JEMBER,Suarakata.id — Lapangan Hitam Secaba Rindam V/Brawijaya, Jumat pagi (24/4/2026), menjadi saksi lahirnya 222 prajurit baru TNI Angkatan Darat. Barisan tegap. Tatapan lurus. Langkah serempak. Namun di balik seremoni itu, ada penegasan kuat dari Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin M.A : menjadi prajurit bukan sekadar status, tetapi komitmen total yang tak bisa ditawar.
Dalam upacara penutupan Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Gelombang I Tahun Anggaran 2026, Pangdam V Brawijaya menekankan satu hal mendasar perubahan jati diri. Dari sipil menjadi prajurit. Dari kebiasaan umum menjadi disiplin militer. Dari kepentingan pribadi menuju pengabdian tanpa syarat.
“Keberhasilan ini bukan akhir, tetapi awal pengabdian sebagai prajurit TNI Angkatan Darat,” tegasnya dengan suara mantap, menembus barisan peserta upacara.
Pendidikan selama delapan minggu, dengan lebih dari 600 jam pelajaran, dirancang untuk membentuk fondasi mental, fisik, dan karakter. Namun bagi Pangdam, itu baru pintu masuk. Ujian sesungguhnya justru dimulai setelah pelantikan.
Ia mengingatkan, perubahan status harus diikuti perubahan pola pikir dan perilaku. Tidak ada ruang bagi sikap setengah hati. Tidak ada toleransi untuk pelanggaran nilai.

Setiap prajurit wajib menjadikan Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI sebagai kompas hidup tidak hanya sekadar hafalan, tetapi pedoman dalam setiap langkah.
“Jaga kehormatan diri. Bangun loyalitas yang tegak lurus kepada bangsa dan negara,” lanjutnya, dengan penekanan yang tak menyisakan ruang tafsir.
Nada tegas itu mencerminkan tantangan yang akan dihadapi prajurit ke depan. Dunia berubah cepat. Ancaman tak lagi konvensional. Dibutuhkan prajurit yang adaptif, tangguh, dan profesional. Tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara moral.
Di tengah barisan, nama Sabillal Aliffudin mencuat sebagai lulusan terbaik. Disusul Muhammad Iqbal Alamsyah dan Audrey Varrel Devara. Prestasi mereka menjadi bukti bahwa disiplin dan kerja keras selama pendidikan bukan hal sia-sia.
Namun Pangdam kembali mengingatkan peringkat hanyalah awal, bukan jaminan keberhasilan di medan tugas.

Upacara berlangsung khidmat. Dihadiri jajaran pejabat utama Kodam V Brawijaya, unsur Forkopimda, serta keluarga prajurit yang menyaksikan dengan haru dan bangga. Di sisi lain lapangan, penanaman pohon yang dipimpin Ketua Persit KCK PD V/Brawijaya menjadi simbol sederhana namun bermakna: pengabdian harus sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan.
Momentum Ini adalah titik balik. Dari kehidupan biasa menuju jalan pengabdian yang penuh konsekuensi. Dari individu menjadi bagian dari institusi yang menjunjung tinggi kehormatan.
Para prajurit muda kini bersiap melanjutkan pendidikan kejuruan. Mereka akan ditempa kembali. Diasah sesuai kecabangan. Didorong menjadi lebih spesifik, lebih siap, dan lebih profesional. Namun pesan Pangdam tetap menggema lebih kuat dari derap langkah dan aba-aba komando: menjadi prajurit bukan soal seragam yang dikenakan, tetapi nilai yang dijaga. Bukan tentang hari ini, tetapi tentang kesetiaan sepanjang hayat. (*)


Tinggalkan Balasan