Catatan Gunadi Karjono : Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan RI tentang Jiwa Korsa, Disiplin, dan Satu Rasa

Suarakata, – Tidak ada AC. Air terbatas. Kamar mandi harus antre. Pakaian dicuci sendiri. Setiap hari harus berjalan lebih dari 4.000 langkah dengan seragam PDL lengkap.

Bagi sebagian orang, lima hari dalam kondisi seperti itu mungkin terasa berat. Namun bagi mahasiswa program doktoral Universitas Pertahanan Republik Indonesia, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari pelajaran penting tentang bela negara.

Sebelum pembekalan dimulai, sempat muncul pertanyaan sederhana dalam pikiran saya: mengapa mahasiswa S3 masih harus mengikuti Pembekalan Bela Negara?

Bukankah mahasiswa doktoral sudah terbiasa dengan ruang kuliah, penelitian, jurnal ilmiah, dan disertasi?

Lima hari kemudian, jawabannya justru saya temukan bukan di ruang kelas.
Jawabannya ada di barak. Ada di jalan yang kami lalui setiap hari. Ada di antrean kamar mandi. Ada di ember untuk mencuci pakaian.

Ada di kantin tempat kami bercanda sekaligus berdiskusi tentang masa depan studi. Dan ada di antara teman-teman yang sebelumnya bahkan belum saling mengenal.

Dari Tempat Tidur hingga Jiwa Korsa

Kami ditempatkan dalam barak. Sekitar 16 orang dalam satu barak. Sebagian besar datang dari latar belakang profesi, pengalaman, usia, dan kehidupan yang berbeda.

Begitu masuk barak, persoalan pertama yang muncul ternyata sangat sederhana: mencari tempat tidur yang “strategis”.

Ada yang memilih dekat jendela agar mendapat angin. Ada yang mencari posisi dekat kipas karena barak tidak menggunakan AC.

Dan tentu saja ada pertimbangan penting manusia modern: mencari tempat yang dekat dengan colokan listrik untuk mengisi daya telepon genggam.

Setelah urusan tempat tidur selesai, kami mulai beradaptasi dengan kondisi kamar mandi.

Kenyamanannya tentu tidak seperti di rumah. Air terbatas dan beberapa penerangan tidak berfungsi optimal. Perlahan kami belajar menyesuaikan diri.

Tidak ada lagi kenyamanan pribadi seperti di rumah. Semua tidur di barak, merasakan panas, antre kamar mandi, berkeringat, dan menjalani jadwal yang sama.

Di situlah pembelajaran sebenarnya dimulai. Bela negara ternyata tidak selalu berbicara tentang sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari kesediaan meninggalkan kenyamanan diri sendiri.

Pelajaran dari Sebuah Ember

Ada satu cerita kecil yang sampai sekarang membuat saya tersenyum.

Beberapa peserta sempat membicarakan perlunya membeli gayung dan ember. Ketika berada di kantin, saya melihat keduanya dijual dan langsung membelinya.

Gayung tentu jelas untuk mandi. Tetapi ember? Saat itu saya belum benar-benar memikirkannya. Beberapa hari kemudian, ketika pakaian bersih mulai berkurang, barulah jawabannya muncul.

“Oh, ternyata ember ini untuk mencuci pakaian.” Saya tertawa pada diri sendiri.
Sederhana. Bahkan mungkin sepele.

Namun dari sebuah ember saya belajar bahwa manusia ternyata mampu beradaptasi ketika fasilitas dan kenyamanan yang biasa dimiliki tiba-tiba dikurangi.

Yang berubah bukan hanya cara hidup. Tetapi juga cara melihat sesuatu. Lebih dari 4.000 Langkah Setiap Hari Perjalanan menuju lokasi pembekalan menjadi pengalaman lain yang tidak kami perkirakan sebelumnya.

Setiap berangkat dan kembali ke barak, kami harus berjalan kaki lebih dari 4.000 langkah. Sebagian jalan menanjak.

Kami berjalan menggunakan seragam PDL lengkap sambil membawa perlengkapan. Sampai di lokasi, pakaian sudah basah oleh keringat.

Selama kegiatan, pakaian perlahan mengering. Tetapi ketika kembali ke barak, keringat kembali membasahi tubuh.

Begitu setiap hari. Anehnya, justru perjalanan itu yang kemudian memperkuat kebersamaan. Kami berjalan bersama. Saling menunggu. Saling memperhatikan.

Ketika ada teman yang mulai tertinggal, yang lain belajar untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dari sana saya memahami satu hal. Jiwa korsa tidak cukup dijelaskan. Jiwa korsa harus dialami.

Ketika Kantin Menjadi Ruang Strategi

Setelah seharian mengikuti kegiatan, tubuh memang lelah. Tetapi terkadang mata belum ingin terpejam.

Kantin barak kemudian menjadi tempat berkumpul beberapa peserta. Pembicaraan pun mengalir.

Awalnya membahas pengalaman hari itu. Lama-lama pembicaraan bergeser kepada persoalan yang jauh lebih serius bagi mahasiswa doktoral: bagaimana menyelesaikan studi dan disertasi tepat waktu.

