SURABAYA,Suarakata.id —Sebuah satuan baru tidak hanya dibangun dengan barak, kendaraan tempur, atau perlengkapan militer. Ia lahir dari karakter orang-orang yang menghuninya. Dari cara berpikir. Cara memimpin. Hingga cara mengabdi kepada masyarakat.
Pesan itulah yang mengemuka saat Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., memberikan pembekalan kepada 590 personel Perwira dan Bintara yang akan menjadi pengawak Brigade Infanteri (Brigif) dan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) jajaran Kodam V/Brawijaya, di Gedung Balai Prajurit Makodam V/Brawijaya, Jumat (24/7/2026).
Di hadapan 63 Perwira dan 527 Bintara yang baru menuntaskan Pendidikan Pembentukan (Diktuk) Reguler, Pangdam tidak hanya berbicara tentang tugas. Ia berbicara tentang warisan.
Sebab mereka bukan datang ke satuan yang telah mapan. Mereka adalah generasi pertama yang akan menentukan wajah Yonif Teritorial Pembangunan pada masa depan.
“Apa yang kalian bangun hari ini akan menjadi fondasi satuan ini bertahun-tahun ke depan,” tegas Pangdam. Kalimat itu menjadi penanda. Bahwa penugasan kali ini bukan sekadar rotasi personel. Melainkan proses membangun identitas.
Karena itu, Pangdam meminta seluruh personel tidak melihat keterbatasan sebagai alasan untuk mengeluh. Justru sebaliknya. Satuan yang masih baru memberi ruang untuk menanamkan budaya disiplin, loyalitas, profesionalisme, dan kebersamaan sejak awal.

Tidak ada tradisi yang harus diwarisi. Mereka sendirilah yang akan menciptakan tradisi itu.
Mayoritas prajurit di Brigif dan Yonif TP merupakan lulusan pendidikan pertama. Di sinilah peran para Perwira dan Bintara reguler menjadi sangat penting. Mereka diminta hadir bukan hanya sebagai atasan, tetapi juga pembimbing yang membentuk karakter prajurit muda.
Bagi para Perwira yang akan menjabat Komandan Peleton, Pangdam mengingatkan bahwa pangkat bukan sekadar tanda kewenangan. Kepemimpinan harus dibangun melalui keteladanan, kedewasaan berpikir, dan kepedulian kepada anggota.
Sementara para Komandan Regu dituntut menjadi sosok yang dekat dengan prajurit. Tempat bertanya ketika bingung. Tempat belajar ketika ragu. Tempat berlindung ketika menghadapi kesulitan.
Di tengah tantangan membangun satuan baru, Pangdam juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan institusi. Setiap prajurit diminta menjauhi segala bentuk pelanggaran disiplin maupun hukum serta menjadikan Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI sebagai pedoman dalam setiap langkah pengabdian.
Namun, pembekalan itu tidak berhenti pada soal disiplin.
Pangdam menegaskan bahwa kehadiran Yonif Teritorial Pembangunan harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Keberadaannya bukan hanya memperkuat pertahanan wilayah, tetapi juga mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Di penghujung arahannya, ia menyampaikan kalimat yang menggambarkan filosofi seorang prajurit.
“Prajurit yang hebat bukanlah prajurit yang paling ditakuti, melainkan prajurit yang paling dihargai dan paling dibutuhkan.”
Sebuah pesan yang menggeser makna kekuatan. Bahwa kebesaran seorang prajurit tidak hanya diukur dari kemampuannya bertempur, tetapi juga dari kehadirannya yang memberi rasa aman, menjadi solusi, dan menghadirkan harapan bagi masyarakat.
Karena pada akhirnya, membangun batalyon tidak hanya membangun kekuatan militer. Lebih dari itu, membangun kepercayaan rakyat kepada mereka yang memilih jalan pengabdian. (*)


Tinggalkan Balasan