Depok,Suarakata.id – Merawat bumi bukan semata urusan lingkungan. Di balik udara yang dihirup setiap hari, ada kesehatan fisik, ketenangan batin, hingga masa depan anak-anak yang dipertaruhkan. Pesan itu menjadi benang merah dalam Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Selasa (1/7/2026), yang mengusung tema “Merawat Bumi, Menyehatkan Jiwa: Psikologi untuk Masa Depan Berkelanjutan.”

Dalam pidato ilmiahnya, Dekan Fakultas Psikologi UI, Dicky C. Pelupessy, Ph.D., mengajak peserta melihat hubungan yang tidak terpisahkan antara lingkungan hidup dan kesehatan mental.

“Saya ingin menegaskan bahwa cerita tentang bumi, cerita tentang lingkungan hidup kita, dan tentang jiwa manusia sesungguhnya adalah satu cerita yang sama,” ujarnya.

Menurut Dicky, perubahan lingkungan yang semakin nyata telah melahirkan persoalan psikologis baru. Kalangan ilmuwan kini mengenalnya sebagai eco-anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika seseorang menyaksikan kerusakan alam yang terus terjadi. Ada pula solastalgia, yakni rasa kehilangan dan kesedihan ketika lingkungan tempat tinggal yang dulu memberi rasa nyaman berubah menjadi panas, gersang, dan terasa asing.

“Eco-anxiety dan solastalgia menyampaikan satu pesan yang sama, yaitu merawat bumi adalah bagian dari merawat jiwa kita,” katanya.

Dalam paparannya, Dicky menampilkan foto tiga anak kecil yang bermain di taman sambil mengenakan masker. Foto itu bukan sekadar ilustrasi. Ketiganya merupakan bagian dari lebih dari seratus anak di Bandung yang terlibat dalam penelitian mengenai dampak polusi udara terhadap tumbuh kembang anak di kawasan perkotaan.

Penelitian tersebut dilakukan melalui kolaborasi internasional yang melibatkan Fakultas Psikologi UI bersama sejumlah perguruan tinggi dari Inggris dan Australia. Dicky sendiri menjadi bagian dari tim peneliti.

Hasil riset menunjukkan bahwa polusi udara merupakan ancaman yang bekerja secara perlahan.

“Polusi udara adalah silent killer. Ia merusak kesehatan secara senyap, termasuk kesehatan anak-anak. Selama kualitas udara belum membaik, kita harus menemukan cara untuk melindungi mereka dari paparan polusi. Sebenarnya bukan hanya anak-anak, tetapi kita semua,” jelasnya.

Penelitian itu berangkat dari satu pertanyaan sederhana, yakni bagaimana keluarga memilih cara terbaik melindungi anak-anak dari polusi udara. Salah satu temuan yang menarik justru datang dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu penggunaan masker.

Penelitian menemukan bahwa masker merupakan cara perlindungan paling mudah dan relatif paling terjangkau untuk mengurangi paparan polusi udara.

Dari sisi perilaku, anak-anak ternyata memiliki preferensi yang berbeda. Anak usia lebih kecil hingga kelas tiga sekolah dasar cenderung menyukai masker berwarna dengan motif menarik. Sementara anak yang lebih besar lebih memilih desain polos dan sederhana. Mereka juga lebih nyaman menggunakan masker dengan pengait di telinga dibandingkan model yang melingkar di kepala.

Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional pada 2025. Bagi Dicky, hasil itu menunjukkan bahwa psikologi mampu memberikan solusi yang konkret dalam menjaga kesehatan masyarakat di tengah tantangan lingkungan.

Menjelang akhir pemaparannya, Dicky mengajak seluruh peserta meninggalkan sejenak pembahasan mengenai data dan hasil penelitian. Ia mengajak semua yang hadir melakukan refleksi sederhana.

“Kapan terakhir kali kita duduk diam di bawah pohon? Kapan terakhir kali kita menarik napas panjang dan menyadari bahwa kita hanyalah bagian kecil dari cerita besar bernama alam?” tuturnya.

Ia menegaskan, kampus yang sehat secara psikologis hanya dapat terwujud jika lingkungannya juga sehat. Karena itu, menjaga bumi bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.

Perayaan Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi UI dihadiri Rektor Universitas Indonesia, para dosen, alumni, mahasiswa, serta Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat.

Kehadiran Menteri menjadi bentuk dukungan terhadap kolaborasi dunia akademik dalam menghadapi persoalan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup mengapresiasi kepedulian Fakultas Psikologi UI yang mengangkat isu lingkungan hidup dari perspektif kesehatan mental.

Menurutnya, pendekatan lintas disiplin menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga kualitas lingkungan merupakan investasi bagi kualitas hidup generasi mendatang.

Salah seorang alumni Fakultas Psikologi UI, Dwi Prihandini, juga menyampaikan apresiasinya terhadap tema Dies Natalis tahun ini. Menurutnya, isu lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai kesehatan jiwa.

“Menurut saya, tema Dies Natalis kali ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Fakultas Psikologi UI berhasil mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu hubungan antara kesehatan mental dan lingkungan. Diskusi seperti ini membuka kesadaran bahwa menjaga bumi tidak hanya soal alam, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup dan kesehatan jiwa kita bersama,” ujarnya.

Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi UI menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak hanya persoalan perubahan iklim atau menurunnya kualitas udara. Di baliknya, ada manusia yang tumbuh, berpikir, dan menjalani kehidupan. Ketika bumi dirawat, kesehatan jiwa pun memiliki ruang untuk tetap bertumbuh. Sebab pada akhirnya, menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (*)