MALANG, Suarakata.id – Ramadan datang. Semua ingin berbagi. Termasuk anak-anak disabilitas. Jumat sore, 27 Februari 2026. Gerimis turun di Kepanjen. Jalan Achmad Yani sore itu basah oleh guyuran hujan. Membuat arus kendaraan yang melintas ditepi jalur utama Malang–Kepanjen, semakin padat. Dipinggir jalan itu puluhan siswa Sekolah Luar Biasa BC Kepanjen berdiri rapi dengan baju seragam mereka.
Mereka membawa takjil, kue, dan nasi kotak. Wajah mereka antusias. Walaupun bila diperhatikan dengan cermat, ada gerakan-gerakan mereka yang terkadang memicu rasa kasihan dan simpati. Ya, mereka memang memiliki kekurangan secara fisik dan motorik. Namun keterbatasan, itu tidak mengurangi semangat dan kegembiraan bagi kegiatan mereka sore itu. Dengan tetap bersemangat dibawah pengawasan para guru dan pengasuhnya.
Mereka menunggu pejalan kaki, motor dan terkadang mobil angkot melambat. Tangan diayun pelan memberi tanda bahwa mereka akan memberikan sesuatu. Bingkisan disodorkan. Ada senyum. Ada tatapan penuh harap. Para guru mendampingi mereka berbagi dengan telaten. Mitra kerja juga ikut berpartisipasi membantu.
Hujan tak menghentikan niat. Semangat tetap menyala. Kegiatan ini bertajuk, “Disabilitas Peduli.”
Program Ramadan SLB BC Kepanjen. Tujuannya sederhana. Mendidik anak-anak disabilitas ini untuk Berbagi rezeki. Belajar mandiri. Belajar berinteraksi ditengah keterbatasan yang mereka miliki.

Pesertanya siswa tunagrahita dan tunarungu. Sesekali terlihat bahasa isyarat. Ada tawa kecil di balik masker. Ada kebanggaan di mata mereka.
Ketua panitia, Hamzah Aribath, menjelaskan. Peserta dipilih sesuai kesiapan anak. Dilihat dari kemampuan interaksi sosial. Direkomendasikan guru pendamping. Agar aman. Agar nyaman. Agar semua dapat kesempatan belajar yang sama.
Menurut Hamzah, berbagi takjil adalah pengalaman berharga. Anak-anak disabilitas mampu berkontribusi.
Mampu memberi kebahagiaan. Ini latihan kemandirian. Ini juga ibadah. Bagi sebagian, ini pengalaman pertama. Bagi yang lain, ini penguatan rasa percaya diri.
Keterbatasan Bukan Penghalang Kepala sekolah, Yulia Esti Mulyani, menegaskan. Aksi ini tidak hanya sekadar bagi-bagi takjil. Ini pernyataan sikap.
Keterbatasan fisik atau sensorik bukan penghalang berbuat baik. Disabilitas bukan identik ketidakberdayaan.
Ia menambahkan, penyandang disabilitas juga mengejar berkah Ramadan. Mereka ingin bermanfaat.
Ingin dihargai. Terlibat dalam aksi kemanusiaan memberi rasa bermakna. Meningkatkan percaya diri. Menjaga kesehatan mental.

Kegiatan “Disabilitas Peduli” digelar tiga kali. Hari pertama: 27 Februari 2026. Hari kedua: Jumat, 6 Maret 2026. Hari ketiga: Jumat, 13 Maret 2026.
Program ini berkolaborasi dengan Kantor Urusan Agama Kepanjen dan Penyuluh Agama Islam setempat di bawah Kementerian Agama Kabupaten Malang.
Empat staf Kemenag turun langsung. Menyatu di tengah hujan. Menyapa pengguna jalan. Mendampingi anak-anak berbagi.
Muhammad Rizal Agus Setiawan, salah satu staf Kemenag, menyebut kolaborasi ini hangat dan bermakna. Semangat inklusi terasa nyata. Kepedulian hadir dalam setiap interaksi. Harapannya sederhana.
Sinergi ini terus berlanjut. Program makin kreatif.
Dampak makin luas. Kepercayaan diri anak-anak tumbuh. Kemandirian menguat. Nilai spiritual terjaga.
Di tengah gerimis Kepanjen, anak-anak disabilitas mengajarkan satu hal penting: keterbatasan bukan penghalang untuk menebar kebahagiaan. (*)


Tinggalkan Balasan