GRESIK, Suarakata.id – Pagi itu. Rabu, 22 April 2026. Langit Gresik cerah. Udara terasa bersih. Di Lapangan Pemda, Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Kebomas langkah-langkah pengabdian mulai disatukan.

Jarum jam menunjuk pukul 09.20 WIB. Upacara pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 resmi dimulai.

Hening. Khidmat. Penuh makna. Sekitar 200 peserta berdiri tegap. Barisan rapi. Seragam berbeda, tujuan sama. Membangun negeri dari desa. TNI. Polri. Pemerintah daerah. Pramuka. Satpol PP. Hingga masyarakat sipil. Semua hadir. Semua terlibat.

Nama-nama penting tampak di barisan depan. Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura. Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani. Dandim 0817/Gresik, Letkol Inf Fadly Subur Karamaha. Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution. Wakil Bupati, dr. H. Asluchul Alif. Mereka menjadi simbol kolaborasi. Sinergi nyata lintas sektor.

Lagu Indonesia Raya berkumandang. Menguatkan tekad. Bahwa pembangunan bukan hanya proyek. Ia adalah panggilan jiwa. Pasukan diperiksa. Kesiapan dilaporkan. Disiplin terasa. Dedikasi terlihat. Pukul 09.32 WIB. Momen penting terjadi.

Penandatanganan serah terima program TMMD. Dari Pemerintah Kabupaten ke Kodim 0817/Gresik. Simbol sederhana.

Namun maknanya dalam. Tanggung jawab berpindah. Amanah dimulai. Tak lama. Penyematan tanda peserta dilakukan. Alat kerja diserahkan. Bibit tanaman diberikan. Ini bukan seremoni biasa. Ini awal kerja nyata.

Langkah kecil menuju perubahan besar. Dalam sambutannya, Bupati Gresik menyampaikan dengan penuh harap. Kalimatnya mengalir. Penuh makna.

Bahwa TMMD tidak hanya sebagai program. Ia adalah gerakan bersama. Menggabungkan kekuatan TNI, pemerintah, dan rakyat. Sasarannya jelas. Desa Slempit, Kecamatan Kedamean.

Dari 22 April hingga 21 Mei 2026. Pembangunan fisik akan dikerjakan. Jalan dicor. Akses diperbaiki. Waduk dinormalisasi. Pintu dam diperbaiki. Rumah tidak layak huni direnovasi.

Namun TMMD tidak berhenti di beton dan aspal. Ia menyentuh manusia. Ada penyuluhan.

Program stunting. Ketahanan pangan. Penghijauan. Semua diarahkan untuk satu tujuan. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

“TMMD adalah solusi,” tersirat dari setiap kata yang disampaikan. Solusi untuk pemerataan pembangunan. Solusi untuk ketimpangan. Karena desa adalah fondasi. Jika desa kuat, negara pun kokoh.

Di tengah semangat itu, Dandim 0817/Gresik, Letkol Inf Fadly Subur Karamaha, menegaskan komitmennya.
“TMMD adalah wujud nyata kebersamaan antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjawab kebutuhan pembangunan di desa,” tegasnya.

Ia menekankan, kehadiran TNI tidak hanya membangun infrastruktur.
Lebih dari itu, membangun harapan.

“Kami hadir tidak hanya membangun jalan, tetapi juga membangun harapan. Membangun semangat gotong royong yang menjadi kekuatan utama bangsa,” ujarnya.

Sinergi menjadi kunci. Kolaborasi menjadi kekuatan. “Keberhasilan TMMD sangat ditentukan oleh kolaborasi. Ketika TNI, pemerintah, dan masyarakat berjalan bersama, maka hasilnya akan jauh lebih besar dan berdampak langsung,” lanjutnya.

Harapan pun disematkan. Bahwa hasil TMMD tidak berhenti di akhir program.
“Kami berharap apa yang dibangun melalui TMMD ini tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan wilayah,” tutupnya.

Pukul 09.42 WIB. Doa dipanjatkan. Upacara berlanjut. Hingga akhirnya, pukul 09.50 WIB.

Bantuan pembangunan jalan diserahkan. Bantuan rumah layak huni diberikan. Senyum mulai terlihat. Harapan mulai terasa nyata.

Dan pada pukul 09.55 WIB. Seluruh rangkaian selesai. Tertib. Lancar. Penuh makna.

Namun sejatinya, ini bukan akhir. Ini adalah awal. Peninjauan sasaran pun dilakukan. Langkah kaki berlanjut ke lapangan nyata. Melihat. Menyentuh. Memastikan.

TMMD ke-128 bukan hanya kebersamaan melainkan gotong royong yang masih hidup. Di tengah tantangan zaman. Di tengah kompleksitas pembangunan. Dari desa. Untuk Indonesia. Dan di Gresik pagi itu, semangat itu kembali ditegaskan. (*)