Oleh: Anita Nugroho

Ada masa ketika Anita Nugroho memilih berhenti mengejar mimpi.

Bukan karena ia menyerah. Bukan pula karena tidak lagi memiliki cita-cita. Ada alasan yang jauh lebih besar. Putranya.

Semuanya bermula ketika dokter memberikan diagnosa tentang kondisi putranya. Sejak saat itu, dunia Anita seperti berubah arah. Mimpi-mimpi yang sebelumnya ingin ia kejar mendadak tidak lagi menjadi prioritas.

Baginya, putranya jauh lebih berharga daripada seluruh mimpi yang pernah ia miliki. Ia pun memilih berhenti sejenak.

Satu per satu tawaran yang datang ditolak. Berbagai alasan diberikan. Namun alasan sebenarnya sederhana: ia ingin memberikan seluruh perhatian kepada putranya.

Hari-harinya kemudian dipenuhi oleh sang anak.

Bahkan jurnal-jurnal yang ia tulis pun tidak jauh dari kisah tentang putranya. Seolah seluruh dunianya hanya berputar di satu titik.

Dalam doa, ia pun pernah mempertanyakan hal yang sama kepada Tuhan.

Apa gunanya memiliki seluruh dunia jika putranya harus tertinggal di belakang?

Pertanyaan itu membuatnya memilih jalan yang berbeda.

Sampai sebuah telepon datang dan perlahan mengubah keputusan tersebut.

Seorang ibu sekaligus guru besar kembali menghubunginya.

Pesannya sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang kemudian mengubah perjalanan hidup Anita.

“Tolong berikan dirimu kesempatan, sekali ini saja. Cobalah dulu, di sini, di UNHAN.” Anita akhirnya mencoba.

Mungkin awalnya hanya untuk menghargai kepercayaan yang diberikan kepadanya. Namun ketika berbagai tahapan ujian mulai dijalani, sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan kembali muncul.

Semangat berkompetisi.

Setelah sekian lama menempatkan dirinya di belakang, Anita kembali berhadapan dengan tantangan untuk dirinya sendiri.

Tahapan demi tahapan ujian dilewati. Ada lelah. Ada tekanan. Ada pula keraguan.

Namun di tengah semua itu, ia merasakan kembali sesuatu yang pernah hilang: keinginan untuk berjuang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali menyampaikan sebuah keinginan kepada Tuhan.

Ia ingin lulus. Bukan sekadar ingin mencoba. Ia ingin berhasil.

Dan doa itu akhirnya menemukan jawabannya.

Anita lulus dan menjadi bagian dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).

Bagi sebagian orang, kelulusan mungkin menjadi garis akhir dari sebuah perjuangan.

Namun bagi Anita, justru sebaliknya. Kelulusan tersebut adalah awal.

Awal perubahan hidup. Awal perjuangan baru. Awal dari perjalanan yang kembali mempertemukannya dengan mimpi yang sempat ia kubur.

Tetapi ada satu hal yang berubah. Kali ini, ia tidak ingin berjalan hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.

Ia percaya, ada anugerah Tuhan di balik setiap langkah yang membawanya sampai ke titik ini.

Sebab hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ada mimpi yang harus ditunda. Ada kesempatan yang terpaksa dilepaskan. Ada jalan yang sengaja dipilih karena keluarga. Dan ada masa ketika seseorang benar-benar merasa bahwa semuanya telah berakhir.

Tetapi ternyata, belum tentu demikian. Terkadang Tuhan hanya sedang mengubah arah. Membawa seseorang melewati jalan yang tidak pernah ia bayangkan.

Mempertemukannya dengan orang-orang yang datang pada waktu yang tepat. Kemudian membuka pintu ketika seseorang sudah hampir berhenti mengetuk.

Perjalanan Anita di UNHAN RI menjadi pengingat bahwa berhenti sejenak bukan berarti gagal.

Menunda mimpi bukan berarti kehilangan mimpi. Dan ketika sebuah harapan terasa begitu jauh, bukan berarti harapan itu telah hilang.

Sebab selalu ada jalan. Selalu ada kesempatan. Dan selalu ada harapan.

Hanya saja, manusia tidak selalu tahu kapan jalan itu akan terbuka.

Karena jalan Tuhan memang tidak selalu terselami. Semuanya seturut waktu-Nya. (*)