MADURA, Suarakata.id – Malam itu, Sabtu di akhir Desember 2025 di Tanah Merah, Bangkalan. Udara tidak sepenuhnya dingin, tapi cukup nyaman untuk membuat orang betah duduk lama.
Lampu-lampu menyala temaram di sekitar arena latihan. Bayangan tubuh para pesilat memanjang di tanah. Suara kain seragam bergesek. Nafas tertahan. Lalu dilepas. Tiba-tiba musik tetabuhan khas Madura, dimainkan dengan kencang menyemangati suasana.
Berloncatan dua orang pesilat dengan clurit di tangan mendemonstrasikan kemampuan mereka memainkan senjata tradisional khas Madura tersebut.
Gerakan mereka cepat, gesit dan terampil menunjukkan bahwa mereka memang terlaltih. Tepuk tangan penonton mengakhiri atraksi pencak clurit tersebut.
Di tengah suasana itu, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. hadir. Ia tidak datang dengan protokoler berlapis. Tidak mau berjarak dengan masyarkat, ia berjalan menyusuri barisan pesilat dan penonton.
Didampingi Wakil Ketua SPKSM (Silaturrahmi Perguruan Keluarga Silat Madura) Ilzam Mussholeh. Mereka menyapa, menyalami, Sesekali berhenti, mendengar cerita dari beberapa peserta.
Malam itu, 15 perguruan silat dari berbagai penjuru Madura berkumpul. Mereka datang untuk satu hal yang kian langka: duduk bersama, berlatih bersama, dan menjaga silaturahim dalam wadah Silaturahmi SPKSM.
Satu persatu para guru dan tetua dari perguruan silat itu memperkenalkan diri dihadapan para pesilat dan penonton. Masing-masing, PPS Perisai Putih Nusantara dari Junok, Bangkalan yang dipimpin Saiful Islam, serta PPS Garuda Sakti Muda dari Rabesen Parseh di bawah kepemimpinan Moh. Anshori.
Kemudian PPS Pagar Alas dari Ba’engas Tambak Agung dengan ketua Ainul Yakin, dan Singo Barong dari Desa Banjar yang diketuai Sali.
Dari Sattowan Pejagan, turut hadir PPS Bintang Bawean Putra dengan ketua Saru’din, disusul PS Macan Putih yang berdomisili di Naro’an Timur dengan ketua Ashari Maulana.
Hadir pula PPS Gajah Putih beralamat di Jeng Delem Gigir yang dipimpin H. Mustofa, serta PPS Lesap Tapak Kaki Kuda dari Desa Demangan Tunjung dengan ketua Subaidah (Aida Santana).
Selain itu, ada Sonda Slewa Warna dari Jaddih Timur yang dipimpin Mahmud Kamsuri, PPS Perisai Diri beralamat di Jalan Raya Ketengan dengan ketua Marsuki, dan Mega Sakti dari Dusun Kolak, Sukolilo Barat dengan ketua Achmad Tanzil.
Hadir juga PPS Harimau Bafam Bangkalan dari Pejagan, Bangkalan yang sebelumnya diketuai Alm. Bapak Munaki, kemudian PPS Sapujagat dari Desa Kesek dengan ketua Mukit, serta Pagar Nusa Langkap dari Ponpes Darul Hikmah di bawah kepemimpinan Gus Imam Djauhari.
Melengkapi jajaran, turut serta PBB (Pesilat Bersatu Bersaudara) dari Dusun Trajan, Robatal, Sampang, yang dipimpin Miftahul Ma’arif Bahmas.
Kehadiran seluruh perguruan ini menunjukkan semangat persaudaraan, kebersamaan, dan komitmen untuk menjaga tradisi bela diri sekaligus mempererat silaturahmi antar-pesilat di Madura.
Setelah memperkenalkan identitas dirinya, para guru silat ini memperagakan satu jurus andalan mereka.
Rata-rata jurus mereka memang cepat, indah tapi mematikan. Itulah ciri khas pencak silat Madura.
Mereka kemudian foto bersama, saling bergandengan sambil berdiri mendampingi Mayjen Farid yg membeikan arahan kepada hadirin.

Suasananya cair. Para guru silat didepan berdiri berdampingan, para pesilat duduk berdekatan, penonton juga membaur dengan mereka.
