Oleh : Heri Kris

Penulis adalah perupa, kurator alumni ISI Yogyakarta

Sejak seni modern tumbuh dan berkembang, seni selalu membutuhkan kreativitas dan kemurnian dalam sebuah karya. Seniman selalu berjuang untuk menggali dan menemukan hal-hal baru baik gagasan dan material. Hal tersebut terjadi sejak jaman Neoklasik sampai seni kontemporer abad ini. Untuk itu pameran dengan tajuk “Insidexistence” dari komunitas Pancer yang ke 2 di kota Magetan Jawa Timur sekarang ini membangun spirit tentang kemurnian karya dalam eksistensi seorang perupa.

Pameran tersebut menyertakan beberapa perupa dari kabupaten; Magetan, Ngawi, Madiun, Pacitan dan Ponorogo. Beberapa kabupaten tersebut terletak dalam wilayah yang berdekatan dan menjadi poros baru seni rupa di Jawa Timur. Diantara perupa yang kebanyakan pelukis tersebut bernama: Agus Wicak, Akbar Kobir, Alpanggih, Andaru Vemba, Bambang S, Basuki Ratna, Buntoro, Dadang Wijanarko, Dwi Warno, Eko Sudarmawan, Ferdhia, Fitri, Hendra Prast, Heru Kuntoyo, Hendra Salendra, Jhon Resa, Kus Hervica, Kus Hervida, Ma. Fatkhurrochman, Prabowo, Rama Slam, Rudi Asmoro, Sabdurja, Sis Setio, Suharwedi, Tiyok Susetyo, Tiyon Vector, Tri Gondrong, Tri Moeljo, Tulus Rahadi, Wahyu Galino, Wasis Rijanto, Zulfian Ebnugroho.

Aktivitas seni rupa mereka beberapa tahun terakhir cukup intens dan apresiasi seni banyak menginfluens ke berbagai lapisan masyarakat. Peran aktif dan dukungan dari pemerintah daerah juga merupakan salah satu pondasi dan pilar dalam memajukan kesenian di kota-kota tersebut.

Inside sebuah kata dari bahasa Inggris yang berarti di dalam, sebuah kata yang sering dikaitkan dengan inner atau bagian dalam diri seorang seniman. Kaitan dengan seni rupa “inner” bisa diasumsikan menjadi “pure” atau murni dari diri seniman. Masyarakat seni sering menyebut “pure art” atau “fine art” yaitu sebuah karya seni yang diciptakan sebagai ekspresi diri dan terkait dengan intelektual seseorang.

Eksistensi adalah sebuah keberadaan atau kehadiran dalam hal ini adalah para perupa. Dalam perkembangannya wujud dari karya fine art bisa berupa lukisan, patung, seni instalasi, video art dan sebagainya. Dilihat dari maknanya fine art lebih sebagai ekspresi diri dengan tujuan estetis (keindahan) bukan fungsi dan tidak semata-mata untuk tujuan komersial.

Karya seni rupa merupakan salah satu produk budaya dan sebagai sign of era atau penanda jaman. Dari sejak klasik sampai postmodern bahkan yang paling kontemporer, setiap peristiwa sejarah akan berpengaruh pada kreativitas dan gagasan para perupa pada jamannya. Baik berupa tragedi, perang maupun sifat tradisi lingkungan terdekat. Dari gejala seni rupa pada perang dunia pertama dan perang dunia kedua memiliki sejarah keterkaitan yang dekat dengan kemunculan karya seni beserta pemikiran di dalamnya.

Banyak seniman menentang imperialisme dan pemikiran-pemikiran kapitalisme yang banyak merugikan penduduk dunia. Dari sanalah sebuah karya seni tidak lahir dari ruang hampa namun seniman sangat terkait dengan ruang dan waktu dimana dia tumbuh.

Salah satu pemikiran filsafat dalam kesenian adalah Estetika, dan istilah ini banyak digunakan seniman maupun penulis dalam mengungkap sebuah karya seni. Secara estimologis istilah “Estetika” adalah sebuah kata sifat dalam bahasa Yunani aesthetikos yang artinya “Berkesenian dengan persepsi”. Persepsi yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah sebuah persepsi indrawi.

Indrawi sendiri mencakup penglihatan yang biasa dilakukan dalam seni rupa, pendengaran sering dilakukan pada seni musik. Namun pada seni kontemporer hal tersebut diatas mencakup multy disiplin seni yang sering digabung menjadi satu.

