MALANG,Suarakata.id – Ribuan penonton memadati Taman Krida Budaya, Kota Malang, untuk menyaksikan pertunjukan Topeng Panji Setya Laku yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Sejak pertunjukan dimulai, perhatian penonton seakan tak lepas dari panggung yang menghadirkan perpaduan gerak tari, musik gamelan, dan karakter topeng khas Malangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam suasana yang membawa mereka kembali mengenal salah satu warisan budaya terbesar Jawa Timur.
Pertunjukan ini mengangkat kisah legendaris Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji atau Chandra Kirana. Cerita Panji yang telah dikenal selama berabad-abad tidak hanya berkisah tentang cinta dua insan, tetapi juga menggambarkan perjalanan hidup manusia yang penuh pencarian, kesetiaan, pengorbanan, konflik, hingga kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian. Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa kisah Panji tetap relevan dan mampu menyentuh berbagai generasi hingga saat ini.
Dalam pementasan Topeng Panji Setya Laku, setiap karakter ditampilkan melalui topeng dengan ekspresi dan warna yang berbeda. Gerak tari para penampil menjadi bahasa utama yang menyampaikan alur cerita tanpa banyak dialog. Penonton diajak memahami perjalanan Panji dan Sekartaji melalui simbol-simbol gerakan yang sarat makna, mulai dari pertemuan, perpisahan, pencarian, hingga perjuangan untuk kembali bersatu. Keunikan inilah yang membuat seni topeng tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang menyimpan pesan moral tentang kehidupan.

Topeng Panji Malang sendiri diperkirakan telah berkembang sejak masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Pada masa itu, kesenian ini tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari ritual adat dan kegiatan spiritual masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Topeng Panji berkembang menjadi identitas budaya Malang yang diwariskan secara turun-temurun melalui sanggar, komunitas seni, hingga keluarga-keluarga pelestari budaya.
Menariknya, pertunjukan kali ini dikemas dengan sentuhan yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Tata cahaya, penataan panggung, dan alur pertunjukan dibuat lebih dinamis tanpa meninggalkan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi untuk mengenalkan kembali seni tradisional kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan hiburan digital dan budaya populer.
Melalui Topeng Panji Setya Laku, kisah yang lahir ratusan tahun lalu kembali menemukan panggungnya di tengah masyarakat modern. Pertunjukan ini bukan hanya upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mengingatkan bahwa nilai-nilai tentang kesetiaan, keteguhan hati, dan perjuangan yang terkandung dalam cerita Panji tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah perubahan zaman, Topeng Panji terus membuktikan dirinya sebagai warisan budaya yang hidup, berkembang, dan mampu menjembatani masa lalu dengan generasi masa depan.


Tinggalkan Balasan