BANGKALAN,Suarakata.id – Di antara riuh sorak penonton dan derap kaki sapi yang beradu cepat di lintasan, ada satu nama yang selalu lekat dengan dunia karapan sapi: Muhammad Thohir, atau akrab disapa Haji Thohir.

Meski kesehariannya berada di Gresik, Jawa Timur, namanya tak pernah asing bagi masyarakat Madura. Ia dikenal sebagai tokoh pelestari budaya kerapan sapi warisan yang tak ternilai, identitas asli tanah kelahirannya.

Baginya, karapan sapi bukan sekadar perlombaan. Ia adalah harga diri, kebanggaan, dan napas budaya yang harus dijaga.

“Merawat sapi kerapan itu seperti merawat anak sendiri,” ucapnya. Pemberian pakan, kebersihan kandang, hingga latihan fisik dilakukan dengan penuh kesungguhan. Biaya perawatan yang besar tak membuatnya mundur. Cinta pada budaya membuat semua itu terasa wajar.

 

Antusias di Piala Bupati Bangkalan

Minggu, 21 September 2025, Stadion Kerapan Sapi R.P. Moh. Noer, Bangkalan, menjadi saksi pesta budaya. Ajang Kerapan Sapi Piala Bupati Bangkalan kembali digelar, bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi Bangkalan ke-494.

Di bangku kehormatan, Haji Thohir duduk berdampingan dengan Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, Pelindung sekaligus Penasehat Paguyuban Pakar Sakera. Mayjen Farid menegaskan pentingnya kerapan sapi untuk terus dilestarikan.

“Budaya ini harus diwariskan pada generasi mendatang. Kalau bisa, setiap kabupaten di Madura memiliki stadion kerapan sapi,” katanya penuh semangat.

Cinta yang Diajarkan Sejak Dini

Cerita serupa datang dari Nonik, pemilik sapi kerapan King Hajar Bos 88 asal Sampang. Hobinya sudah tumbuh sejak kecil, diwariskan sang kakek. Sapi miliknya diperlakukan layaknya keluarga sendiri.

Sehari-hari, sapinya diberi 35 butir telur ayam kampung. Saat menghadapi lomba, jumlahnya bisa meningkat hingga 45 butir per ekor. Biaya perawatan pun tidak kecil, mencapai 8 juta per bulan, bahkan melonjak hingga 14 juta bila musim lomba tiba.

“Ini memang hobi sejak kecil. Kalau sudah lihat sapi berlari di arena, rasanya semua lelah dan biaya terbayar,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dukungan Pemerintah Daerah

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menegaskan bahwa kerapan sapi adalah bagian dari identitas Madura yang harus dijaga. Dengan tema “Bangkalan Berbenah dan Berbudaya”, ia mengajak masyarakat bersama-sama melestarikan warisan ini.

“Budaya kerapan sapi jangan sampai diakui daerah lain atau bahkan negara lain. Kita harus jaga bersama, jangan sampai pudar oleh perkembangan zaman,” tegasnya.

Menariknya, gelaran kali ini juga sudah menyesuaikan dengan era digital. Peralatan modern dipasang untuk mengukur ketepatan dan kecepatan sapi di garis start hingga garis finish, demi menjaga sportivitas.

Hasil Pertandingan

Pada kategori atas, Berlian Sonar milik H Heri Kades Muda keluar sebagai juara pertama, disusul Preman DRT, dan Juara III Sonar Muda milik H. Samsudin.

Sementara pada kategori bawah, gelar juara I diraih Pelor Mas milik Heri Darmanto, juara II diraih Sonar Muda milik H. Samsukdin, dan juara III oleh Gagak Sakti milik R.H. Moh. Tohir.

Api Tradisi yang Tak Pernah Padam

Kerapan sapi bukan sekadar tontonan. Ia adalah wujud gotong royong, kebanggaan kolektif, sekaligus simbol keberanian masyarakat Madura.

Bagi sosok seperti Haji Thohir, Mayjen TNI Farid Makruf dan Nonik, menjaga tradisi ini sama artinya menjaga jati diri. Di tengah derasnya arus modernisasi, karapan sapi tetap tegak berdiri sebagai warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*)