Oleh: Malvaliya Razanne
PARIS, Suarakata.id – Sudah tiga minggu saya berada di Paris. Kota yang dulu hanya saya kenal dari buku, cerita, dan foto, kini saya jalani setiap hari.
Saya berada di Paris bukan untuk berwisata. Saya sedang menjalani magang di KBRI Paris. Dari sini, saya belajar banyak hal. Tentang pekerjaan. Tentang lingkungan baru. Juga tentang bagaimana melihat Indonesia dari negeri orang.
Hari ini, Kamis, 27 Agustus, setelah menyelesaikan aktivitas di KBRI, saya menyempatkan diri datang ke Café de Flore. Sebuah kafe tua di kawasan Saint-Germain-des-Prés.
Dari luar, tempat ini terlihat sederhana. Namun, Café de Flore punya cerita panjang. Kafe ini sejak lama dikenal sebagai salah satu tempat berkumpulnya para penulis, filsuf, seniman, dan pemikir di Paris.
Nama Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir begitu lekat dengan tempat ini. Mereka pernah menghabiskan banyak waktu di kawasan ini untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan bertukar gagasan.
Duduk di sini membuat saya mencoba membayangkan Paris pada masa lalu. Orang-orang datang tidak hanya untuk minum kopi. Mereka datang membawa pikiran. Membicarakan sesuatu. Berdebat. Bertanya. Bahkan mungkin berbeda pendapat berjam-jam.
Saya melihat meja dan kursi yang sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada sejarah yang panjang.

Saya kemudian berpikir, mungkin sebuah tempat tidak menjadi istimewa hanya karena bentuk bangunannya. Sebuah tempat menjadi berarti karena cerita dan gagasan yang pernah tumbuh di dalamnya.
Sebagai mahasiswa, berada di Café de Flore menjadi pengalaman yang baru bagi saya. Ada perasaan sederhana ketika duduk di sini. Senang, tentu saja. Tetapi juga muncul rasa kecil di dalam diri.
Saya membayangkan pernah ada orang-orang yang duduk di tempat ini dan memikirkan hal-hal besar. Mereka mempertanyakan kehidupan. Membicarakan manusia. Membahas kebebasan. Memikirkan masa depan.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri. Apa yang sedang saya pikirkan hari ini? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi justru membuat saya merenung.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita sering lupa menyediakan waktu untuk berpikir. Kita terbiasa membaca judul tanpa membaca isinya. Melihat potongan informasi tanpa mencari tahu ceritanya. Cepat berkomentar, tetapi sering lupa memahami.
Café de Flore membuat saya belajar untuk berhenti sebentar. Menikmati suasana, mengamati orang-orang. Dan berpikir lebih pelan.

Mungkin inilah salah satu hal yang bisa dipelajari dari tradisi para pemikir di tempat ini. Bahwa gagasan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, gagasan lahir dari percakapan sederhana. Dari sebuah buku, dari secangkir kopi, atau dari keberanian untuk bertanya tentang sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Bagi saya, pendidikan juga seharusnya seperti itu. Tidak berhenti pada ruang kelas, tidak hanya mengejar nilai dan tidak pula sekadar mendapatkan gelar. Tetapi, pendidikan seharusnya membuat seseorang memiliki rasa ingin tahu. Berani bertanya, mau mendengar, dan terbuka terhadap perbedaan.
Magang di KBRI memberi saya pengalaman yang tidak saya dapatkan di kampus. Sementara Café de Flore memberi saya ruang untuk melihat pengalaman itu dari sisi yang berbeda.
Saya belajar bahwa perjalanan ke luar negeri bukan hanya tentang berpindah tempat. Ada kesempatan untuk memperluas cara pandang.
Paris perlahan mengajarkan saya bahwa dunia tidak hanya sebesar lingkungan yang selama ini saya kenal. Ada banyak budaya, banyak pemikiran dan banyak cara hidup. Dan semuanya membuat saya belajar menjadi lebih terbuka.
Saya mungkin tidak akan menjadi filsuf atau penulis besar seperti mereka yang pernah duduk di Café de Flore. Tetapi saya ingin membawa satu kebiasaan dari tempat ini. Terus bertanya, terus membaca dan terus belajar.
Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang berapa banyak tempat yang kita datangi. Tetapi tentang apa yang berubah dalam diri kita setelah melihat dunia yang lebih luas.
Hari ini saya duduk di Café de Flore sebagai seorang mahasiswa. Saya datang membawa rasa ingin tahu. Dan saya berharap pulang membawa sesuatu yang lebih penting. Cara berpikir yang lebih luas.
Mungkin itu pula yang membuat sebuah perjalanan menjadi berharga. Bukan karena kita pernah berada di Paris. Tetapi karena Paris mengajarkan kita untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.(*)
Catatan : Malvaliya Razanne adalah mahasiswa Universitas Airlangga yang saat ini sedang magang di KBRI Paris.


Tinggalkan Balasan