MALANG -Suarakata.id – Terik matahari siang itu menyelimuti Kelurahan Ardirejo Kepanjen, Kabupaten Malang. Di sebuah lahan pembangunan, belasan pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP).

Bangunan koperasi itu mulai dikerjakan sekitar sebulan lalu. Targetnya selesai dua bulan ke depan.

Sejak pagi hingga sore, para pekerja terus bergerak. Mengangkat material, menyusun bata, hingga merapikan bangunan yang perlahan mulai berdiri.

Sebagian besar dari mereka menjalani puasa Ramadan. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat bekerja.

Para pekerja tersebut berasal dari berbagai wilayah di Malang Selatan. Di antaranya Kromengan, Dampit, Kepanjen, hingga Sumberpucung.

Mereka datang dengan harapan yang sama: mencari nafkah untuk keluarga. Sugianto, 37 tahun, salah satu pekerja asal Kromengan, mengaku pekerjaan utamanya sebenarnya bukan tukang bangunan.

Di Kalimantan, ia biasa berdagang kuliner bersama dua temannya. Mereka menjajakan nasi goreng, cap cay, dan bakmi.

Lapaknya berpindah-pindah dari pasar malam ke pasar malam lain di wilayah Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

“Pendapatan di sana memang lebih banyak. Tapi kami jauh dari keluarga,” kata Sugianto. Saat pulang kampung, ia mendapat tawaran membantu pembangunan KMP di Ardirejo. Kesempatan itu ia ambil sambil menunggu kembali bekerja di Kalimantan.

“Sekarang kami selesaikan dulu pekerjaan di sini. Setelah itu baru kembali ke sana,” ujarnya. Dalam pekerjaan bangunan, para pekerja terbagi menjadi dua kelompok. Tukang dan asisten tukang yang biasa disebut kuli.

Sugianto termasuk dalam kelompok kuli. Pendapatannya tidak sebesar tukang. “Kalau tidak puasa, saya biasanya bawa bekal dari rumah supaya bisa hemat,” katanya.

Pembangunan KMP setiap hari dikerjakan 14 orang pekerja dengan satu mandor. Kegiatan itu juga mendapat pendampingan dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) Ardirejo.

“Pekerja KMP di sini berjumlah 14 orang dengan satu mandor,” ujar Babinsa Ardirejo, Sertu Anggit.

Tak jauh dari lokasi pembangunan, sekitar 30 meter, berdiri Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Kepanjen.
Pada Jumat (13/3), sekolah tersebut menggelar kegiatan berbagi takjil bertajuk Disabilitas Peduli Ramadan Jilid 3.

Para penyelenggara tidak hanya membagikan takjil kepada pengguna jalan. Mereka juga mendatangi para pekerja KMP yang setiap hari bekerja di dekat sekolah.

Panitia kegiatan, Hamzah Arribath, mengatakan berbagi kepada lingkungan terdekat memiliki makna tersendiri.

Menurutnya, kepedulian sosial sering kali dimulai dari orang-orang yang berada paling dekat dengan kita.

“Kami sengaja berbagi kepada para pekerja KMP yang lokasinya sangat dekat dengan sekolah.

Hakikat berbagi di lingkungan terdekat adalah wujud kepedulian sosial, ketakwaan, dan upaya merawat hubungan kemanusiaan,” katanya.

Ia menambahkan, berbagi bukan sekadar memberi. Kegiatan itu juga membawa kebahagiaan bagi pemberi maupun penerima.

Kegiatan berbagi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Disabilitas Peduli Ramadan yang telah digelar sebanyak tiga kali sepanjang Ramadan tahun ini.

Kepala SLB BC Kepanjen, Yulia Esti, menjelaskan kegiatan pertama digelar pada 27 Februari 2026. Kegiatan kedua berlangsung 6 Maret 2026, dan yang ketiga dilaksanakan pada 13 Maret 2026. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar.

“Ini menjadi wujud nyata kepedulian dan semangat berbagi di bulan suci Ramadan,” ujar Yulia.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut. Mulai dari Kementerian Agama Kabupaten Malang, para penyuluh KUA, Yayasan Kartika Mutiara, Pabrik Rokok Anak Sakti, CV PDM, Yatim Mandiri, hingga para guru, wali murid, donatur, dan masyarakat.

Berkat dukungan itu, ratusan paket takjil dan nasi kotak berhasil dibagikan kepada masyarakat.

Pada kegiatan Jumat tersebut saja, sekitar 250 takjil dibagikan.

Selain kepada para pekerja KMP, takjil juga dibagikan kepada masyarakat di sepanjang Jalan A Yani Kepanjen.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Dewan Pembina Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara Pakisaji, Malang, Mayjen TNI Dr Farid Makruf.

Ia menilai berbagi di bulan Ramadan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memberi bantuan materi.

Menurutnya, berbagi adalah bentuk ibadah yang menumbuhkan empati dan memperkuat solidaritas sosial.

“Berbagi di bulan Ramadan merupakan teladan langsung dari Rasulullah SAW yang kedermawanannya meningkat pada bulan suci,” ujarnya.

Ketua Yayasan Wahana Bhakti Mulia, Didik Permadi, juga mengapresiasi kepedulian berbagai pihak terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di SLB BC Kepanjen.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut di masa mendatang. Terutama untuk membantu mencari solusi masa depan para siswa setelah mereka lulus sekolah.

“Kami bersyukur ada banyak pihak yang peduli. Semoga ke depan kerja sama ini terus berlanjut,” katanya.

Bagi SLB BC Kepanjen, kegiatan berbagi ini bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari langkah sederhana.

Mulai dari lingkungan terdekat. Dan dari sana, solidaritas sosial dapat tumbuh dan menguat di tengah masyarakat. (*)