SURABAYA,Suarakata.id – Pagi belum sepenuhnya terang ketika Lapangan Makodam V Brawijaya mulai dipenuhi langkah-langkah yang serempak. Napas teratur. Kaos lari basah oleh embun. Brawijaya Run 2025 pun dimulai.

Sebanyak 3.500 peserta ambil bagian. Prajurit. Polisi. Aparatur sipil. Warga biasa. Mereka berlari di lintasan yang sama. Tanpa sekat. Tanpa pangkat.

Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., hadir langsung di tengah kerumunan. Ia ikut berjalan. Menyatu dengan peserta lain.

“Ini tidak hanya soal olahraga,” ujar Rudy Saladin. Suaranya tegas, datar, khas seorang prajurit. “Brawijaya Run adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Tempat kita bertemu, bergerak bersama, dan peduli pada sesama,” tegasnya.

Bagi Pangdam, kebugaran fisik harus berjalan seiring dengan kepekaan sosial. Karena itu, kegiatan ini tidak berhenti di garis finis. Disela-sela kegiatan mereka membuka donasi bagi korban bencana yang ada di Sumatra.

Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan untuk membantu korban bencana alam di Sumatera.

“Kebersamaan hari ini harus memberi manfaat lebih luas. Tidak hanya untuk kita yang hadir, tapi juga untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” katanya.

Hal senada disampaikan Kapok Sahli Pangdam V Brawijaya, Brigjen TNI Singgih Pambudi. Menurutnya, Brawijaya Run adalah sarana membangun solidaritas yang sederhana, namun berdampak panjang.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa TNI selalu hadir bersama rakyat. Tidak hanya dalam tugas pertahanan, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan,” ujar Singgih.

Ia menambahkan, interaksi langsung antara prajurit dan masyarakat dalam suasana santai seperti ini memperkuat rasa saling percaya. “Kebersamaan di lapangan jauh lebih bermakna. Dengan adanya kegiatan ini juga kita dapat memasyarakatkan olah raga,” katanya.

Lintasan 5K dan 10K dilalui peserta umum. Sementara Pangdam bersama tamu undangan menempuh jalan sehat sejauh 2,5 kilometer. Tidak ada yang dibedakan. Semua bergerak. Semua terlibat.

Brawijaya Run 2025 tidak hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Ia adalah peristiwa kebersamaan. Ruang di mana olahraga dimasyarakatkan dan masyarakat digerakkan untuk hidup sehat.

Di lintasan yang sama, TNI dan rakyat berjalan seiring membangun tubuh yang kuat, solidaritas yang rapat, serta kepedulian yang melampaui seremoni. Dari Surabaya, pesan itu mengalir jelas: kebugaran, kemanusiaan, dan kemanunggalan harus terus dijaga dan dijalani bersama. (*)