Para pendekar muda memandang penuh rasa ingin tahu. Ada hormat. Ada bangga. Ada juga gugup yang tampak di wajah mereka, yang mungkin baru pertama melihat seorang jenderal dihadapan mereka.
Farid Makruf tampak menikmati suasana. Wajahnya tenang. Tatapannya sering menyapu arena, seolah sedang membaca masa lalu di wajah-wajah muda itu.
Sesekali ia tersenyum kecil, seperti menemukan dirinya sendiri bertahun-tahun silam. Ketika ia mulai berbicara, suasana hening.
“Silat itu warisan leluhur kita, terutama pencak silat Madura, ini adalah warisan turun temurun yg harus kita lestarikan.”
“Silat itu bukan soal pukulan dan tendangan saja,” katanya. “Silat itu membentuk jiwa.” Ia berhenti sejenak. Menarik nafas. Nada suaranya datar. Tidak menggurui.
Menurut Farid Makruf, perguruan silat memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Di sanalah disiplin diajarkan. Di sanalah adab ditanamkan. Di sanalah keberanian dan pengendalian diri berjalan beriringan.
“Silat bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk pembelaan diri. Silat ini untuk membentuk jiwa ksatria.”
Mengenai pentingnya pertemuan dan latihan bersama malam ini, Farid memuji H. Machfud selaku Ketua SPKSM, Ilzam selaku wakil dan para ketua perguruan serta para pesilat yang semuanya sangat antusias dan bersemangat untuk datang dan berlatih bersama.
Mereka datang dengan tekad yang sama, menjalin silaturahmi, meningkatkan kemampuan dan melestarikan pencak silat Madura.
“Berlatih tanpa bertanding itu seperti mengasah pisau, tapi tidak pernah digunakan pada sasaran.”
Kalimat itu tidak disampaikan dengan tekanan. Namun justru karena itulah ia terasa kuat. Pesannya sederhana: latihan harus punya tujuan. Mental harus diuji. Bukan untuk mencari lawan, tetapi untuk mengenal diri sendiri.
Di hadapan para pesilat muda, Farid Makruf tidak sedang membangun citra. Ia justru membuka kisahnya sendiri. Tentang masa kecil. Tentang Madura yang membesarkannya.
“Dulu,” katanya, sambil tersenyum tipis, “setiap habis ngaji, saya latihan silat. Di belakang rumah.”
Beberapa orang tersenyum mendengar itu. Cerita yang terasa dekat. Tidak asing. Seperti cerita banyak anak kampung di Madura.
“Kalau sekarang saya jadi tentara,” lanjutnya,“itu karena dulu belajar silat.”
Bagi Farid Makruf, silat adalah pagar. Menjaga dari narkoba. Menjauhkan dari pergaulan yang salah. Membentuk disiplin sejak usia muda. Ia menyebut olahraga seperti silat sebagai jalan yang membuat anak-anak tetap sibuk pada hal-hal yang sehat.
Malam itu, ia juga menyampaikan terima kasih. Dengan tulus. Tanpa naskah. Kepada Ilzam dan semuanya yang mempelopori kegiatan silaturahim dan latihan bersama ini, selaku pembina, ia berharap kegiatan ini dapat dilestarikan.
Kepada para guru silat yang setia menjaga nilai dan tradisi. Kepada para orang tua yang mempercayakan anak-anaknya pada jalan disiplin.
Ia menundukkan kepala sedikit ketika menyebut mereka. Gestur kecil, tapi penuh makna.
Di Madura malam itu, pangkat tidak menjadi jarak. Jabatan tidak menjadi tembok. Seorang jenderal duduk di tengah para pendekar, sebagai bagian dari mereka.
Farid Makruf menunjukkan bahwa pulang ke daerah itu adalah kewajiban. Sebagai pengakuan pada akar. Pada tanah yang membentuk watak. Pada nilai yang membesarkan karakter.
Latihan pun berlanjut. Gerak demi gerak dilakukan dengan penuh kesadaran. Peluh jatuh. Nafas memburu. Namun semangat tetap terjaga.
Malam itu, silat di Madura kembali menemukan maknanya. Tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi jalan pembentukan manusia. “Ingat akar yang dijaga akan selalu menumbuhkan masa depan yang lebih baik,” pesan Mayjen TNI Farid Makruf. (*)


Tinggalkan Balasan