MALANG,Suarakata.id — Senyum bahagia terpancar dari wajah Letkol Arm Ketut Wira Purbawan saat mengenakan toga dalam prosesi wisuda Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya, Senin, 21 September 2026.
Hari itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik yang ditempuh selama 2 tahun 8 bulan. Ketut Wira berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan IPK 3,93 dan predikat Dengan Pujian (Cum Laude).
Ia juga tercatat sebagai lulusan doktor ke-51 Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional Universitas Brawijaya.
Bagi Ketut Wira, wisuda tersebut bukan sekadar seremoni akademik. Di balik toga yang dikenakan, terdapat proses panjang yang menuntut kerja keras, disiplin dan ketekunan.
Perjalanan tersebut semakin bermakna karena ilmu yang dipelajari berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Disertasinya mengangkat tema adaptasi petani terhadap perubahan iklim dan peran TNI AD dalam mendukung ketahanan pangan.
Pilihan tema itu tidak terlepas dari persoalan sektor pertanian yang semakin kompleks. Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki ketergantungan besar terhadap sektor pertanian. Namun, petani harus berhadapan dengan perubahan iklim, penyusutan lahan sawah dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Dalam penelitiannya di Kabupaten Lamongan, Ketut Wira melihat bagaimana petani melakukan berbagai langkah adaptasi. Mulai dari penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, pengelolaan air, perbaikan irigasi hingga diversifikasi usaha tani.
Penelitian tersebut juga melihat peran TNI AD melalui pembinaan teritorial dalam mendukung masyarakat. Kehadiran prajurit di tengah masyarakat dipandang dapat menjadi salah satu jembatan dalam mendorong pendampingan, pemanfaatan teknologi serta penguatan sektor pertanian.
Dari penelitian itu, Ketut Wira menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari ketahanan nasional. Sebab, persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan stabilitas masyarakat.
Menariknya, hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai disertasi. Ketut Wira juga menyusun dua buku yang dirancang agar gagasan dan hasil penelitiannya lebih mudah dipahami serta diterapkan di lapangan.
Karya akademiknya juga mendapat ruang di tingkat internasional melalui dua publikasi jurnal terindeks Scopus, masing-masing pada peringkat Q2 dan Q3.
Pencapaian sebagai doktor menjadi bagian lain dari perjalanan panjang Ketut Wira sebagai prajurit. Sebelumnya, ia dikenal konsisten menorehkan prestasi dalam berbagai pendidikan militer, termasuk Sesarcab Armed, Suspastafyon, Diklapa II, pendidikan strategis intelijen hingga Dikdandim tipe A.
Pada Pendidikan Dandim Tipe A Ia berhasil meraih peringkat pertama. Capaian ini menjadi bukti konsistensinya dalam meningkatkan kapasitas, kepemimpinan, dan profesionalisme sebagai perwira TNI AD.
Ia juga pernah menjalankan penugasan di Papua melalui Satgas 2019–2021 serta membawa pengalaman pengabdian hingga ke luar negeri, termasuk Brazil dan Australia.
Dalam perjalanan kariernya, Ketut Wira pernah dipercaya sebagai Danyonarmed 8/Udhata Yudha, Dandim 0812/Lamongan kemudian mengemban amanah sebagai Pabandya-2/Binfunglog di lingkungan Slogad TNI AD dan saat ini mengemban tanggung jawab baru sebagai Kajasdam IX/Udayana.
Namun, di tengah berbagai capaian tersebut, hari wisuda tetap menjadi momen yang memiliki tempat tersendiri.
Toga yang dikenakan hari itu menjadi simbol selesainya satu tahapan sekaligus awal bagi tanggung jawab baru. Gelar doktor bukan akhir dari perjalanan belajar, melainkan kesempatan untuk membawa ilmu lebih jauh agar dapat memberi manfaat.
Ketut Wira menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para promotor, penguji, civitas akademika Universitas Brawijaya, Pemerintah Kabupaten Lamongan, keluarga dan sahabat yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya.
Wisuda itu akhirnya bukan hanya tentang gelar Doktor dan predikat Cum Laude. Ada perjalanan, pengabdian dan gagasan yang ikut menyertainya. Dari ruang akademik Universitas Brawijaya, Ketut Wira membawa pulang bukan hanya gelar, tetapi juga sebuah ikhtiar untuk ikut menjawab persoalan ketahanan pangan melalui ilmu dan pengabdian.(*)


Tinggalkan Balasan