DENPASAR,Suarakata.id — Perjalanan karier militer Letkol Arm Ketut Wira Purbawan S.IP., M.Han., terus bergerak ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah melewati berbagai penugasan, pendidikan, hingga pengalaman memimpin satuan, ia kini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Jasmani Militer Kodam IX/Udayana (Kajasdam IX/Udayana).

Penugasan tersebut menjadi babak baru bagi perwira kelahiran Menyali, 23 Mei 1983 itu.

Sebelum dipercaya menjabat Kajasdam IX/Udayana, Ketut Wira menjalankan tugas sebagai Pabandya-2/Binfunglog di lingkungan Staf Logistik Angkatan Darat (Slogad) TNI AD.

Jabatan tersebut melengkapi perjalanan panjangnya sebagai prajurit TNI AD yang tidak hanya ditempa melalui pengalaman di lapangan, tetapi juga melalui pendidikan dan pengembangan pengetahuan.

Nama Ketut Wira sebelumnya cukup dikenal di lingkungan Kodam V/Brawijaya. Ia pernah dipercaya memimpin Yonarmed 8/Uddhata Yudha selama sekitar 1,4 tahun.

Saat memimpin satuan tersebut, ia meninggalkan sejumlah jejak yang tidak hanya berkaitan dengan tugas kemiliteran.

Salah satunya adalah pembangunan tempat ibadah umat Hindu di lingkungan satuan yang diberi nama Pura Ksatria Santi Dharma.

Di lokasi yang sama, ia juga ikut mendorong renovasi masjid. Baginya, keberadaan rumah ibadah merupakan bagian penting dalam kehidupan prajurit dan lingkungan satuan.

Sejumlah fasilitas satuan juga mendapat perhatian. Mulai dari renovasi Monumen Yudhagusema pada 2022, pembangunan Monumen Merah Putih, renovasi Mako Yonarmed 8/UY, aula hingga gapura satuan.

Namun, kepemimpinan bagi Ketut Wira bukan hanya soal membangun fasilitas.

Ia juga dikenal memberi perhatian kepada anggotanya. Momen-momen penting dalam kehidupan prajurit tidak dilewatkan begitu saja. Baginya, hubungan antara pemimpin dan anggota dibangun dari rasa saling menghargai.

Pengalaman memimpin Yonarmed 8/UY menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dalam perjalanan kariernya.

“Saya sangat bersyukur pernah menjadi pemimpin di Yonarmed 8/UY. Prajuritnya sangat loyal dan baik. Sehingga saya pun menghargai mereka. Tanpa mereka saya tidak berarti apa-apa,” ujarnya.

Sebelum itu, Ketut Wira juga pernah dipercaya sebagai Danyonarmed 8/105 Tarik Dam V/Brawijaya.

Kariernya kemudian berlanjut sebagai Dandim 0812/Lamongan. Ia resmi dilantik oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf pada 26 Juni 2023.

Selama menjalankan tugas sebagai Dandim 0812/Lamongan, Ketut Wira memiliki sebutan yang cukup melekat, yakni “Bang Takir”. Sebutan ini merupakan kependekan dari “Babinsa Lamongan Tanggap Hingga Akhir.”

Semangat tersebut menggambarkan cara pandangnya terhadap tugas Babinsa. Tanggap terhadap persoalan di tengah masyarakat, hadir ketika dibutuhkan, dan tidak meninggalkan tugas sebelum persoalan benar-benar dituntaskan.

Lamongan menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pengabdiannya. Di wilayah itu pula, perhatian Ketut Wira terhadap persoalan masyarakat semakin dekat dengan dunia akademik yang ia tekuni.

Pada 6 April 2026, ia resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Brawijaya, Malang.

Disertasinya mengangkat persoalan ketahanan pangan dan kemampuan petani beradaptasi terhadap perubahan iklim, sekaligus melihat bagaimana peran TNI AD melalui pembinaan teritorial dapat mendukung ketahanan pangan.

Penelitian tersebut mengambil Kabupaten Lamongan sebagai salah satu lokasi kajian.

Tema itu tidak lahir dari ruang akademik semata. Pengalamannya selama menjalankan tugas di lapangan ikut membentuk cara pandangnya terhadap persoalan masyarakat.

