Suarakata.id – Dari Inggris, seorang kandidat doktor asal Papua sedang mengerjakan satu hal yang sederhana, tetapi tidak mudah: mengubah cara dunia memandang Papua. Ia percaya perdamaian tidak lahir dari kesiapan berperang, melainkan dari keberanian menyiapkan perdamaian.
Saya menulis berita ini sambil menonton podcast Steve Rick Elson yang diunggah di akun YouTube Tribunnews.
Layar menampilkan seorang anak Papua yang kini sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Ia berbicara tenang. Tidak tergesa.
Saya menyimak satu per satu kalimatnya. Ada sesuatu yang menarik dari ceritanya. Bukan semata soal kuliah di Inggris.
Bukan pula tentang bagaimana seorang anak Papua bisa menembus kampus di negeri orang.
Yang menarik adalah cara Steve melihat Indonesia setelah ia cukup lama tinggal jauh dari tanah kelahirannya.
Dari kejauhan, katanya, justru ada hal yang semakin jelas. Indonesia adalah rumah. Dan Papua adalah bagian dari rumah itu.
Steve Rick Elson Mara merupakan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Papua–United Kingdom (IMP-UK) periode 2026–2028. Ia juga kandidat doktor atau PhD bidang Peace Studies di University of Bradford, Inggris.
Dalam wawancara khusus bersama Studio Tribunnews di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026, Steve bercerita tentang perjalanan akademiknya.
Juga tentang Papua. Tentang diaspora. Tentang perdamaian. Dan tentang bagaimana Ia seorang anak Indonesia harus menjelaskan identitasnya ketika berada di negeri orang.
“Saya orang Indonesia” Ada satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan Steve. Pada 2019, ketika melakukan kegiatan di Malaysia, ia memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia.
Jawaban itu ternyata tidak selalu mudah diterima. Ada orang asing yang memiliki gambaran berbeda tentang Indonesia.
Informasinya terbatas. Sebagian bahkan mengenal Indonesia melalui cerita-cerita negatif. Steve tidak memilih berdebat. Ia memilih menjelaskan.
“Saya ingin mengubah perspektif itu. Papua bukan daerah konflik. Papua adalah daerah damai,” kata Steve.
Kalimat itu menjadi salah satu benang merah dalam perjalanan akademiknya. Ia tidak ingin Papua hanya dikenal melalui konflik.
Tidak ingin tanah kelahirannya hanya muncul dalam berita tentang kekerasan. Baginya, Papua memiliki cerita lain yang jauh lebih panjang.
Cerita tentang manusia. Tentang budaya. Tentang masyarakat. Tentang masa depan.
Dari pengalaman bertemu seorang pemuda asal Fiji, Steve kemudian terdorong membangun Melanesian Youth Diplomacy Forum.
Tujuannya sederhana. Membuka ruang perjumpaan. Anak-anak muda Melanesia harus saling mengenal. Tidak sekadar mengenal dari berita. Tidak pula dari potongan informasi di media sosial. Melainkan melalui percakapan langsung.
Sebab, kata Steve, diplomasi tidak selalu harus dilakukan di ruang-ruang resmi. Kadang ia dimulai dari meja diskusi anak-anak muda. Papua dan doktoralnya
Pilihan Steve mengambil Peace Studies bukan keputusan yang tiba-tiba. Ketertarikannya terhadap isu konflik dan perdamaian sudah tumbuh sejak pendidikan magister.
Ia menemukan satu persoalan yang terus mengganggu pikirannya. Papua terlalu sering diletakkan dalam bingkai konflik.
Padahal, menurut Steve, konflik hanyalah satu bagian dari cerita. Karena itu, ia memilih meneliti Papua melalui perspektif perdamaian.
Riset doktoralnya berfokus pada Papua, penerapan otonomi khusus, dan bagaimana kebijakan tersebut dapat menghadirkan perdamaian.
Ia ingin penelitian itu tidak berhenti menjadi tumpukan halaman di perpustakaan kampus.
Ia berharap risetnya dapat melahirkan rekomendasi kebijakan. Terutama untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Steve membedakan perdamaian menjadi dua. Perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif, menurut dia, adalah keadaan ketika konflik terlihat berhenti, tetapi akar persoalannya belum diselesaikan.
Misalnya, pemerintah datang membawa solusi. Masalah terlihat selesai. Namun penyebab utamanya masih ada.
Sedangkan perdamaian positif menuntut sesuatu yang lebih dalam. Akar persoalan harus ditemukan. Kemudian diselesaikan.
“Kalau kita ingin damai, yang harus kita persiapkan adalah perdamaian,” ujarnya.
