Oleh: Gunadi Karjono 

Pagi itu sederhana. Sebuah pesan masuk dari ibu. Singkat, tapi penuh makna. “Anakmu shio apa?” Saya tahu, ini bukan sekadar tanya. Ada niat baik di baliknya. Ada doa yang sedang disusun diam-diam. “Shio Monyet dan Shio Tikus,” jawab saya.

Benar saja. Ibu ingin melakukan Fang Shen. Tradisi lama. Sunyi, tapi hidup. Dilakukan turun-temurun oleh umat Buddha, Tao, dan Khonghucu. Sebuah laku welas asih: melepaskan makhluk hidup dari kurungan kembali ke habitatnya.

Bukan sekadar tindakan fisik. Tapi juga harapan. Doa. Dan keyakinan akan karma baik. Saya tidak bertanya lebih jauh. Untuk apa Fang Shen itu dilakukan. Karena saya percaya doa seorang ibu tidak pernah salah arah.

Namun, saya mulai bertanya hal lain. “Ikannya apa, Bu?” Pertanyaan sederhana. Tapi hari ini, itu penting. Di tengah maraknya konten penangkapan ikan invasif di sungai-sungai, kita tak lagi bisa melepas tanpa berpikir.

Niat baik, jika salah cara, bisa berubah jadi masalah. “Ikan nila hitam,” jawab ibu.

Saya terdiam sejenak. Lalu pelan, saya ajak ibu berbincang. Tentang Fang Shen. Tentang makna. Dan tentang ekologi. Saya katakan, Fang Shen bukan soal mahal atau tidaknya hewan yang dilepas. Bukan soal nilai simbolik semata. Tapi soal keselarasan. Saya menyarankan ikan-ikan lokal. Endemik.

Yang memang lahir dan tumbuh di perairan kita. Seperti ikan kaviat. Atau ikan wader.

“Kalau wader bagaimana?” tanya ibu.“Bagus, Bu.”

Karena Fang Shen seharusnya tidak merusak. Tidak menciptakan ketidakseimbangan baru. Ada yang perlu dihindari. Ikan sapu-sapu. Lele. Nila. Mujair.

Apalagi predator dari luar negeri. Karena alam punya ritmenya sendiri. Dan kita sering lupa…Bahwa kebaikan yang tidak bijak bisa melukai.

Sebelum percakapan berakhir, saya teringat satu kisah. Tentang seorang biksuni dari Taiwan. Ia berkata, Fang Shen sejati bukan tentang melepas hewan. Tapi melepas sesuatu yang lebih sulit. Diri kita sendiri.

Melepas dengki. Melepas iri hati. Melepas luka yang kita simpan terlalu lama. Itulah Fang Shen yang paling berat. Dan paling jujur. Karena melepaskan burung dari sangkar itu mudah.

Tapi melepaskan dendam dari hati itu perjuangan. Bagi saya, di situlah makna Fang Shen yang sesungguhnya. “Ini bukan sekadar ritual. Tapi transformasi. Melepas kepahitan. Meninggalkan masa lalu. Bangkit dari keterpurukan.

Menjadi manusia baru. Dengan energi baru. Yang lebih ringan. Lebih bersih” Dan ketika hati kita berubah hidup pun ikut bergerak.

Saya pribadi tetap melakukan pelepasliaran. Tapi dengan cara berbeda. Saya ingin ekosistem hidup. Bersuara. Bernafas. Saya pernah melepas burung-burung kecil yang dijual di pinggir jalan. Tekukur. Perkutut. Juga tokek dan jangkrik.

Karena saya rindu…suara mereka saat senja tiba. Sebuah orkestra alami. Yang tak bisa digantikan notifikasi ponsel.

Saya juga memilih ikan lokal. Yang memang milik sungai itu. Bukan pendatang. Karena menjaga alam adalah bentuk ibadah paling nyata.

Dalam keyakinan Sanawi, Nabi Sulaiman pernah mengingatkan: “Lepaskanlah dirimu dari perangkap itu seperti burung atau kijang melepaskan diri dari pemburu.” Sebuah seruan untuk sadar. Untuk berani lepas. Dari jerat dosa. Dari kelalaian.

Dari diri kita yang lama. Lalu kini, pertanyaannya sederhana. Bagaimana kita memaknai Fang Shen?

Sekadar membuang sial? Atau mengejar berkah? Sekadar tradisi? Atau kesadaran? Atau mungkin…ini saatnya kita naik satu tingkat. Menjadikan Fang Shen sebagai gerakan. Gerakan merawat bumi.

Mengembalikan keseimbangan. Menata ulang lingkungan. Menanam. Membersihkan. Menjaga. Bukan hanya melepas.Tapi juga merawat. Karena dunia ini tidak butuh lebih banyak simbol.

Dunia butuh aksi nyata. Dan mungkin…Fang Shen yang paling indah adalah saat kita tidak hanya membebaskan makhluk lain. Tapi juga membebaskan diri kita sendiri. Ayolah….