Kalau memungkinkan, tentu secepat mungkin. Kami kemudian bercanda menyebut diri sebagai “kelompok kantin”. Tetapi di balik candaan tersebut, muncul berbagai pembicaraan serius.

Kami berdiskusi tentang penelitian, strategi menyelesaikan pendidikan doktoral, hingga bagaimana kelak dapat saling membantu dalam perjalanan akademik.

Kantin akhirnya bukan hanya tempat mencari makanan. Ia menjadi ruang kecil tempat pertemanan tumbuh. Sekaligus tempat gagasan lahir.

 

Bela Negara Juga Tentang Mengendalikan Diri

Ada perubahan lain yang saya rasakan selama pembekalan. Sebelumnya saya cukup sering membuka media sosial. Selama mengikuti pembekalan, kebiasaan itu berkurang.

Yang menarik, setelah kegiatan berakhir, keinginan untuk terus memeriksa media sosial juga terasa lebih terkendali.

Kami juga belajar menghadapi rasa lelah, lapar, dan keinginan mencari kenyamanan tambahan, termasuk kebiasaan makan pada malam hari.

Dari situ saya kembali memahami bahwa disiplin tidak selalu hadir dalam bentuk perintah besar. Kadang disiplin justru dimulai dari kemampuan mengendalikan diri.

Sebab seseorang yang ingin memberikan sesuatu kepada bangsanya, terlebih dahulu harus mampu memimpin dirinya sendiri.

Ketika Tangan Saya Terangkat

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi menjelang acara malam.
Di depan kelas ditanyakan siapa yang bersedia mengikuti prosesi mencium Sang Merah Putih. Tanpa berpikir panjang, tangan saya terangkat.

Beberapa senior memberikan jempol. Ada rasa bangga saat itu.Bagi saya, mencium bendera bukan sekadar bagian dari seremoni. Ia adalah simbol penghormatan kepada negara yang telah memberikan begitu banyak kesempatan kepada kami.

Dalam latihan, saya kemudian menyadari bahwa saya belum cukup fasih menjalankan prosesi tersebut. Akhirnya bagian itu saya serahkan kepada orang yang lebih siap.

Saya memang tidak jadi melakukannya. Namun saya tidak menyesal telah mengangkat tangan. Sebab ketika pertanyaan tentang kecintaan kepada Indonesia diberikan, setidaknya hati saya spontan menjawab: “Saya bersedia.”

Lima Hari Jangan Dikurangi

Jika saya diminta memberikan masukan untuk pembekalan cohort berikutnya, jawabannya sederhana. Lima hari sudah tepat. Jangan dikurangi. Bukan karena kehidupan di barak nyaman. Bukan karena berjalan ribuan langkah menyenangkan.

Bukan pula karena kami menikmati berkeringat dan mencuci pakaian sendiri dengan ember. Justru pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk kebersamaan. Kami datang sebagai orang-orang yang berbeda. Lima hari kemudian, kami mulai memahami arti satu rasa.

Kami tidak lagi terlalu memikirkan siapa memiliki jabatan apa, berasal dari profesi mana, atau mempunyai latar belakang seperti apa.

Kami adalah individu-individu yang memperoleh kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan doktoral dan menerima dukungan pendidikan dari negara. Dan di balik kesempatan itu terdapat tanggung jawab.

Ilmu Tidak Boleh Berhenti pada Gelar

Pada akhirnya, lima hari tersebut memberikan jawaban atas pertanyaan yang sempat muncul di awal.

Mengapa mahasiswa S3 Universitas Pertahanan masih perlu mengikuti Pembekalan Bela Negara? Karena negara tidak hanya membutuhkan orang-orang berpendidikan tinggi.

Indonesia membutuhkan orang berilmu yang mengerti untuk siapa ilmunya digunakan. Gelar doktor nantinya tidak boleh berhenti sebagai pencapaian pribadi.

Penelitian harus memberikan manfaat. Ilmu harus menghasilkan solusi. Dan kesempatan pendidikan yang diberikan negara harus dikembalikan melalui pengabdian.

Lima hari di barak mungkin terlihat sederhana. Tidur bersama. Berjalan ribuan langkah. Berkeringat. Antre kamar mandi. Mencuci pakaian dengan ember. Berkumpul di kantin.

Namun dari kesederhanaan itulah kami belajar sesuatu yang lebih besar. Bahwa bela negara bukan hanya tentang slogan. Bukan hanya tentang seremoni. Bukan hanya tentang kata-kata.

Bela negara juga tentang disiplin, kemampuan mengendalikan diri, kepedulian kepada teman, kesediaan keluar dari kenyamanan, dan kesadaran bahwa ilmu yang kita miliki pada akhirnya harus kembali kepada Indonesia.

Jiwa korsa tumbuh ketika kita berjalan bersama. Bela negara tumbuh ketika kita mampu mengendalikan diri. Dan satu rasa hadir ketika perbedaan tidak lagi menjadi jarak. Lima hari mungkin singkat. Tetapi pelajarannya bisa panjang. (*)