Bagi Steve, itu adalah cara pandang. Perdamaian tidak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai hasil sampingan setelah konflik. Perdamaian harus dirancang sejak awal. Harus dipelajari. Harus dipersiapkan. Dan harus diwariskan.
Dari luar negeri, Indonesia terasa berbeda
Ada bagian lain dari percakapan Steve yang membuat saya berhenti menulis sejenak. Ia justru menemukan rasa nyaman terhadap Indonesia ketika tinggal di luar negeri. Pengalaman menjadi diaspora membuat sejumlah hal kecil terasa besar.
Menurutnya, di Indonesia, banyak hal bisa dilakukan dengan mudah. Makanan mudah dicari. Transportasi relatif mudah diakses. Layanan digital tersedia hampir setiap saat. Mengirim uang antardaerah bisa dilakukan dengan cepat.
Hal-hal yang selama di Indonesia terasa biasa, di luar negeri justru terasa sebagai kemewahan sosial.
“Saya pikir Indonesia menjadi tempat ternyaman karena kita bisa buat apa saja di sini,” katanya.
Karena itu ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa pergi ke luar negeri selalu berarti harus meninggalkan Indonesia.
Belajar ke luar negeri, menurutnya, seharusnya tidak identik dengan “kabur”. Justru sebaliknya. Pergi untuk belajar. Kemudian pulang membawa pengetahuan.
Atau setidaknya membawa gagasan yang dapat digunakan untuk membangun masyarakat.
IMP-UK dan anak-anak Papua
Semangat itu pula yang mendorong lahirnya Ikatan Mahasiswa Papua–United Kingdom.
Ada banyak anak Papua yang ingin kuliah di Inggris. Namun mereka membutuhkan ruang. Ruang untuk bertanya. Ruang untuk berbagi informasi. Ruang untuk menemukan teman.
Dan yang paling penting, ruang untuk membangun kepercayaan diri. IMP-UK ingin menjadi simbol bahwa mahasiswa Papua ada di Inggris. Mereka belajar. Mereka meneliti. Mereka bekerja. Dan mereka punya gagasan.
Jumlah mahasiswa Papua yang aktif saat ini, menurut Steve, sekitar 30 orang. Jika ditambah alumni, jumlahnya jauh lebih banyak. Sebagian alumni bahkan telah memiliki posisi penting.
Bagi Steve, anak Papua mampu menembus batas. “Kita tidak lagi menjadi mahasiswa yang berdiri di luar pagar melihat bagaimana orang lain berkontribusi dengan bangsa,” kata Steve.
Ia ingin mahasiswa Papua mulai bertanya kepada diri sendiri. Apa yang bisa mereka lakukan? Bagaimana ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk masyarakat? Apa yang bisa mereka bangun setelah menyelesaikan pendidikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang menurutnya lebih penting daripada sekadar gelar.
Mental lebih dulu, bahasa kemudian Steve punya pesan untuk anak muda Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri.
Persiapkan mental. Bahasa bisa dipelajari. Kampus bisa dicari. Beasiswa bisa dikejar. Tetapi tanpa keberanian untuk mencoba, semuanya hanya menjadi rencana.
Steve mengaku dirinya pun tidak langsung mahir berbahasa Inggris. Ia belajar. Berproses. Kemudian mencoba.
Ia juga menyadari bahwa ketakutan sering kali muncul sebelum seseorang benar-benar berangkat. Takut bertemu orang asing. Takut tidak mampu mengikuti pelajaran. Takut berbeda.
Namun setelah berada di lingkungan internasional, ia menemukan kenyataan yang berbeda. Orang-orang dari negara lain juga memiliki ketakutan. Mereka juga khawatir ketika harus bertemu orang baru. “Jadi semuanya pembelajaran,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta anak muda tidak menjadikan perbedaan sebagai beban. Jadikan sebagai ruang belajar. Kita belajar dari mereka. Mereka belajar dari kita.
Menulis sebagai senjata akademik
Di tengah percakapan tentang pendidikan, Steve menyelipkan satu hal yang kerap dianggap sepele. Menulis.
Bagi mahasiswa doktoral, menulis bukan pekerjaan tambahan. Menulis adalah bagian dari proses berpikir.
Gagasan harus ditata. Argumen harus diuji. Data harus dibaca. Kemudian semuanya harus dituangkan dalam tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Menurut saya, kita harus pintar menulis karena menulis itu mengkonstruksi pikiran,” katanya.
Ada pengalaman menarik yang ia ceritakan. Setelah melalui proses review akademik yang panjang, teman-temannya dari berbagai negara justru bertanya kepadanya tentang bagaimana ia menjalani proses tersebut. Di situ Steve melihat satu hal. Mahasiswa Indonesia tidak selalu berada di posisi belajar. Ada saatnya justru menjadi rujukan. Ada saatnya kita yang ditanya.
