NTB, Suarakata.id — Lapangan Tembak Rinjani, Bukit Sandik, pagi itu terasa hidup. Langit cerah. Derap langkah pengurus terdengar pelan. Musyawarah Provinsi VIII Persatuan Menembak Indonesia Nusa Tenggara Barat dimulai. Ruang berkumpul.
Wajah-wajah datang dari kabupaten dan kota. Perwakilan pengurus pusat ikut menyaksikan. Semua hadir dengan satu tujuan. Menentukan arah Perbakin NTB ke depan.
Sidang berjalan tertib. Suasana khidmat. Tak ada riuh berlebih. Keputusan lahir dengan tenang. Kolonel I Wayan Sandi Susila kembali dipercaya memimpin Perbakin NTB. Dipilih aklamasi. Periode 2026–2030.
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Jejak kerja terlihat. Prestasi mulai tumbuh. Perak pernah diraih. Meski belum sempurna, arah sudah benar.

“Kedepan kita harus kompak,” ucapnya. Nada suaranya tenang. Tegas, tapi membumi. “Kita sudah dapat perak. Itu bagus. Target kita lebih baik lagi.”
Ia menatap satu per satu peserta musyawarah. Ada harap di matanya. Ada beban tanggung jawab di pundaknya. Rencana pun disampaikan. Sekolah menembak akan dibentuk. Untuk anak-anak muda. SMP dan SMA. Yang punya minat. Yang punya bakat. “Kita siapkan sejak dini,” katanya.
“Didukung provinsi, kabupaten, kota. Supaya atlet kita berani tampil. Lolos PON. Bahkan menembus level internasional.”
Baginya, menembak bukan sekadar hobi. Ini jalan prestasi. Ini jalan mengharumkan daerah. Butuh latihan serius. Butuh proses panjang. Butuh kesabaran.
Dari sudut ruangan, H. Muhammad Izzul Islam angkat suara. Mantan Bupati Lombok Barat itu kini membidangi tembak reaksi.

Ia menyambut kepengurusan baru dengan harap yang sama. “Kekurangan harus dibenahi,” ujarnya. “Sekolah menembak penting. Pembinaan sejak dini kunci prestasi.” Ia menekankan satu hal.
Koordinasi. Antara provinsi, kabupaten, dan kota. Tak bisa jalan sendiri. Butuh dukungan pemerintah daerah. Butuh kerja bersama.
“Kita ingin Perbakin NTB tetap jadi kebanggaan,” katanya. “Dengan kerja keras, prestasi bisa naik. Di kejuaraan nasional. Di ajang-ajang lain.”
Musprov VIII hari itu menjadi titik temu harapan. Menjadi ruang konsolidasi. Menjadi awal regenerasi. Dari Bukit Sandik, arah baru ditetapkan. Pelan. Pasti.
Menuju NTB yang lebih kuat di arena menembak Indonesia. (*)


Tinggalkan Balasan