NGADA NTT,Suarakata.id— Di tengah gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Lewotobi, ada satu perjalanan yang tak berhenti. Perjalanan itu tidak sekadar menempuh ratusan kilometer jalan berliku di Pulau Flores, tetapi juga perjalanan untuk menjaga harapan puluhan anak yang sedang mengejar mimpi.
Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., seharusnya hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk terbang dari Labuan Bajo menuju Bajawa, Kabupaten Ngada. Namun alam berkata lain. Letusan Gunung Lewotobi membuat penerbangan dibatalkan. Pilihan paling mudah adalah menunda perjalanan. Tetapi Farid Makruf memilih tetap berangkat.
Ia menempuh perjalanan darat selama kurang lebih sembilan jam demi menghadiri pembukaan Open Turnamen Mini Soccer U-12 Watutura Cup II Tahun 2026.
“Anak-anak sudah berlatih. Mereka sudah menunggu. Semangat mereka harus dihargai,” kata Farid singkat.
Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan kuat tentang arti komitmen.
Perjalanan panjang tersebut dilakukan bukan untuk sebuah seremoni. Bukan pula untuk sekadar menghadiri acara. Yang ingin ia temui adalah anak-anak yang sedang belajar bermimpi melalui sepak bola.
Turnamen Watutura Cup II tahun ini menjadi salah satu kompetisi sepak bola usia dini terbesar di Flores bagian tengah. Sebanyak 29 tim dari Kabupaten Ngada, Nagekeo, Ende, dan Manggarai ikut ambil bagian.
Lapangan Mini SDN Watutura di Bajawa pun berubah menjadi panggung harapan. Di sana, puluhan anak mengenakan jersey kebanggaannya. Mereka datang membawa cita-cita yang mungkin sederhana: menjadi pemain hebat, membanggakan orang tua, atau sekadar merasakan kegembiraan bermain bersama teman-teman.
Bagi Farid Makruf, pembinaan generasi muda tidak selalu dilakukan di ruang kelas. “Lapangan juga sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, sepak bola mengajarkan banyak hal yang tidak tertulis dalam buku pelajaran. Disiplin. Kerja sama. Sportivitas. Kepemimpinan. Dan keberanian untuk bangkit saat kalah.
Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya sedang dibangun melalui Watutura Cup.
<span;>Di Flores, olahraga sering kali menjadi jembatan yang mempertemukan anak-anak dari berbagai daerah.
Turnamen ini tidak hanya mempertemukan tim dari Ngada, tetapi juga dari Nagekeo, Ende, dan Manggarai.
Mereka datang dari kampung dan kota yang berbeda. Namun ketika peluit dibunyikan, semuanya memiliki tujuan yang sama: bermain dengan hati dan menunjukkan kemampuan terbaik.
Masyarakat Ngada menyambut kehadiran Farid Makruf dengan hangat. Sejumlah baliho penyambutan terpasang di berbagai titik menjelang pembukaan turnamen.
Bagi warga setempat, kehadiran tokoh nasional di tengah kegiatan olahraga anak-anak memiliki arti tersendiri. Mereka merasa diperhatikan. Mereka merasa perjuangan membina generasi muda tidak berjalan sendiri.

Perjalanan sembilan jam yang ditempuh Farid Makruf akhirnya menjadi simbol yang lebih besar daripada sekadar perjalanan darat.
Ia menunjukkan bahwa membangun sumber daya manusia membutuhkan kehadiran nyata. Bukan hanya pidato.
Bukan hanya slogan. Tetapi langkah-langkah yang benar-benar dijalankan.
Saat Watutura Cup II resmi dibuka, yang berlangsung bukan sekadar pertandingan sepak bola antar pelajar sekolah dasar. Di lapangan itu, mimpi sedang ditumbuhkan. Karakter sedang dibentuk. Dan masa depan sedang dipersiapkan.
Dari Bajawa, sebuah pesan sederhana kembali menguat: jarak boleh jauh, jalan boleh sulit, tetapi tidak ada perjalanan yang terlalu berat ketika tujuannya adalah masa depan anak-anak Indonesia.
Di balik perjalanannya menembus sembilan jam jalur darat menuju Bajawa, sosok Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. menyimpan rekam jejak panjang pengabdian kepada bangsa.
Perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang saat ini menjabat sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam (Lemhannas) itu merupakan lulusan Akademi Militer 1991 dari kecabangan Infanteri Kopassus.
Namanya dikenal luas saat memimpin Korem 132/Tadulako di Sulawesi Tengah. Kala itu, Farid Makruf berada di garda depan dalam operasi pemberantasan kelompok teroris pimpinan Ali Kalora di Poso.
Kepemimpinannya di lapangan menjadikannya salah satu perwira yang berperan penting dalam menjaga keamanan wilayah yang selama bertahun-tahun dilanda ancaman terorisme.
Kariernya kemudian terus menanjak. Ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari Komandan Korem 132/Tadulako, Panglima Kodam V/Brawijaya, hingga Wakil Inspektur Jenderal TNI. Pengalaman panjang tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang tegas, namun tetap dekat dengan masyarakat.
Karena itu, kehadirannya di Watutura Cup II memiliki makna lebih dari sekadar menghadiri sebuah turnamen. Di tengah berbagai amanah yang diembannya, Farid Makruf memilih hadir untuk memberikan dukungan langsung kepada anak-anak Flores yang sedang meniti mimpi melalui olahraga.
“Anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Mereka harus diberi kesempatan untuk tumbuh, berprestasi, dan percaya pada mimpi-mimpinya,” ujar Farid Makruf.
“Dari Lapangan Mini SDN Watutura, Bajawa, harapan itu kembali ditegaskan. Bahwa masa depan Indonesia tidak hanya dibangun di kota-kota besar, tetapi juga di lapangan sederhana tempat anak-anak berlari mengejar bola, mimpi, dan cita-cita. Dan untuk masa depan itu, sebuah perjalanan sembilan jam terasa menjadi pengorbanan yang sangat layak dilakukan.” (*)

Tinggalkan Balasan