Ada sebuah pembaharuan terus menerus atas karya dan persepsi dalam estetika kontemporer yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan jaman. Walaupun dalam estetika ada sebuah pandangan secara umum namun pada dasarnya karya seni murni sangat dibutuhkan persepsi dan kreativitas personal yang membedakan karya seniman satu dengan lainnya.

Biasanya setiap individu seniman secara karakter dibentuk oleh masa lalunya dan menumbuhkan pandangan atas seni yang di lakukannya secara konseptual. Dari situlah pameran bersama kelompok Pancer dengan tema Insidexistence di kota Magetan diselenggarakan.

Kelompok perupa Pancer ini berpameran secara bergantian dari beberapa kota mereka berasal, kemungkinan hal tersebut bertujuan untuk mengikat tali kebersamaan sebagai sesama perupa dan selebihnya untuk mengembangkan apresiasi seni rupa ke wilayah yang lebih luas di Jawa Timur.

Sebuah apresiasi akan tumbuh lewat beberapa media seperti pameran seni rupa, work shop, diskusi, buletin seni maupun buku-buku penting terkait seni rupa sebagai pengembangan pengetahuan.

Di Indonesia banyak sekali komunitas dan kelompok perupa yang secara rutin mengadakan pameran seni rupa seperti; Sanggar Bambu yang didirikan oleh Soenarto Pr dan beberapa seniman seangkatannya pada 1 April 1959 di Yogyakarta, Kelompok Sakato yang mayoritas berasal dari Sumatra, Sanggar Dewata yang kebanyakan anggotanya berasal dari Bali, kelompok Taring Padi yang banyak membuat karya-karya “Kritik” dan “satire”, kelompok Jendela yang banyak melahirkan beberapa senimannya juga dari Sumatra dengan karya-karya kontemporer dan juga masih banyak kelompok lainnya.

Di negara barat kelompok seni rupa biasanya masuk dalam sebuah gerakan dengan membawa aliran maupun ideologi seni mereka, seperti kelompok Barbizon diambil dari nama tempat didekat hutan Fountainableau dekat kota Paris.

Mereka adalah sekelompok pelukis alam dan lingkungan yang tidak selaras dengan pelukis-pelukis akademi pada waktu itu. Beberapa tokohnya diantaranya adalah Theodore Rousseau (1812-1867), Jules Dupre (1811-1889) dan lainnya. Ada kelompok Cobra yang didirikan pada tahun 1948 dari Eropa diantaranya Corneille, Karel Appel, Asger Jorn, Lucebert dan lainnya.

Ada kelompok Art Brut yang sebagian besar anggotanya adalah penyandang disabilitas dan dimotori oleh Jean Dubuffet dari Prancis. Ada kelompok Dadaisme yang lahir di bulan Pebruari 1916 saat berkecamuknya perang dunia pertama.

Kelompok Dada membawa sikap nihilistik yang menolak hukum-hukum keindahan yang sudah ada. Perupa yang terlibat adalah Hans Arp (1887-1966), Marcel Duchamp seorang seniman berasal dari Prancis kemudian menjadi warga negara Amerika (1887-1968), selain dua penulis Jerman Hugo Bali dan Richard Hueisenbeck. Kata “Dada” diambil dari kamus Jerman-Prancis yang menyebutkan kuda mainan dalam bahasa anak-anak.

Gerakan yang dilakukan kelompok Dada sangat terkenal konsep dan gerakannya sampai saat ini terutama bagi perupa kontemporer yang tertarik dengan karya-karya alternatif.

Kelompok Pancer disini tidak menyatukan sebuah ideologi seni tertentu ataupun membawa pemikiran-pemikiran baru dalam dunia kontemporer, namun eksistensinya ingin memberi spirit berkesenian yang tumbuh di lingkungan mereka berada. Ada beberapa karya mereka yang unik diantaranya lukisan Kus Hervica dengan judul “Yang tersisa”, akrilik pada kanvas, 100X100cm, 2024. Sebuah lukisan dengan membangun suasana cukup melankoli, absurd dan simbolik.

