AMBON,Suarakata.id — Bagaimana cara membuat sebuah kota tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika orang-orangnya telah pergi jauh? Bagi Dwi Prihandini, salah satu caranya adalah melalui kata-kata.

Direktur Clerry Cleffy Institute (CCI) itu menggagas Lomba Cipta Puisi dalam rangka memperingati HUT ke-451 Kota Ambon Tahun 2026, dengan mengangkat tema “Ambon dalam Kata dan Cinta”.

Lomba tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk mencari penyair terbaik.

Dwi ingin membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat dan menceritakan Ambon dari sudut pandang yang lebih personal tentang lautnya, negerinya, orang-orangnya, makanan, tradisi, kenangan, kehilangan hingga harapan yang masih tumbuh.

Bagi Dwi, Ambon tidak cukup hanya digambarkan melalui nama tempat atau ikon kota. Ambon harus bisa dirasakan.

Karena itu, dalam proses penjurian, karya peserta tidak hanya dinilai dari keindahan bahasa. Dewan juri mempertimbangkan kesesuaian tema, orisinalitas gagasan, kedalaman penghayatan terhadap Ambon dan masyarakatnya, pilihan diksi, kekuatan imaji dan metafora, musikalitas, hingga daya emosional sebuah puisi.

“Puisi yang kuat bukan hanya puisi yang indah. Ia harus mampu membawa pembaca masuk ke dalam pengalaman yang ditulis penyair,” menjadi salah satu prinsip yang tercermin dalam proses penjurian yang dilakukan Dwi bersama dewan juri.

Dari karya-karya yang masuk, akhirnya terpilih tiga puisi sebagai pemenang.

Juara I diraih Marianna Claartje Nussy melalui puisi “Senja di Kaki Gunung Sirimau”. Puisi ini dinilai berhasil menghadirkan Ambon melalui sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aroma kopi, sagu bakar, ikan asar, colo-colo, papeda, kuah ikan kuning, pohon pala, cengkeh, sageru, suara tifa dan jukulele hingga Gunung Sirimau membuat Ambon terasa seperti sebuah rumah yang hidup.

Penggunaan bahasa Melayu Ambon seperti beta, seng, bataria, biking, dan dapa lia juga mengalir secara alami. Bahasa lokal tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi menjadi suara yang memperkuat identitas penyair.

Kekuatan emosional puisi semakin terasa pada bagian penutup:

Angin malam

bawa kabar

Banyak rindu

yang seng sampe

Bagi dewan juri, penggalan tersebut menjadi semacam simpul dari keseluruhan puisi. Rindu tidak hanya berbicara tentang seseorang, tetapi juga tentang rumah, keluarga, kampung halaman, bahkan sesuatu yang mungkin telah hilang.

 

Juara II diraih Narapetra melalui “Membaca Ambon Dalam Diri Seseorang”. Berbeda dengan karya juara pertama, puisi ini membawa Ambon masuk lebih jauh ke dalam tubuh, ingatan, sejarah dan pengalaman batin manusia.

Ambon tidak lagi sekadar menjadi ruang geografis, tetapi menjadi identitas yang diwariskan melalui suara, bahasa, budaya dan ingatan.

Gagasan bahwa Ambon harus terus hidup dalam generasi menjadi salah satu kekuatan puisi ini. Karya tersebut juga memperkaya narasi dengan simbol budaya seperti batu pamali, kapata dan ungkapan tradisional.

Sementara itu, Juara III diraih Aletheia Chr. Pattiasina melalui “Ambon After Rain”.

Puisi ini menawarkan pendekatan yang lebih kontemporer. Ambon hadir melalui hujan, cinta, kehilangan, keterasingan dan kepulangan.

Kota tidak digambarkan melalui daftar ikon, tetapi melalui hubungan emosional seseorang dengan tempat yang pernah dicintainya. Di sinilah puisi tersebut mengajak pembaca memahami bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama.

Ketiga karya tersebut memperlihatkan bagaimana satu kota dapat memiliki begitu banyak wajah.

Ada Ambon yang hadir melalui aroma makanan dan suara musik di rumah. Ada Ambon yang tinggal di tubuh dan ingatan manusia. Ada pula Ambon yang hadir melalui hujan, kehilangan dan kerinduan untuk pulang.

Bagi Dwi Prihandini, keberagaman itu justru menjadi kekayaan. Lomba ini pada akhirnya bukan semata-mata tentang siapa yang membawa pulang hadiah. Lebih dari itu, menjadi upaya untuk mengajak masyarakat menuliskan kembali Ambon dari pengalaman mereka sendiri.

Sebab sebuah kota bukan hanya jalan, bangunan dan batas wilayah. Kota adalah rumah bagi kenangan, bahasa, budaya, manusia dan cerita. Dan ketika semua itu ditulis dalam puisi, Ambon tidak hanya dikenang tetapi terus dihidupkan melalui kata dan cinta. (*)