Ia melihat bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras. Ada persoalan perubahan iklim, kondisi lahan, akses petani, teknologi, pengelolaan air hingga peran berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Dari penelitian itu, Ketut Wira juga menghasilkan dua buku yang disusun agar gagasan dan hasil penelitiannya dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Gagasan akademiknya juga mendapat ruang di tingkat internasional melalui dua publikasi jurnal terindeks Scopus, masing-masing berada pada peringkat Q2 dan Q3.

Sidang doktoralnya ditutup dengan hasil yang membanggakan. Ia lulus dengan IPK 3,93 dan predikat pujian (cumlaude).

Yang menarik, pendidikan doktor tersebut diselesaikan dalam waktu 2 tahun 8 bulan. Ia tercatat sebagai lulusan doktor ke-51 dari Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional.

Capaian akademik itu sejalan dengan rekam jejaknya sejak awal pendidikan militer.

Ketut Wira beberapa kali meraih peringkat atas dalam pendidikan kecabangan dan pengembangan karier. Ia pernah menjadi peringkat pertama Sesarcab Armed 2005, peringkat ketiga Suspatih Armed 2007, serta peringkat pertama Suspastafyon Armed 2009.

Ia kembali meraih peringkat pertama pada Suspakorbantem Armed 2012 dan Diklapa II Armed 2014. Pada 2019, ia juga menjadi peringkat pertama Diksuspa Intel Strategis.

Memasuki 2026, perjalanan profesionalnya kembali mencatat prestasi. Ia mengikuti Pendidikan Dandim Tipe A dan berhasil meraih peringkat pertama. Capaian ini menjadi bukti konsistensinya dalam meningkatkan kapasitas, kepemimpinan, dan profesionalisme sebagai perwira TNI AD.

Pengalaman tugasnya pun beragam.

Ia pernah menjalankan tugas dalam Satgas Papua pada periode 2019–2021. Pengalaman penugasan di luar negeri juga pernah dijalaninya, antara lain ke Brazil pada 2015 dan mengikuti KKLN di Australia pada 2018.

Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk dirinya sebagai prajurit sekaligus pemimpin.

Kini, setelah melalui berbagai medan pengabdian dan penugasan, Ketut Wira kembali mendapat kepercayaan untuk mengemban tanggung jawab baru sebagai Kajasdam IX/Udayana.

Jabatan tersebut membawa tanggung jawab yang berbeda. Namun, satu hal tetap sama: bagaimana menjalankan amanah dengan disiplin, bekerja bersama anggota, dan memberi manfaat bagi satuan.

Di luar kedinasan, Ketut Wira dikenal memiliki kegemaran berolahraga, salah satunya sepak bola.

Mungkin ada benang merah dari kegemarannya itu dengan perjalanan kariernya. Olahraga mengajarkan disiplin, kerja sama dan ketahanan. Nilai-nilai yang juga dibutuhkan dalam kehidupan seorang prajurit.

Memasuki penugasan di Jasdam IX/Udayana, ia membawa semangat baru melalui sebutan “Bang Jasmil”, yang berarti “Bangkitkan dan Gelorakan Jasmani Militer.”

Semangat itu menjadi bagian dari upaya membangun prajurit yang memiliki kesiapan fisik, mental, disiplin, serta daya juang dalam menjalankan tugas.

Di bawah semangat tersebut, ia juga membawa konsep Ksatria Samapta. Yakni prajurit yang Solid, Aktif, Militan, Adaptif, Profesional, Tangguh dan Andal Hingga Akhir.

Semua nilai itu dirangkum dalam satu semangat: “Samapta Hingga Akhir.”

Dari satuan artileri, memimpin Kodim, menjalankan tugas di lingkungan Slogad TNI AD, hingga kini dipercaya sebagai Kajasdam IX/Udayana, perjalanan Ketut Wira menunjukkan bahwa karier tidak dibangun dalam satu malam.

Ada penugasan. Ada pendidikan. Ada proses panjang.

Dan di setiap tahap itu, ia terus membawa satu prinsip sederhana: bekerja dengan sungguh-sungguh, menghargai orang-orang yang berada di sekelilingnya, serta menjalankan setiap amanah sebaik mungkin.

Kini, lembaran baru itu dimulai di Kodam IX/Udayana. (Sarifah Latowa)