Ada tanda kode nuklir pada sebuah benda yang mirip koran dengan menampilkan sosok-sosok manusia yang tidak nampak utuh dan digarap dengan brushstroke kasar. Andaru Vemba karyanya cukup minimalis dan mengandung pesan moral dengan judul “Dont leave yout trash”, 100X100cm, akrilik, pastel pada kanvas, 2025. Sebuah lukisan dengan objek pantai yang kosong sepi tak ada aktivitas dan nampak bersih. Tulus Rahadi menampilkan lukisan yang bergaya childish dengan judul “Momong”, 100X100cm, akrilik pada kanvas, 2025.

Lukisan tersebut mengekspresikan sebuah keceriaan dengan warna-warna bright dan bentuk-bentuk figur deformatif layaknya anak-anak yang berekspresi dengan bebas. Lukisan dengan gaya abstrak terdapat pada lukisan Dadang Wijanarko dengan judul “Disela hitam ada putih”, 120X120cm, akrilik pada kanvas, 2025. Sebuah lukisan yang intuitif dan warna minimalis serta goresan yang mengalir tanpa image dari bentuk tertentu.

Karya abstrak lainnya terdapat pada lukisan Susetya dengan judul “Keberagaman#2”, 80X120cm, akrilik pada kanvas, 2025. Lukisan abstrak dengan perpaduan bidang-bidang giometris yang disusun dalam tiga panel, karya tersebut lebih mengutamakan kecermatan komposisi dibanding dengan letupan emosi seperti yang telah dilakukan seorang pelopor pelukis abstrak Wassily Kandinsky (1866-1944) yang berasal dari Rusia.

Selain mereka berdua ada lagi pelukis yang konsisten melukis abstrak adalah Trimoeljo yang lebih ekspresif, spontan dan lugas dalam memilih tema. Lukisan dekoratif modern dihadirkan oleh Agus Wicak dengan judul “Hurted”, 90X80cm, akrilik pada kanvas, 2025. Agus Wicak banyak melukis tentang dunia flora dan fauna dalam sebuah ekologi serta impact dari perbuatan manusia terhadap eksistensi mereka. Salah satu pelukis dengan media batik adalah Suharwedi dengan karyanya berjudul “Benturan”, 95X165cm, batik, 2025.

Sebuah teknik batik yang biasanya dibuat untuk kebutuhan fashion dan hiasan tradisional, namun dia mengangkat teknik batik pada karya fine art dengan ide yang baru. Salah satu perupa yang sering berkarya dengan multi media adalah Hendra Prast dan pada pameran saat ini menyuguhkan karya instalasi dengan judul “Mr. CEO from the future” dengan bahan campuran seperti tas plastik, CPU dan lainnya. Karya ini mengekspresikan tentang keadaan sekarang dimana teknologi AI telah merambah ke semua sektor kehidupan dimana manusia sering menggunakan komputer dan gadget.

Dalam hal ini tentunya masih banyak karya perupa dalam kelompok Pancer yang unik dan menarik. Seni instalasi adalah salah satu ciri dari perkembangan seni kontemporer abad ini dimana ketika seni konvensional dua dimensi maupun tiga dimensi sudah membatasi ruang ekspresi dan gagasan seniman.

Tantangan dari para seniman kontemporer tersebut adalah memahami pengetahuan tentang konsep dan material yang nantinya akan menentukan bobot dari sebuah karya kontemporer yang multi dimensi. Selain itu juga literasi yang dimiliki seorang seniman juga amat penting saat memulai berkarya serta mempertimbangkan hal-hal yang bersifat filosofis termasuk semiotika.

Interdisiplin ilmu seni juga sering muncul pada seni kontemporer, dimana unsur rupa, musik, gerak diramu menjadi satu dalam sebuah karya. Hal tersebut pasti dibutuhkan pengetahuan lebih bagi seniman dan tidak hanya mengandalkan semata-mata pada artisan. Beberapa kasus karya yang digarap secara keseluruhan oleh artisan menghasilkan feel yang kurang greget pada karya tersebut.

Saya berharap semoga pameran kelompok antar kota seperti Pancer akan tumbuh terus di kota-kota di Jawa Timur dan tempat lainnya. Hal ini akan membangun kesenian dan kebudayaan pada masyarakat luas sebagai jati diri sebuah bangsa. Kebudayaan adalah salah satu kekuatan bangsa dan negara dalam pertempuran global atau disebut “Perang asimetris”, yaitu pertempuran tanpa alat perang namun dengan kekuatan kebudayaan, ekonomi, siber, dan lainnya. (*)