Oleh: Gunadi Karjono

JAKARTA, Suarakata.id – Perayaan HUT TNI ke-80 di Monumen Nasional, Minggu (5/10/2025), benar-benar menghadirkan sebuah pesta rakyat. Ribuan orang tumpah ruah di kawasan Monas. Antusiasme masyarakat tak terbendung. Dari wajah-wajah penuh semangat, dari teriakan kagum yang menggema, hingga tepuk tangan panjang yang tak henti-hentinya menyambut atraksi demi atraksi yang digelar.

Saya merasa beruntung mendapat undangan hadir di sana. Tahun lalu saya juga ikut, namun kali ini terasa berbeda. Jauh lebih ramai, jauh lebih hidup. Bahkan saya katakan: lebih spektakuler. Begitu ramai, sampai-sampai untuk pulang pun menjadi tantangan tersendiri.

Tahun lalu saya sempat kesulitan mencari mobil jemputan karena macet total. Kali ini, suasananya lebih padat. Setelah acara usai, ribuan masyarakat menanti kepulangan Presiden terpilih, Pak Prabowo Subianto. Jalanan ditutup. Panas matahari makin menyengat. Taxi tidak terlihat sama sekali. Dalam kondisi buntu itu, seorang pengemudi ojek mendekat dan menawarkan jasanya.

Awalnya saya ragu. Bagaimana mungkin pulang ke arah Tangerang naik ojek dengan dua anak laki-laki saya? Namun entah apa yang membuat saya akhirnya mengiyakan. Perjalanan panjang dari Monas menuju Karang Tengah pun dimulai dengan cerita sederhana namun membekas.

Sepanjang perjalanan, sang pengemudi ojek bercerita dengan penuh semangat. Ia tidak henti-hentinya mengekspresikan rasa cintanya pada TNI. “Pak, kami rakyat ini ikhlas TNI digaji lebih besar daripada wakil rakyat. Karena tentara itu yang selalu terdepan menjaga NKRI. Wakil rakyat ada yang hanya bisa menari-nari, ada yang ikut kisruh. Tapi TNI tidak pernah lari dari tanggung jawab,” ujarnya sambil menyalip kendaraan lain.

Ia bahkan berkisah bahwa beberapa hari terakhir, saat ia mangkal di sekitar Monas, banyak keluarga TNI yang menjadi penumpangnya. Mereka bolak-balik karena anak-anak mereka ikut latihan persiapan HUT TNI. Ada kebanggaan tersendiri baginya, bisa ikut mengantarkan keluarga para prajurit.

Kata-katanya sederhana tapi menyentuh. “Rakyat cinta TNI, Pak. Kami tidak butuh nasi kotak atau iming-iming. Kami hanya ingin TNI sejahtera. Karena kami tahu, TNI-lah yang akan selalu terdepan mempertahankan NKRI.”

Saya terdiam mendengarnya. Ada rasa haru bercampur bangga. Rakyat sederhana, pengemudi ojek, bisa begitu tulus menyampaikan cintanya kepada TNI.

Maka, izinkan saya menuliskan dari hati: Selamat Dirgahayu ke-80 untuk Tentara Nasional Indonesia. TNI semakin dicintai rakyat, semakin kuat, dan semoga Indonesia semakin sejahtera.

Saya teringat satu kalimat dari Pak Prabowo Subianto yang pernah beliau ucapkan di masa sulit tahun 1998, “Kita tidak akan pernah menyerah, kita tidak akan tunduk kepada tekanan dan permainan dari pihak manapun. Dalam keadaan sulit, hanya yang kuat dan berani yang akan tampil.”

Hari ini, saya melihat kalimat itu hidup. Hidup dalam semangat para prajurit. Hidup dalam hati rakyat. (*)

Hormat, Salut, Bangga.

Gunadi Karjono

Mitra Kerja TNI

PPNK 208 Lemhannas RI 2024