JAKARTA, Suarakata.id – Senja baru saja turun di Puri Ardhya Garini. Lampu-lampu menyala lembut. Tamu berdatangan dengan langkah tenang. Udara terasa hangat oleh sapaan dan senyum. Malam itu, 8 Februari 2026, resepsi pernikahan Lettu Inf Tri Mualiful Amri, S.Tr. (Han) dengan Fakhriya Putri Brilly Putri digelar.

Di pintu masuk, barisan prajurit berdiri rapi. Pedang pora terangkat serempak. Bukan sekadar seremoni. Ada disiplin. Ada kehormatan. Ada doa yang ikut mengalir di sela-sela gerakan.

Setiap langkah terasa terukur. Setiap ayunan pedang seakan menjadi pagar simbolik bagi dua insan yang melangkah menuju hidup baru.

Fakhriya Putri Brilly Putri berjalan di sisi pasangannya. Ia adalah putri dari Kolonel Ctp Abrico Saeko Pona dan Ibu Hadizah Sari Dewi. Di wajahnya tampak tenang. Senyumnya tipis, namun mantap. Di sampingnya, Lettu Inf Tri Mualiful Amri, S.Tr. (Han), putra dari almarhum Bapak Siddik dan Ibu Murni, melangkah dengan sikap tegap. Sorot matanya jernih. Seolah ia paham betul makna langkah yang sedang diambil.

Pedang pora itu bukan hanya tradisi militer. Ia menjadi lorong sunyi yang penuh makna. Di bawah lengkung pedang, pasangan pengantin melintas perlahan.

Tamu terdiam sejenak. Beberapa menunduk. Ada rasa khidmat yang sulit dijelaskan. Bukan riuh. Bukan gegap gempita. Hanya hening yang hangat.

Resepsi ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Irjen TNI Bin, Wadan Kodiklat TNI AD, para Deputi Bin, serta pejabat TNI lainnya.

Kehadiran mereka menambah wibawa suasana, namun tidak menggeser inti acara: kebahagiaan dua keluarga yang dipertemukan.

Seorang perwira yang turut berdiri dalam barisan pedang pora berbisik pelan, “pedang ini bukan untuk menakuti, tapi untuk menghormati. hari ini kami menghormati langkah awal mereka.” Kalimat singkat itu terasa pas menggambarkan suasana malam itu.

Di antara kilau seragam dan gaun pengantin, tampak doa-doa kecil yang tak terucap. Doa orang tua. Doa sahabat. Doa rekan sejawat. Semuanya menyatu dalam hening yang penuh makna.

Menjelang acara berlanjut, suasana kembali cair oleh obrolan tamu. Namun jejak khidmat pedang pora masih terasa tertinggal. Seakan malam itu meninggalkan pesan sederhana: pernikahan bukan hanya perayaan, tetapi juga komitmen yang dijaga dengan hormat.

“semoga langkah pertama ini selalu diiringi langkah-langkah berikutnya yang lebih kuat,” ujar ayah putri, “bukan hanya kuat di depan orang banyak, tapi juga kuat saat hanya berdua.” ucapnya.

Menurutnya hari ini Ia melepas putrinya dengan ikhlas. Bukan kehilangan, tapi menambah satu keluarga. “Jaga satu sama lain, dalam senang maupun lelah,” ungkapnya.

Kolonel Abrico berpesan, kepada putrinya agar membangun rumah tangga dengan sabar. “Jaga caramu bicara saat lelah. rawat hormat saat berbeda. Ayah bangga melihatmu berani memulai. melangkahlah pelan, tapi searah. ayah dan ibu selalu ada, di belakangmu.” pesanya. (*)