Oleh: Gunadi Karjono M.Com, Perintis Usaha dan Alumni PPNK-208 Lemhanas 2024
Ada sesuatu yang berbeda setiap kali saya berdiri di bawah Sang Merah Putih. Saat bendera itu berkibar di Istana Negara, ada getaran batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sebagai seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, saya memilih untuk tidak menekankan identitas etnis saya. Saya hanya ingin dikenal sederhana: saya adalah WNI, bagian dari bangsa Indonesia.
Rasa haru selalu muncul ketika melihat Merah Putih naik perlahan diiringi lagu kebangsaan. Ada kebanggaan, ada penghargaan, sekaligus pengakuan bahwa bangsa ini menerima semua anaknya tanpa memandang latar belakang.
Di situlah kekuatan nasionalisme terasa nyata sebuah rasa memiliki yang membuat kita percaya bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua.
Bagi saya, nasionalisme bukan hanya kata-kata indah atau seremoni tahunan. Ia hidup dalam keseharian, dalam profesi yang kita jalani dengan jujur, dalam pengabdian yang kita lakukan dengan tulus, hingga dalam kesiapan kita bila suatu saat negara membutuhkan.
“Nasionalisme adalah tindakan, bukan sekadar simbol”
Saya menyimpan satu harapan pribadi. Suatu hari bisa kembali ke Istana bersama keluarga inti, merayakan Hari Kemerdekaan. Bukan sekadar menghadiri acara kenegaraan, tetapi menghadirkan teladan bagi anak-anak saya.
Saya ingin mereka melihat langsung bahwa menjadi WNI berarti siap berbakti, sekaligus merasakan bahwa negara ini pun menghargai setiap pengabdian warganya.
Nasionalisme, pada akhirnya, adalah jembatan antara individu dengan bangsanya. Selama kita masih mengibarkan Merah Putih dengan bangga, menjaga persatuan, dan bekerja dengan ikhlas untuk negeri ini, Indonesia akan tetap tegak berdiri di hadapan dunia.
Dirgahayu ke-80 Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bersatu berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia maju.


Tinggalkan Balasan