SIDOARJO, Suarakata.id – Senin sore, 29 September 2025, pukul 17.50 WIB. Langit Sidoarjo mulai meredup ketika kabar duka itu datang: bangunan empat lantai Pondok Pesantren Al Khozyni, Buduran, ambruk. Jeritan santri yang terjebak di balik puing bercampur panik orang tua yang berlari mencari anaknya. Situasi berubah menjadi kepanikan massal.
Tak menunggu waktu lama, Rumkitban Sidoarjo Denkesyah 05.04.04 Surabaya Kesdam V/Brawijaya langsung bergerak. Permintaan bantuan dari Kepala Dinas Kesehatan melalui Dandenkesyah Surabaya Letkol Ckm (K) dr. Paulin Marwita., Sp.OT., M.Kes., M.H
Dengan perintah secara langsung dari Dandenkesyah Surabaya Letkol Ckm (K) dr. Paulin Marwita., Sp.OT., M.Kes., M.H memerintahkan satu unit ambulans dan tenaga kesehatan dikerahkan menuju lokasi.
Di antara gelap dan debu reruntuhan, empat tenaga kesehatan hadir: P3K Abdul Madjid, P3K Vivin, Sukwan Nurul, dan Sukwan Fitra. Bersama tim Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan para relawan SAR, mereka bekerja tanpa jeda.
Tangan-tangan itu meraih tubuh kecil yang berlumur debu, mengangkat mereka dengan hati-hati agar tidak memperparah luka. Ada yang hanya lecet, ada pula yang patah tulang dan kritis.
Mereka menginfus korban di pinggir jalan, membalut luka dengan penerangan seadanya, sementara ambulans tak berhenti hilir-mudik membawa korban ke rumah sakit terdekat.

Malam semakin larut, tetapi semangat tak pernah padam. Hingga dini hari, napas para tenaga kesehatan tetap terengah, namun dedikasi mereka lebih kuat dari rasa lelah. Dari reruntuhan itu, 95 santri berhasil dievakuasi malam itu.
71 orang diantaranya luka ringan, 22 orang luka berat, 2 orang meninggal dunia. Keesokan harinya, Selasa, 30 September 2025, giliran tim kedua dari Rumkitban Sidoarjo Denkesyah 05.04.04 Surabaya diterjunkan.
Kapten Ckm Ahmad, Lettu Ckm Dimyati, Sertu Rahman, Sertu Joko P, P3K Irfandi, Sukwan Yanuar, dan Sukwan Fitra kembali menyambung misi kemanusiaan. Mereka memperkuat barisan tenaga medis yang sejak malam sebelumnya tak beranjak dari lokasi.
Di balik angka korban dan catatan evakuasi, tersimpan kisah kemanusiaan yang tak terbeli. Tangan-tangan penuh dedikasi itu tidak hanya sekadar menolong tubuh, tetapi juga merawat harapan. Dalam wajah lelah mereka, tergambar satu tekad: menyelamatkan nyawa adalah panggilan tanpa batas waktu. (*)


Tinggalkan Balasan