Ketahanan pangan dan Papua
Percakapan kemudian bergerak ke isu yang lebih besar. Ketahanan pangan. Steve melihat pangan bukan hanya persoalan ekonomi. Pangan adalah bagian dari ketahanan negara. Ia mencontohkan konflik di Timur Tengah.
Dalam situasi konflik, makanan dapat menjadi persoalan hidup dan mati. Orang bisa meninggal karena kelaparan.
Orang bisa menghadapi bahaya ketika berusaha mendapatkan makanan. Karena itu, negara yang tidak memiliki ketahanan pangan akan lebih mudah diguncang. Indonesia memiliki wilayah yang luas.
Papua, menurut Steve, memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan pangan nasional. Ia menilai program peningkatan produksi pangan yang dilakukan pemerintah merupakan langkah yang tepat. Namun ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting. Komunikasi.
Menurutnya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berjalan bersama. Ada enam provinsi di Papua. Gubernur. Wakil gubernur. Bupati. Wali kota. Semua memiliki peran. Termasuk membangun komunikasi dengan masyarakat adat. Sebab pembangunan tidak cukup hanya dikerjakan.
Ia juga harus dijelaskan. Masyarakat harus mengetahui tujuan. Mengetahui manfaat. Dan memahami arah kebijakannya.
Steve melihat pembangunan pangan tidak sesederhana membuka lahan. Ada proses panjang di belakangnya.
Lahan yang sebelumnya tidak produktif harus dipersiapkan. Pada tahap awal, hasilnya mungkin belum terlihat. Bahkan bisa tampak buruk. Tetapi setelah ditata dan ditanami, wajahnya berubah.
Menurut Steve, persoalan muncul ketika masyarakat hanya melihat satu potongan gambar. Yang terlihat hanya lahan yang baru dibuka. Sementara hasil akhirnya belum terlihat.
Karena itu, komunikasi publik menjadi penting. Pembangunan harus disertai penjelasan. Apa tujuannya. Untuk siapa. Dan hendak dibawa ke mana. Bagi Papua, persoalan pangan juga berkaitan dengan distribusi.
Selama ini sejumlah kebutuhan pangan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Barang datang melalui kapal. Kemudian didistribusikan. Proses panjang itu ikut memengaruhi harga. Maka pertanyaannya sederhana. Apakah Papua akan terus menunggu pasokan dari luar? Atau mulai membangun kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri? Steve memilih opsi kedua.
Bukan karena demi harga yang lebih terjangkau. Tetapi demi kemandirian.
Anak Papua dan masa depan Indonesia
Pada akhirnya, pembicaraan Steve tidak hanya berbicara tentang Papua. Ia berbicara tentang Indonesia. Tentang bagaimana anak muda melihat masa depan.
Tentang bagaimana pendidikan seharusnya menjadi jembatan. Bukan tiket untuk pergi selamanya. Tentang bagaimana diaspora dapat menjadi penghubung antara Indonesia dan dunia. Dan tentang bagaimana Papua tidak seharusnya terus didefinisikan oleh konflik.
Saya kembali melihat layar. Podcast itu terus berjalan. Steve masih berbicara. Saya menulis. Kalimat demi kalimat. Ada satu gagasan yang terasa paling kuat. Bahwa perubahan perspektif tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Kadang ia dimulai dari seseorang yang berdiri di negeri orang. Lalu ketika ditanya siapa dirinya, ia menjawab sederhana: “Saya orang Indonesia.”
Dari jawaban itu, percakapan bisa dimulai. Tentang Indonesia. Tentang Papua. Tentang perdamaian. Tentang masa depan. Dan mungkin, tentang bagaimana dunia seharusnya mengenal Papua tidak hanya sebagai wilayah yang pernah diberitakan karena konflik. Tetapi sebagai tanah yang memiliki manusia-manusia yang sedang belajar. Sedang berpikir. Sedang meneliti. Dan sedang menyiapkan masa depan. Steve adalah salah satunya.
Ia pergi jauh untuk belajar tentang perdamaian. Namun dari Inggris, ia justru semakin dekat dengan satu pertanyaan yang sejak awal menjadi bagian dari perjalanan hidupnya: Papua hendak dibawa ke mana?
Jawabannya mungkin belum selesai. Tetapi ia percaya, masa depan tidak boleh hanya ditunggu. Ia harus dipikirkan. Dikerjakan. Dan, seperti yang ia katakan, dipersiapkan dengan perdamaian. (*)


Tinggalkan Balasan