MADURA, Suarakata.id – Suara musik Saronen melengking, diiringi joged para pengiring sapi sambil berjalan pelan menuju garis start. Mereka mengawal jagoan masing-masing yang akan berpacu di partai final sore itu. Ya, enam pasang sapi kerapan telah terpilih memasuki babak final setelah dari pagi mereka beradu cepat menyingkirkan lawan masing-masing.

Alunan musik Saronen memanggil orang-orang untuk kembali berkumpul. Kalau di babak penyisihan, pasangan sapi beradu cepat antar dua pasang sapi. Maka di babak final, tiga pasang sapi akan berlomba untuk menentukan siapa tercepat, runner up dan juara ketiga.

Final ini dibagi dua katagori; bagian menang yaitu pasangan sapi yg tidak pernah kalah selama babak penyisihan dan bagian kalah yang berisi pasangan yang mengalami kekalahan di awal lomba (consolation).

Inilah aturan tradisional kerapan sapi, sehingga diindentikkan bahwa orang Madura itu memang tidak pernah mau kalah, yang kalahpun masih bisa jadi pemenang. Adapun Kerapana Sapi adalah tradisi turun temurun masyarakat Masura. Tradisi tua yang tak pernah benar-benar menua.

Sabtu dan Minggu, 13-14 Desember 2025, di Lapangan Kerapan Sapi, Giling, Sumenep. Kerapan Sapi Piala Kapolres Cup dalam rangka HUT DRT Team, berlangsung meriah penuh keakraban. Tak ada jarak. Anak-anak berlarian, pedagang asyik berjualan, orang tua bercakap pelan, dan sapi-sapi berlari kencang di lintasan sesekali diiringi lengkingan musik Saronen. Semua terasa sederhana. Semua terasa menyatu dalam sebuah suasana yang magis, kerapan sapi khas Madura.

Di tengah suasana itu, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. berdiri menyimak. Matanya mengikuti laju sapi. Wajahnya tenang. Sesekali tersenyum. “Inilah suasana masa kecil yang selalu saya rindukan,” ujarnya lirih. Kerapan sapi, alunan seronen, dan kehangatan orang-orang. Baginya, itu bukan tontonan. Itulah kenangan.

“Inilah yang disebut kampung halaman sesungguhnya. Madura. a place where your heart belongs,” ucapnya.

Kerapan hari pertama, Sabtu diperuntukkan bagi pasangan sapi yang dianggap sudah matang, sehingga disebut “Kerapan Besar” atau Perang Bintang. Biasanya 48 pasangan sapi tampil berlomba, namun hari itu antusiasme pengerap sapi sangat besar.

Ada 64 pasang sapi yang mendaftar sehingga 20 pasang sapi yang tersisa tampil dalam format Galatama. Deru lintasan tak hanya menyisakan sorak, tetapi juga catatan juara.

Pada bagian menang; Tak Mau Dimadu 99 melesat menjadi Juara Pertama. Disusul Tembak Langsung di posisi kedua. Gagak Rimang 1 menutup podium ketiga.

Sementara di bagian kalah; Rampok Escobar tampil dominan dan meraih Juara Pertama. Jet Matic dan Supersonic di peringkat ketiga.

Dalam tradisi Kerapan Sapi, kemenangan memang menjadi tujuan para peserta. Namun bukan hanya kemenangan semata yang mereka cari, tetapi silaturahmi, kebersamaan, dan tekad untuk terus memelihara tradisi kerapan sapi untuk terus tumbuh dan lestari menjadi tekad mereka.

 

Karenanya, menang atau kalah, mereka tetap pulang dengan kepala tegak, sebab kerapan bukan semata soal menang, melainkan menjaga tradisi dan martabat.

Minggu, 14 Desember 2025 hari kedua kerapan sapi diperuntukkan bagi pasangan sapi yang masih tergolong “junior” biasa disebut “kelas ukuran”, berlomba 80 pasang sapi.

Ini merupakan rekor terbanyak peserta kerapan sapi di Sumenep selama ini. Hal ini menunjukkan sektor kerapan sapi sudah menggeliat kembali.

Pada lomba hari Minggu ini tercatat pemenang di dua kelas sebagai berikut:

Di bagian Menang:

-juara satu: Sijjil

-Juara dua: Tolato

-Juara tiga: Gagal Ribon

Di bagian kalah:

-juara 1: Komando Junior

-juara 2: Cabe Rawet

-juara 3: Ngutap nampeleng

 

Nama-nama pasangan sapi pemenang dari kelas perang bintang dan kelas ukuran itu kini tercatat sebagai bagian dari sejarah HUT DRT Team, yang diharapkan akan terus berulang di tahun yang akan datang.

Mayor Jenderal TNI Farid Makruf, kini mengemban amanat sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas. Jabatan dan tugas negara membawanya ke banyak tempat. Namun Madura selalu menjadi titik kembali. Sebab darahnya di sini. Akarnya di sini.

Sebagai putra asli Tanah Merah, Bangkalan, Madura, ia tak pernah memutus tali dengan tanah kelahirannya. Ia tak pernah melewatkan momen di arena kerapan sapi. Ia datang menyaksikan, merasakan, dan ikut menjaga tradisi.

Menurutnya, tradisi bukan benda museum. Ia hidup jika terus dihidupi.

Kerapan sapi adalah identitas. Bukan hanya sekadar lomba adu cepat, melainkan ruang perjumpaan. Di sana nilai-nilai diwariskan tanpa pidato panjang: kebersamaan, sportivitas, dan rasa memiliki. Budaya bekerja dalam diam, tetapi membentuk karakter.

Pesan Farid sederhana. Jangan pernah melupakan budayamu. Di Madura, pesan itu terasa nyata. Di antara debu, seronen, dan derap sapi yang berlari, kampung halaman kembali  berbicara. Pelan, hangat, dan selalu memanggil pulang. (*)