda ayahnya, ruang tempat mereka bercanda, hingga lagu-lagu kesukaan sang ayah akan selalu mengingatkannya pada sosok yang telah pergi.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Farid mengantarkan sendiri sang ayah hingga ke liang lahat. Sebuah bakti terakhir yang mungkin menjadi salah satu momen paling berat dalam hidupnya.

Ada pertemuan yang selalu ingin diulang, tetapi waktu tidak bisa diputar kembali.

Ada percakapan yang ingin dilanjutkan, tetapi kini hanya bisa dikenang. Barangkali, itulah yang membuat setiap cerita tentang ayahnya terasa begitu berarti.

Dari tatapan matanya, senyum kecil yang sesekali muncul, hingga jeda dalam setiap kalimat, tersimpan kerinduan seorang anak kepada lelaki yang telah membentuk jalan hidupnya.

Sang ayah memang telah tiada. Namun, warisannya tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Kebiasaan membaca, kepedulian terhadap sesama, perhatian kepada keluarga, serta dorongan yang dahulu diberikan kepada Farid akan terus hidup dalam perjalanan anaknya.

Kelak, orang mungkin akan mengenang Farid Makruf melalui pangkat, jabatan, dan pengabdiannya kepada negara. Namun, bagi dirinya sendiri, ada satu cerita yang akan selalu menempati ruang paling dalam: tentang seorang ayah yang membaca koran, menemukan informasi penerimaan ABRI, lalu meminta anaknya mendaftar.

Dari situlah perjalanan seorang jenderal bermula. Di balik wajah tegas seorang jenderal, ternyata tersimpan hati seorang anak yang begitu mengagumi ayahnya. Dan ketika sang ayah telah pergi, yang tertinggal bukan hanya duka, melainkan cinta, keteladanan, dan doa yang akan terus hidup sepanjang hayat. (*)