PAMEKASAN, Suarakata.id – Tradisi Kerapan Sapi kembali bergema di Madura. Lapangan Asam Manis, Pamekasan, menjadi saksi kemeriahan kerapan dalam rangka ulang tahun Tim Anti Virus, Sabtu dan Minggu, (7–8/2/2026).
Ajang kerapan sapi, saat ini tak hanya sekedar lomba. Tapi sekarang sudah menjelma menjadi panggung kebanggaan budaya. Arena pementasan sapi-sapi terbaik. Sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan bagi masyarakat Madura.
Tim Gagak Rimang tampil dominan. Perhelatan kerapan sapi memperingati ulang tahun Tim Anti Virus kali ini, juga dimaksudkan untuk merayakan momen bersejarah bagi Tim Anti Virus yang tahun 2025 lalu berhasil menjuarai Piala Presiden untuk pertama kalinya.
Pada even ulang tahun kali ini, Tim tamu dari Bangkalan tampil dominan, Tim Gagak Rimang berhasil memborong lima gelar juara sekaligus.
Prestasi yang mencuri perhatian para penggemar kerapan sapi ini, merupakan sejarah baru di dunia kerapan sapi. Kerapan sapi sebagai token anniversary ini digelar selama 2 hari.
Hari pertama kelas sapi besar plus galatama dan hari kedua kelas sapi kecil. Hari pertama kerapan, berlangsung sengit karena melibatkan pasangan-pasangan sapi jagoan dari seluruh kabupaten Madura dan juga dari Jawa.
Juara di golongan atas/menang walaupun tidak dipertandingkan di final, karena ketiganya berasal dari Tim Gagak Rimang, tercatat pasangan sapi; Tembak Langsung, Gagak Rimang dan Istana GRT. Sementara itu, di kelompok Galatama atas dan bawah tim GRT juga menyabet masing-masing satu juara. Jadi total lima trophy mereka bawa pulang.
Pada Golongan bawah/kalah berturut-turut; Sonar Muda keluar sebagai juara 1. Disusul Sorong Sakti 99 di posisi juara 2 dan juara 3 DRT Prabu.
Antusiasme peserta kerapan sapi memperingati HUT sebuah tim kerapan sapi, merupakan indikator naiknya animo peserta kerapan sapi.
Hari pertama saja diikuti oleh 64 pasang sapi. Hari kedua meningkat menjadi 78 pasang. Angka ini menjadi sinyal kuat. Kerapan sapi terus tumbuh. Minat masyarakat kian meningkat. Ini artinya, budi daya sapi berjalan dengan baik, yang otomatis akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi riil dikalangan peternak sapi.
Trend ini juga menjadi pertanda bahwa tradisi kerapan sapi semakin membumi untuk dilestarikan di pulau garam ini.
Kerapan, dalam bahasa Indonesia, berarti balap. Kerapan sapi adalah balap sapi. Tradisi ini satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Ia hidup. Ia berakar kuat di Madura. Penyelenggaraan kerapan sapi ulang tahun tiap tim ini berawal dari inisiatif Tim Gagak Rimang.
Langkah ini memicu semangat kelompok lain untuk memeriahkan hari jadi timnya. Jadilah tradisi Regenerasi semakin marak. Peremajaan berjalan. Kerapan sapi Madura kian terjaga.
Pelestari budaya Karapan Sapi, Abah Thohir, mengaku bersyukur. Animo pengerap sapi meningkat sangat signifikan. Namun, ia berharap pemerintah agar lebih menaruh perhatian lagi kepada budaya kerapan sapi ini.
“Perhatian pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam pembenahan lapangan kerapan dan besarnya biaya penyelenggaraan kerapan”, ujarnya.
Ia mencontohkan besarnya biaya penyelenggaraan Kerapan Sapi Piala Presiden. Dana kegiatan setiap tahun justru semakin berkurang.
“Kondisi ini tentu memprihatinkan,” ujarnya selaku ketua penyelenggara.
Harapannya, Pemprov dan Bakorwil bisa mendukung dana penyelenggaraan yang memadai agar kerapan sapi dapat diselenggarakan dengan meriah. Tidak memberatkan pemilik sapi dan masyarakat dapat menonton kerapan sapi dengan gratis agar penonton membludak. Karena inilah budaya Madura, adalah hak setiap warga Madura untuk bisa menikmati budayanya.

Pengusaha Madura yang sukses di Gresik ini, memiliki nama lengkap R. H. Muhammad Thohir, adalah Ketua Pakar Sakera (Paguyuban Kerapan Sapi Madura) dikenal luas sebagai tokoh yang totalitas mengabdikan diri untuk Karapan Sapi.
Baginya, kerapan sapi bukan sekadar hobi. Ini adalah identitas Madura. Bagi Haji Thohir, budaya adalah segalanya. Uang bukan ukuran.
“Prinsip saya sederhana. Uang bisa dicari kembali. Tapi budaya harus dijaga dan diwariskan. Ini kewajiban kita semua,” tegasnya.
Perhatian serupa disampaikan Mayjen TNI Dr. Farid Makruf. Pelindung dan Penasehat Paguyuban Pakar Sakera itu menyebut, kerapan sapi harus menjadi perhatian serius pemerintah.
“Kerapan sapi ini kan sudah jadi tradisi dan budaya Madura selama bertahun-tahun. Di masa yang akan datang juga akan terus berlangsung, saya berharap, di setiap kabupaten, ada pembenahan Infrastruktur untuk kerapan sapi seperti lapangan pacu yang memadai, tribun penonton, akses jalan menuju tempat kerapan dan lapangan parkirnya harus dibenahi, sehingga lebih layak, ” katanya.
Saat ini, menurutnya Ketua Pakar Sakera sudah banyak melahirkan aturan-aturan baru yang inovatif dan kreatif. Mulai dari aturan waktu start, pemakaian lampu di garis start dan penggunaan kamera VAR di garis finish. Sehingga kerapan sapi sekarang lebih cepat, tertib dan lebih fair sehingga lebih enak dinikmati sebagai sebuah tontonan.
Menurut Farid, kerapan sapi bukan hanya kompetisi. Ini adalah perayaan budaya. Ajang silaturahmi. Perekat persaudaraan masyarakat Madura. Sebagai putra Madura tulen, Farid memahami betul makna kerapan sapi ini. Event seperti ini sering dimanfaatkan pemilik sapi. Untuk mencoba sapi baru. Atau melatih sapi jelang Piala Presiden 2026 nanti.
“Bagi penonton, inilah hiburan sesungguhnya. Tradisi turun-temurun dari leluhur ratusan tahun lalu,” tutupnya.
Sebuah penegasan. Bahwa Karapan Sapi bukan sekadar balapan. Ia adalah warisan. Ia adalah jati diri. Dan ia harus dijaga agar terus hidup. (*)


Tinggalkan Balasan