MALANG, Suarakata.id – Senyum Mardiah tak pernah lepas. Perempuan 44 tahun itu sibuk melayani pembeli yang berkerumun di sisi timur Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (27/3/2026).

Tangannya lincah. Sesekali ia menukar uang dengan rekannya untuk kembalian pembeli. Mardiah adalah pedagang ketupat dadakan.

Sehari-hari ia hanya ibu rumah tangga biasa. Namun saat Lebaran Ketupat tiba, ia ikut meramaikan pasar.

Ia tidak sendiri. Tiga ibu tetangganya ikut berjualan di sampingnya. Mereka sudah menjalani usaha ini sejak tahun 2024.

Awalnya hanya coba-coba. “Diajak bulik jualan. Ternyata untungnya lumayan. Akhirnya saya ajak tetangga ikut,” ujar Mardiah.

Tahun ini mereka mulai berjualan sejak 4 Syawal atau 24 Maret.

Di kalangan masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat atau Kupatan jatuh pada 8 Syawal. Tahun ini bertepatan dengan Sabtu, 28 Maret.

 

Biasanya persiapan sudah dimulai sejak Kamis atau Jumat. Para bapak membawa ketupat ke masjid atau mushola pada Jumat sore untuk kenduren.

Keesokan harinya, ketupat dibagikan ke keluarga dan tetangga. Tradisi ini menjadi simbol silaturahmi dan saling memaafkan.

Menu yang disajikan beragam. Ada ketupat, lontong, lepet, dan sayur santan. Karena itulah pedagang menyediakan berbagai kebutuhan.

Mulai dari janur, ketupat kosong, ketupat matang, hingga lepet. Harga pun terjangkau.

Satu ikat janur berisi 20 lembar dijual Rp10 ribu. Sepuluh ketupat matang dijual Rp35 ribu. Sepuluh ketupat kosong dijual Rp12 ribu.

Permintaan Ketupat Meningkat

Menurut Mardiah, dua hari terakhir pembeli lebih banyak mencari ketupat matang dan lepet.

Banyak warga memilih cara praktis. Sebagian tidak sempat membuat ketupat sendiri. Sebagian lagi tidak bisa merangkai janur.

Dalam empat hari berjualan, omzet mereka mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta.

Pedagang Lain Ikut Kebanjiran Rezeki. Tak jauh dari Mardiah, Anis, 37 tahun, juga sibuk melayani pembeli.

Ia ditemani anak sulungnya, Arif, yang baru berusia 10 tahun.

Sehari-hari Anis berjualan ayam, kelapa, dan lele. Namun saat hari besar, ia menambah dagangan janur dan ketupat.

“Yang paling laris sekarang janur, ketupat, dan kelapa,” katanya.

Permintaan ayam memang ada. Namun masih kalah dibanding kelapa dan ketupat.

Janur Jadi Sumber Omzet Jutaan

Cerita serupa datang dari Suwito, 55 tahun. Pedagang asal Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum ini biasanya menjual sayur mayur.

Saat musim Lebaran, ia menambah jualan janur. Ia berangkat siang hari menggunakan mobil pick-up menuju pasar.

Ia berjualan di Pasar Gadang hingga menjelang subuh. Setelah itu berpindah ke Pasar Pakisaji.

Dalam sehari, ia mampu menjual ratusan hingga ribuan lembar janur. “Omzet janur saja bisa satu juta rupiah per hari, bahkan lebih,” ujar Suwito.

Kesempatan ini tak pernah ia lewatkan. Setiap musim Kupatan, ia selalu menambah stok janur.

Memasak Ketupat Butuh Waktu Lama

Di balik tradisi Kupatan, ada proses panjang yang harus dilalui.

Memasak ketupat membutuhkan waktu berjam-jam. Beras harus direndam satu hingga dua jam.

Setelah itu baru dimasak. Lontong direbus sekitar enam jam. Ketupat membutuhkan waktu lima jam.

Sementara lepet direbus sekitar empat jam. Jika tidak cukup lama direbus, ketupat mudah basi. “Kalau tidak lama direbus, ketupat mudah bau,” ujar Mistri, 55 tahun, warga Pakisaji.

Karena prosesnya panjang, banyak keluarga memilih membeli ketupat matang di pasar.

Lebaran Ketupat tidak hanya sekadar tradisi. Momentum ini juga membawa berkah bagi pedagang kecil. Janur, ketupat, dan lepet menjadi sumber penghasilan tambahan.

Bagi banyak pedagang, musim Kupatan adalah saat menjemput rezeki musiman. Tradisi tetap terjaga. Pasar pun semakin hidup.(*)