PAMEKASAN,Suarakata.id — Deru napas sapi berpacu dengan sorak penonton yang memenuhi stadion, Sabtu (2/5/2026). Siang itu lebih sekadar lomba. Ia menjadi penanda waktu 45 tahun konsistensi sebuah tim yang tak pernah absen menjaga nyala tradisi: Gagak Rimang Tim.
Perayaan ulang tahun ke-45 tim legendaris ini digelar di Pamekasan, meski markas mereka berada di Socah, Bangkalan. Pilihan lokasi bukan tanpa makna. Ada semangat merangkul, menyatukan, dan meneguhkan kebersamaan lintas wilayah Madura.
Di tengah gemuruh itu, sebanyak 64 pasang sapi berlaga, menghadirkan tontonan yang tak hanya memacu adrenalin, tetapi juga menyentuh rasa bangga akan warisan budaya.
Ketua Umum Paguyuban Kerapan Sapi Se-Madura (Pakar Sakera), Haji Moh. Tohir, berdiri di tengah arus antusiasme tersebut. Suaranya tegas, namun sarat harap.
“Terima kasih kepada seluruh peserta yang tetap setia menjaga tradisi ini. Kerapan sapi bukan sekadar perlombaan, tetapi identitas kita. Ia harus terus hidup, terus dilestarikan,” ujarnya dalam sambutan.
Di hadapan peserta dan penonton, Haji Tohir juga menjelaskan alasan pemilihan Pamekasan sebagai lokasi perayaan. Menurutnya, ada faktor kepercayaan yang menjadi landasan utama.
“Kami memilih Pamekasan karena di sini pihak kepolisian memberikan kepercayaan kepada tokoh-tokoh kerapan untuk turut menjaga keamanan. Ini penting, karena kerapan sapi tidak hanya soal lomba, tapi juga kebersamaan dan kedewasaan dalam menjaga tradisi,” ungkapnya.

Kepercayaan itu, lanjutnya, menjadi energi tersendiri bagi para pelaku kerapan untuk menunjukkan bahwa tradisi bisa berjalan tertib, aman, dan tetap meriah.
Ia pun berharap pola seperti ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain. “Harapan kami, ke depan sinergi seperti ini terus terbangun. Ketika tokoh budaya diberi ruang dan dipercaya, maka mereka juga akan bertanggung jawab menjaga marwah kerapan sapi,” tambahnya.
Bagi Haji Tohir, kerapan sapi bukan lagi hobi. Ia telah menjelma menjadi panggilan. Kewajiban yang dijalani dengan konsistensi tanpa jeda.
Selama 45 tahun, Gagak Rimang Tim hadir tanpa putus dalam setiap musim kerapan sebuah dedikasi yang jarang ditemukan di tengah perubahan zaman yang serba cepat.
Namun, di balik gegap gempita lintasan, ada realitas yang tak sederhana. Biaya perawatan sapi kerapan tidak kecil. Perlu ketelatenan, ketahanan ekonomi, dan strategi matang.
“Menang bukan hanya soal kecepatan. Banyak faktor lain yang menentukan. Bahkan untuk meraih Piala Presiden, dibutuhkan kesiapan total,” kata Haji Tohir.
Gagak Rimang Tim telah membuktikannya. Mereka pernah menjuarai Piala Presiden pada 2007, 2008, 2009, dan 2023 catatan prestasi yang tak hanya membanggakan, tetapi juga mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu kekuatan utama dalam dunia kerapan sapi.
Perayaan ini juga disemarakkan dengan hadiah spektakuler: dua unit mobil untuk juara 1 dan 2 kelas utama, satu unit motor untuk juara 3, serta tambahan tiga unit motor untuk kelas harapan dan dua unit motor untuk kelas galatama.
Namun, lebih dari sekadar hadiah, yang diperebutkan adalah kehormatan dan kebanggaan. Di tengah arus digitalisasi, Haji Tohir memandang kerapan sapi harus melangkah lebih jauh.

“Kalau memungkinkan, kerapan sapi harus mendunia. Ini bukan hanya tradisi lokal, tapi potensi wisata budaya yang bisa menarik perhatian dunia,” ujarnya.
Pandangan tersebut diamini oleh sejumlah tokoh Madura. Salah satunya menyoroti peran Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., dalam membangkitkan kembali minat terhadap kerapan sapi.
Menurutnya, ketika menjabat Pangdam V/Brawijaya, Farid Makruf berhasil menghidupkan kembali gairah budaya yang sempat redup.
“Beliau tidak hanya melihat dari sisi tradisi, tapi juga perspektif pembangunan sosial budaya. Kerapan sapi kembali menjadi menarik, tidak membosankan, bahkan mampu mengundang penonton yang sebelumnya enggan datang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penyederhanaan aturan dan pendekatan kolaboratif dengan para tokoh kerapan menjadi kunci keberhasilan tersebut.
Menanggapi hal itu, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni semata, tetapi harus berdampak nyata bagi masyarakat.
“Dinas kebudayaan daerah seharusnya fokus menyusun naskah kebijakan yang kuat, agar pelestarian budaya kerapan sapi memberi dampak ekonomi. Ini bisa menjadi pintu masuk pengembangan SDM dan SDA, sekaligus menghidupkan UMKM di Madura,” ujarnya.
Ia juga menyinggung persoalan yang masih menjadi ganjalan di lapangan, khususnya terkait perizinan dan minimnya gaung promosi.
“Jujur saja, saya geregetan melihat masih ada praktik ‘upeti’ dalam perizinan. Ini harus jadi evaluasi bersama. Kalau ingin besar, kita harus berbenah dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kerapan sapi tidak hanya lestari, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi dan identitas daerah.
“Kalau semua bergerak bersama, saya yakin kerapan sapi tidak hanya dikenal di Madura atau Indonesia, tetapi juga di dunia internasional,” tambahnya.
Harapannya, langkah-langkah konkret itu dapat menginspirasi tokoh-tokoh Madura lainnya untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Sebab menjaga budaya bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama.
Di ujung lintasan, ketika debu perlahan turun dan sorak penonton mereda, satu hal tetap tinggal: semangat yang tak padam. Gagak Rimang Tim telah menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar diwariskan, tetapi diperjuangkan.
Dan selama masih ada mereka yang setia menjaga, kerapan sapi akan terus berlari menembus waktu, melampaui batas, menuju panggung dunia. (*)
Hasil Final Perang Bintang:
Golongan Bawah:
Tong–Lentong — Surahwi, Sumenep
Bandit Pertelon — H. Takdir, Bangkalan
Singa Muda — Mas Syukron Makmun, Sampang
Golongan Atas:
Gagak Rimang — RHM. Thohir, Bangkalan
Istana GRT — RHM. Thohir, Bangkalan
Jet Matic — Sarapova, Sampang.


Tinggalkan Balasan